Tampilkan postingan dengan label Pernik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Januari 2009

Dwi tunggal..???

(Dalam suatu percakapan telp…)
Me : hallo..
Fulan : hallo juga
Me : assalamualaikum..
Fulan : waalaikum salam..
Me : Ditarakan sejak kapan?
Fulan : Sore nie barusan datang, mampirlah ke hotel habis magrib…
Me : Siip…. Bendahara pasti bisa jalan donk malam nie…….
Fulan : he,,he,,, salah bro, bendahara ketinggalan di kantor bro, dan emang banyak uangnya tuh, Kalo aku lagi di Hotel dan uangnya gak banyak he,he,,…
Me : Gitukah ya,,,
okelah.. ntar aku ke sana habis magrib……..
Klik.. (telpon di tutup dengan lupa mengucapkan salam… maklum pulsa saat itu masih mahal banget)
Pembicaraan sederhana di telpon tersebut sebenarnya bisa aja dilupakan begitu saja. Namun ketika kami bertemu beberapa jam kemudian ternyata pembahasan itu menjalar kemana – mana. Sebagai manusia kita sering tidak bisa memilah dan menempatkan sesuatu pada tempat yang pas, seperti halnya saya ketika memulai percakapan tentang bendahara, maka dalam imajinasi kita adalah seseorang yang punya kewenangan untuk menggunakan uang dan tentu saja uang tersebut punya alur pertanggung jawaban yang jelas. Namun kita selalu berfikir pragmatis bahwa bendahara banyak uang. Sehingga dengan tegas sang teman mengatakan perbedaan yang jelas antara bendahara yang dia sandang dengan dia yang saat ini lagi nongkrong berdua bukanlah bendahara. Bila dia sedang menjalankan/ mengelola uang yang ada dengan kapasitas dia sebagai bendahara dia merupakan bendahara dan apabila dia lagi diluar kepasitasnya diluar kantor maka dia adalah dia “si fulan” selayaknya manusia biasa yang butuh makan, minum dan teman ngumpul (ceramah itu juga kudapat dari dia kala itu he,he,,)
Sebuah pelajaran yang berharga bagi saya dan panutan yang lumayan untuk dicontoh bagi orang – orang seperti dia (pantes dia gak kaya – kaya ya hahahahhahahaha). Dimana bisa menempatkan sesuatu pada tempat yang jelas dan memberikan porsi yang tepat akan kasus tersebut. Sehingga sampai saat inipun masih tetap dipercaya untuk menjalankan amanah yang tergolong berat bagi orang – orang yang jujur dan tentunya mengasikkan bagi orang – orang yang ….. ( males ngomongnya)
Dalam hal – hal lain kita sering mengatakan anak Bupati ini, anak bupati itu, menantu presiden atau besan presiden. Bila kita runut dengan pembicaraan kecil diatas maka kata – kata yang menurut kita simple tersebut mengandung makna yang salah. Bagaimana mungkin Bupati memiliki anak? Karena bupati merupakan jabatan bagi kepala daerah. Maka yang tepat mungkin saja adalah “si Fulan merupakan anak si Tolan yang sekarang sedang menduduki jabatan dimana amanahnya sebagai Bupati di kabupaten A. (Ribet dan panjang banget ya he,,he,, ) Dalam konteks lain kita boleh berbangga diri dengan pencitraan yang ditorehkan oleh pemimpin bangsa kita saat ini. Yang mungkin saja sejak jaman peradaban nenek moyang raja – raja majapahit atau sebelumnya tak pernah terjadi. Dimana besan sendiri bisa diperiksa akan kasus yang dia hadapi. Beliau sang pemimpin bangsa saat ini (jangan juga di bilang pendukung/ apa gitu lho ya.. cuman menempatkan pada posisi yang tepat/ Proporsional, lagian saat ini beliau memang amir kita di Indonesia) Beliau sang Presiden mampu mengejawantahkan posisi Presiden sebagai Lembaga negara bukan sebagai manusia yang butuh makan dan minum. Karena bagaimana mungkin presiden memiliki besan. Yang memilki besan adalah SBY yang kebetulan kala saat ini menjabat sebagai Lembaga Tinggi negara yakni presiden. Sehingga sebagai manusia yang hidup di ranah hukum tentunya “tidak tak tersentuh hukum”
Saya jadi teringat (namanya ingat gak seratus persen terekam ya) tentang kisah Umar Bin Khatab dengan anaknya Abdullah bin Umar. Suatu ketika anaknya membuat suatu perniagaan yang menguntungkan dan hal itu sah – sah saja karena adanya ijabkabul (syarat sahnya perjanjian kan jelas… Causa yang halal, Hal – hal tertentu, sepakat ) dan disepakati kedua belah pihak. Namun umar dengan tegas membatalkan perjanjian perniagaan tersebut karena di khawatirkan karena adanya nama Khalifah Umar sebagai ayah dari Abdullah bin umar. Atau bagaimana khalifah sebuah lampu harus dimatikan karena bukan merupakan urusan negara.
(Bandingkan dengan saya. Wooooi… hahahahhahahahahaha gak bisa bro… Chating aja fasilitas negara, download lagu, browsing dan lain – lain, dan lain – lain masiiiiiiiih banyak lagi…. Alamaaaak……) Apa kata Dunia…!!!



Rabu, 17 Desember 2008

Keringat


Barisan tiang – tiang kayu ulin itu berdiri tegak menghijau di kelilingi rambatan lada, ada yg terlihat rimbun bergerombol dan ada yang agak kurus dan kekuning – kuningan dimakan usia dari rambatan pohon lada itu sendiri. Mutiara merah manikam menghiasi setiap tonggak kayu ulin yang dijalari rambatan lada – lada, warna merah menyala tersebut tak lain merupakan buah lada yang siap dipetik. Sebuah keindahan alam desa yang tak memberikan ketengangan urat leher kita yang harus seharian berkutat didepan komputer, atau kekusutan rambut yang sering teracak – acak memikirkan beda angka – angka yang kadang terselip di barisan jalur – jalur microsoft excell. Sinar mentari pagi menyinari setiap helai daun yang menghijau. Seperti harus menaiki anak tangga secara perlahan sang mentari yang semula lembut di pagi itu kini mulai mencengkram lewat sengatannya yang hangat dan panas seiring dengan undakan anak tangga hayalan yang di lewati mentari menjelang siang.Seorang lelaki paruh baya tengah sibuk dengan ayunan cangkul berukuran sedang, dengan posisi sedikit jongkok dia terlihat menikmati pekerjaan itu, walau punggung tanpa baju tersebut legam mengkilat disengat mentari siang. Keringat tak henti – hentinya mengucur mencoba melawan sengatan mentari. Setiap ayunan cangkul tersebut memberikan irama yang serasi ketika harus beradu dengan tanah yang berumput tersebut. Tak terasa pengamatanku selama ini telah habiskan 3 batang rokok malboro, waktu berjalan lima belas menit ketika aku melamun menikmati keindahan yang kini jarang sekali aku lihat dengan nyata, sebuah fenomena kehidupan alam desa yang entah mungkin sepuluh tahun lalu aku tinggalkan. Ayunan cangkul lelaki paruh baya tersebut belum juga berhenti diantara rimbunan dan tonggak – tonggak lada, walau panas mentari semakin menyengat dan terik.
Fikiranku tertuju pada sosok orang yang kini ada di hadapanku ini, sosok yang sedari tadi kuamati dengan lamunan dan fikiran yang sedikit kagum dan salut, walaupun usiaku dan dia terpaut cukup jauh, namun cangkul yang sempat kupegang selama dua puluh limaan menit telah kulempar melayang sejauh lima meter ke belakang dengan teriakan dan ketawa kelelahan disambut ketawa pula oleh lelaki paruh baya tersebut. Telapak Tanganku juga telah mulai berair dan terasa perih.
Itulah sekelumit kisah kecilku waktu itu di bulan oktober, ketika dengan sok semangatnya aku ikut membersihkan kebun milik orang tuaku. Semangat pertama ketika masih pagi berangkat kekebun lada itu sangatlah tinggi (koyok iyo-iyone kalo org jawa bilang) namun ketika tangan udah mulai perih dan matahari sangat terik, semangat menjadi melempem dan lenyap menguap bersama keringat yang baru menetes beberapa kali. Apakah sosok separuh baya itu tidak merasa capek seperti aku? Tentu saja dia juga capek seperti halnya diriku, namun sebagai lelaki upahan tentu rasa capek tersebut seolah – olah menguap bersama panasnya mentari siang, atau berbayang dengan canda ketiga anak gadisnya yang masih remaja dirumah, atau mungkin rasa capek itu lenyap bersama banyang – bayang sang istri sedang menunggu uang lima puluh ribu yang dapat dia terima dari hasil jerih payahnya hari ini dibawah terik sinar mentari membersihkan rumput dibawah pohon lada milik kebun bapakku.
Masih terngingat jelas pembicaraan aku dengan bapak dua hari lalu, ketika kami sedang beristirahat di gubuk lima ratus meter dari tempatku bekerja hari ini, ketika sedang menikmati buah pepaya yang dipetik langsung dari pohonnya dan menikmati rokok serta tangan membolak – balik bara api yang sedang membakar jagung. Permbicaraan kumulai ketika kutanyakan apakah lek “fulan” itu gak capekkah pak? Tanyaku kepada bapak karena lek “Fulan”beberapa kali kuteriaki untuk beristirahat menikmati buah pepaya ranum yang baru kupetik dan ngisis (istilah merokok dikebun) namun hanya melemparkan senyum lalu melirik melihat ke arah mentari yang belum terlalu tinggi. Rupanya dia melihat posisi matahari untuk menetukan apakah telah waktunya istirahat atau belum. Sebuah aturan tak tertulis bagi mereka orang – orang upahan dikampung kami yang baru aku mengerti saat itu. Bahwa instirahat pertama adalah sekitar setengah sepuluh dan kemudian menjelang dzuhur baru beranjak istirahat kedua untuk makan siang. Sebuah aturan tak tertulis yang dipatuhi dan menjadi patokan hampir semua orang yang ada di dusun ini.
“Itulah namanya kerja .. wan” kata bapakku menimpali, keringat merakalah yang dibayar, kalo mereka gak berkeringat otomatis mereka juga dapat bayaran, kata bapakku menimpali lagi. Seandainya keringat mereka jadi tolak ukur kamu dalam bekerja maka kamu akan selalu jujur”, kata – kata bapakku meluncur begitu saja kearahku. Coba bayangin, seandainya engkau punya kesempatan untuk menilepkan uang kantor semisal seratus ribu, maka engkau telah meminum keringat seperti lek “fulan” tersebut selama 2 hari dia bekerja. Bayangin kalo engkau mengambil sejuta, dua juta, atau sepuluh juta. Maka berapa hari engkau ambil keringat dia??? Kata bapakku lagi. Sebuah perumpamaan yang diberikan bapakku sungguh sungguh menyentuhku kala itu, sebuah perumpamaan yang keluar dari seorang yang cuman mengeyam pendidikan rendah dan tak pernah mengerti administrasi perkantoran. Karena sepanjang hidupnya tak pernah memegang komputer ataupun mungkin mesin tik. Yang dia tahu hanyalah berita – berita korupsi ratusan bahkan milyaran rupiah yang menggeramkan hatinya. Sebuah perumpaan yang indah.
Alaaah bapak ini macem – macem aja” kataku, emang aku siapa? Emang mau nilep uang siapa? He,,he,, aku menimpali dengan canda,lha kerja sebagai tukang ketik kok mau nilep uang sih.. “Bukan begitu” kata bapak melanjutkan, seandainya engkau kelak mempunyai kesempatan maka selalu kau ingat tolak ukur yang ada di depanmu saat ini, tolak ukur yang jelas dan nyata. Naaaaah itu dia yang salah dengan bapak” kataku dengan canda.. makanya bapak gak pernah kaya…. He,,he,,he,, (dengan ketawa terbahak – bahak) namun mengamini dengan serius, walau kadang membathin bahwa aku manusia biasa…



Sabtu, 27 September 2008

Komentar sebuah "koment"

Inisial Anda terlalu besar untuk dipadankan dengan upaya untuk hidup ini. Anda sudah selayaknya memaksimalkan karya Anda untuk menjadi seorang pejuang sejati. Sebuah acara kumpul tanpa memberi value pada perubahan yang lebih besar tidak pantas dilakonin seorang yang menyandang inisial sang pejuang. Jangan cemari nama pejuang bila Anda belum mampu menjadi pejuang. Pola hidup seorang pejuang senantiasa penuh keseriusan dan maksimalisasi umur optimal bukan sebaliknya...

Ini adalah salah satu komentar yang paling menarik yang kudapat dari seorang teman yang kebetulan mampir ke blog ini, setelah beliau (yang terhormat) membaca postingan yang berjudul Toleransi Eksteren yang kutulis, beliau membubuhkan sedikit tandamata sebagai apresiasi dari tulisan cakar ayam dan menurutnya gak berbobot itu..
“aah sang pejuang marah tuh di kritik,..!!! kata seorang temen yang kebetulan ikut meng aprove komentar yang ada)…
Nasehat yang menarik dan membuat aku berfikir lebih positif. Mungkin saja ini adalah kritikan pedas bagiku. Namun apakah aku harus marah? Tunggu dulu..!!! mungkin saja seorang teman yang bijaksana tadi tak bermaksud begitu, dia pasti ingin aku lebih dewasa dalam menyikapi hidup yang menurutnya mungkin saja inisial ini terlalu berat bagi diriku yang tentu saja belum dia kenal
“kalo dikenal mungkin dia lebih sadis lagi membubuhkan tanda matanya tuuh..”, celetuk teman satu ruanganku lagi dengan tertawa terbahak – bahak
Namun aku mencoba menyikapai tulisan itu dari secara bijak, mari kita kaji lebih dalam per kalimat :
(kurang kerjaan buat apa sih…. Ya sekedar klarifikasilah)

(Inisial Anda terlalu besar untuk dipadankan dengan upaya untuk hidup ini. Anda sudah selayaknya memaksimalkan karya Anda untuk menjadi seorang pejuang sejati.)

Ketika membaca kalimat pertama ini yang timbul amarah sebenarnya bukan saya, justru teman saya, dia dengan semangat berapi–api (kayak api obor Pertamina Balikpapan, seperti itulah he,,he,,) mengatakan
“wuuui sadis banget dia tulis itu bro”, “emang dia siapa”?
“Apa dia perfect banget gitu bisa nulis gitu” katanya.
“Lhaa kok tanya aku “ kataku malah tanya balik kepadanya,
“kenapa mesti kau yang marah sih” kataku dengan cemberut,
“ntar dulu kita lihat sisi positifnya donk, “kalimat itu sungguh rasional kok” kataku sok bijak banget (padahal geram juga nie he,,he,,)
“trus argumentmu gimana donk? Katanya,….
“memang bagi anda (saudaraku yang membubuhkan tanda mata itu) inisial itu terlalu besar dan gak sepadan. Namun apakah salah dengan sebuah nama atau inisial? Nama atau inisial terkadang adalah doa dan atau adalah sebuah keinginan. Seperti ketika nama anda adalah “sri Bintang” mungkinkah anda bisa menjadi bintang dalam arti sesungguhnya? Atau apakah anda harus selalu bisa jadi bintang kelas/bintang olahraga/bintang sinetron/bintang film? Tidak bukan? Nama juga merupakan suatu harapan akan keinginan.. semisal anaknya “jannah” apakah anaknya itu merupakan surga? Tidak bukan..!!! disini sang ayah mengharapkan anaknya bisa menjadi hal yang meneduhkan bagi orang-orang di sekitarnya atau mengharapkan kelak anaknya bisa masuk surga.jadi apakah salah jika inisial sang pejuang digunakan dalam iniSIAL namaku? Apakah aku harus izin? Gak lah…
“Lalu…, “untuk koment yang hidup harus maksimal itu pank”? Kata temenku selanjutnya.
Aku kemudian beragument bahwa “Apakah kemaksimalan karya itu sendiri? Tidak ada batasan yang jelas suatu karya itu dapat dikatakan maksimal, suatu ketika teori mengatakan bahwa bumi adalah pusat tata surya, hal ini merupakan karya besar yang pada jaman dulu yang tak dapat diganggu gugat, namun apa daya ilmu pengetahuan mengatakan hal yang lain , lalu apakah teori itu bukan suatu karya yang hebat walaupun sekarang dianggap ketinggalan jaman..!!! demikian pula secarik kertas yang hanya bertuliskan kata “ I love you” pun akan sangat bermakna bagi seorang gadis apabila hal ini ditulis oleh seorang pemuda yang sangat diidam-idamkan oleh seorang gadis…. Kata kata “mama” juga bisa menjadi kebahagian yang besar bagi seorang ibu untuk sesuatu yang istimewa dikarenakan anak nya seorang yang gagu. Jadi kita sangat salah jika langsung menjustifikasi seseorang dengan karya- karyanya. Bisa jadi bagi kita karya itu tak berarti namun bisa jadi karya itu sangat berarti untuk orang lain. Bagaimana karya anda bisa dihargai oleh orang lain apabila anda tak mampu menghargai karya orang lain.
Saya mencoba sedikit berkomentar kepada saudaraku yang kebetulan membubuhkan sedikit tanda matanya di blog ini dengan kata- kata diatas alhasil dia tak mengaprove tulisan saya. Mungkin argument saya membuat dia marah. Itu menandakan kekerdilan seorang yang konon ingin dibilang seorang yang berjiwa besar. Kita mau mengkritik namun jangan lupa kita juga mau di kritik…
“ee..eee kok jadi marah sih”? Kata temenku.. “berarti kau juga gak terima dikritik nie…” dia melanjutkan..
“gak begitu bro..,” terbawa perasaan aja he,,he,,”…!!! aku tertawa ngakak.

(Sebuah acara kumpul tanpa memberi value pada perubahan yang lebih besar tidak pantas dilakonin seorang yang menyandang inisial sang pejuang.)

Mari kita simak kata-kata diatas, sangat tegas dan mantap tanpa tedeng aling – aling memberikan aku pengajaran yang penting. Namun aku sekali lagi ingin mengajukan argument tentang apa yang dia katakan..
“Alaaaaah…!! Sudahlah bro, ngapain gitu aja di tanggepin, bikin kerjaan aja” kata temenku “mau lebaran nie, kerjaanmu masih numpuk tuh he,,he,,” dia kembali tertawa menertawakan kekeranjinganku akan nasehat diatas.
Kita (Sebagian besar kita kalo bisa dibilang) sering melihat sesuatu dengan cara yang global, semisal kita sering mendengungkan bahwa
“islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari islam”
ketika kita diminta tolong untuk berbuat baik kita lupa bahwa itulah yang dimaksud dengan ketinggian islam, dengan ajarannya untuk berbuat baik bagi individu- individu pemeluk Islam, bukan hanya milik para ulama dan kyai. Islam adalah sesuatu yang global, dan value yang besar dapat diraih apabila dari hal – hal kecil itu dilakukan.
Kita tak akan bisa membelah gunung dengan langsung menendangnya. Kita perlu cangkul, kita perlu eksavator atau kita perlu buruh yang rela berpabas-panas demi membelah gunung yang besar itu.
Perubahan besar justru dilakukan dari hal – hal yang kecil bukan..?? sebuah kota tak akan bisa bersih apabila masyarakatnya masih membuang sampah sembarangan. Namun dari orang- orang yang membuang sampah tepat waktu dan pada tempatnyalah biasanya sebuah kota akan bersih.

“ Jangan cemari nama pejuang bila Anda belum mampu menjadi pejuang. Pola hidup seorang pejuang senantiasa penuh keseriusan dan maksimalisasi umur optimal bukan sebaliknya...”

Untuk hal ini secara berbesar hati aku hanya mampu mengucapkan mohon maaf yang sebesar- besarnya apabila inisial ini mencemari sesuatu yang menurut anda sakral (sesakral pancasila dijaman soeharto kali) namun saya harap di akhir kalimat anda perkataan itu sungguh menyedihkan hati saya dengan justifikasi yang begitu tajam dan tanpa perasaan. Kenapa anda yang bijak dapat menjustifikasi saya dengan hidup yang penuh ketidak seriusan?
“Sersan… serius santai…. Aja lah….” Temenku menambahkan”!!!
“Murid hanya bisa belajar pada mahaguru”… kata temenku sambil menundukkan badan seorah memberi hormat layaknya film – film kungfu china ikut mengomentari pendapatku dan ngeloyor pergi keluar kantor…

Selasa, 23 September 2008

aku mendukung RUU APP...!!!

Ketika seorang teman menanyakan kepadaku mengenai komentar tentang RUU APP maka dengan tegas kukatakan aku mendukung dengan RUU tersebut. Dia balik bertanya “apakah aku suka dengan penampilan cewek – cewek seksi yang berkeliaran dijalan- jalan kota ini? Maka dengan tegas tanpa tedeng aling –aling kukakatan bahwa aku juga menikmatinya. Dia boleh saja mendikteku dengan kata- kata muna dll.. namun dalam debat itu tetap saja aku dapat memberikan argument yang mengalahkan dia bahwa dukunganku itu proporsional dan cukup beralasan..
Ketika ditanya kepada diriku adanya dua kelompok penentang dan pendukung RUU APP tersebut maka aku dalam kelompok mana? (lagi - lagi menurut pendapat dia tentang klasifiksasi tersebut yang menentang dan mendukung.. kelompok penentang biasanya adalah kelompok yang mencerminkan dirinya kelompok penjaga budaya dan kelompok agama (dalam hal ini orang – orang islam putihan)) mendukung sepenuhnya adanya RUU APP tersebut. Maka dengan tegas kukatakan tidak ada kelompok– kelompok seperti yang dia katakan, terlalu sempit kukatakan kalau aku terkotak – kotak dengan pemikiran sempit orang – orang yang konon berpandangan luas seperti dia. Bagaimana tidak..!!! siapa yang berfikiran tentang pengkotakan tersebut? Adakah penelitian secara ilmiah bahwa yang mendukung adalah kelompok agama ekstrim dan penentang adalah kelompok budaya? Aku jawab dengan tegas bahwa aku bukan kelompok keduanya dan dua kelompok tersebut tidak ada dalam pandanganku dalam masalah iniArgumentku adalah bahwa aku berfikiran pragmatis dan praktis namun bukan berarti aku menghalalkan segala cara untuk hidupku.
Boleh jadi aku suka melihat cewek – cewek dengan tubuh seksi, namun apakah aku muna bila kukatakan aku mendukung RUU APP tersebut? Jika kita secara manusia kebanyakan dari golongan yang sepertiku yang berfikiran (sok) pragmatis dan (sok) proporsional maka akan sangat wajar.. Jika ada, kenapa gak dilihat? Lha wong keliaran dijalan–jalan kok,. Trus kalo ada aturan yang membuat suatu sistem lebih baik kenapa tidak!!! Bukankah kita hidup punya tugas dan tujuan. Tugas kita adalah menciptakan dunia ini lebih nyaman dan tujuan kita adalah kenyaman itu sendiri. Trus kenapa kalo gitu ndukung RUU APP tersebut?? Kilahnya lagi dengan senyum sinis dan sedikit senyum kemenangan. Apa jawabku? Balik kutanya ke padanya…” kita buat pengandaian.. kataku . “ seandainya adikmu atau ibumu berkelakuan gak nggenah apakah engkau gak malu? Atau istrimu atau anakmu berpenampilan seronok apakah engkau akan membiarkannya atau akan menegurnya? Kataku lebih lanjut… dia hanya mesam – mesem gak mau mengakui kebenaran yang kukatakan. Orang barat yang konon menggagungkan kebebasanpun akan marah jika anaknya berbuat demikian.
Sebagai orang beradab entah itu orang timur atau orang barat (menurutku gak ada bedanya) kita punya norma kesopanan, apakah ada yang tau artinya kesopanan disini? Bukannya sok pinter atau keminter menurut penafsiran yang dangkal seperti pemikiranku ini, norma kesopanan adalah norma dimana kita bisa membedakan kepatutan, kepatutan disini adalah bisa membedakan waktu dan tempat secara jelas. Kita bisa telanjang namun telanjang itu sepatutnya adalah ketika kita sedang mandi (kontek yang jelas yang lain boleh difikirkan lebih jauh asal patut, sebagimana asas kesopanan ini he,,he,,) namun apabila kita telanjang di jalan umum tentu saja meresahkan bukan?? Dalam Norma kesusilaan pun kita bisa berfikir dengan hati nurani kita, apakah patut kita telanjang didepan umum? Tentu bagi orang yang berhati nurani (kalo tidak gila) akan merasa malu dengan mengumbar aurat kita dikhalayak umum, “tapi kalo orang barat yang berpenampilan seksi itu pank” katanya selanjutnya , bahkan ada yang bertelanjang segala seperti di pantai kuta dll.. apakah dia gak beradap.?? Dia balik menyerangku.. boleh jadi menurut orang barat itu tidak mengganggu orang lain, namun apakah anda tidak terganggu dengan penampilannya? Apakah anda dapat berlaku cuek bebek? Kalo sok cuek iya… lha wonk aku juga beberapa kali singgah ke Bali, mencoba mengamati kelakuan diriku dan orang – orang disekelilingku yang lagi – lagi kukatakan sok cuek bebek dengan tingkah polah mereka. Aku katakan padanya bahwa cobalah kita berfikiran positif, kita semenjak dulu setelah jaman reformasi selalu berfikiran untuk mengkritik, dengan mencari kelemahan – kelamahan orang lain, cobalah kita sejenak berfikir jernih bahwa bagaimana dengan diri kita? Apakah dengan kritikan yang kadang ngawur kita bisa terima? Dan dengan kritik itu seandainya ditujukan kepada orang lain apakah dia juga menerimanya apabila kita sendiri tidak menerima? Itu semua harus kita fikirkan.
Lahirnya RUU APP tersebut tentunya diatar belakangi oleh orang – orang yang berfikiran jernih (bukan orang yang berfikiran ngeres yang kadang sengaja diputar balikkan oleh orang – orang yang berfikiran (sok) seni dan embel – embel lain – lain yang ngawur dan gak mendasar) akan keadaan generasi muda kita yang kian vulgar dengan mengesampingkan nilai – nilai moral agama dan adat yang katanya adat ketimuran. Aturan tersebut tentunya jangan dimakan secara mentah dan bulat – bulat. Dalam ilmu hukum tentu saja tidak seperti itu. Kita tahu dalam ilmu hukum ada istilah penafsiran hukum. Dalam hukum tentu hakim akan berfikir dengan logika yang masuk akal. Tidak akan sama penafsiran hukum antara orang yang berkemben atau berkoteka dengan orang yang sengaja mengumbar auratnya. Apakah sama orang yang memegang pisau di dapur dengan orang yang memegang pisau di stasiun kereta api? Tentu saja kita punya akal dan logika yang jelas. Manusia diberi kelebihan bisa memilah dan memilih, kita tidak diberi pilihan putih dan hitam saja. Kita diberi banyak warna untuk memilih bukan? Kita pernah mendengar bahwa yang di takutkan manusia bukan bagaimana komputer dapat berfikir seperti manusia tapi yang ditakutkan adalah apabila manusia dapat berfikiran seperti komputer, dimana yang ada hanya “yes dan No” lalu dimana arti tafsir? Dimana abu – abu yang kadang merupakan jalan tengah? Disinilah kebanyakan orang beranggapan tentang RUU APP ini, dia tidak memberikan keluwesan dalam arti luas, dia hanya saklek menagtakan bahwa RUU APP mengangkangi budaya..!! lalu yang di kangkakangi budaya yang mana? Apakah budaya di larang disini? Mari kita telaah lagi, apakah budaya kemben disini di larang? Apakah berkoteka di larang disini? Tidak dalam penafsiran hukum tidak seperti itu. Lalu kenapa kita harus mengakui hukum adat disamping hukum positif yang ada? Bukankah hukum adat masih diakui di negeri ini? Apakah adat budaya di kangkangi ketika hukum positif di jalankan? Tentu tidak bukan…!!!
(Apabila kepastian hukum di kaitkan dengan keadilan, maka akan kerap kali tidak sejalan satu sama lain. Adapun hal ini di karenakan di suatu sisi tidak jarang kepastian hukum mengabaikan prinsip- prinsip keadilan dan sebaliknya tidak jarang pula keadilan mengabaikan prinsip-prinsip kepastian hukum.Kemudian apabila dalam prakteknya terjadi pertentangan antara kepastian hukum dan keadilan, maka keadilan lah yang harus diutamakan. Alasannya adalah bahwa keadilan pada umumnya lahir dari hati nurani pemberi keadilan sedangkan kepastian hukum lahir dari sesuatu yang konkrit) Yahya AZ Keadilan Hukum VS Kepastian Hukum
Disini dijelaskan bahwa memang timbulnya peraturan atau undang – undang adalah untuk menciptakan kepastian hukum, namun diatas segalanya hakekat dari sebuah hukum adalah untuk menciptakan keadilan sejati dari semua proses yang ada. Demikian juga dengan RUU APP timbul, untuk memberikan kepastian hukum bahwa ada orang – orang tertentu yang sengaja memanfaatkan pornografi dan pornoaksi untuk tujuan tertentu, disinilah fungsi hukum, untuk keadilan bagi kita semua.

Selasa, 05 Agustus 2008

Toleransi eksteren

Untuk melepas penat akibat rutinitas kantor yang terkadang terasa membosankan dan begitu monoton ada beberapa kegiatan yang sering kami lakukan buat melepaskan kejenuhan. Seperti membuat beberapa acara kumpul ditempat – tempat nongkrong di malam hari, acara bakar – bakar ikan dan lain sebagainya. Namun untuk malam selasa dan malam sabtu merupakan malam yang tak bisa diganggu gutat, kedua malam tersebut merupakan acara rutin yang menyenangkan untuk sekedar melepas keringat dengan bermain bulutangkis. Bukan keprofesionalan yang kami capai, “Just for fun” kata temen – temen semua. Sebagai sebuah perkumpulan kecil tak jarang untuk sekedar uji coba ketangguhan masing – masing tim. Biasanya kami mengundang tim –tim tetangga untuk unjuk kebolehan. Ibarat sebuat rumah tangga “tim kami” adalah sebuah keluarga yang siap bertandang manapun didatangi tamu dari tim manapun. Singkat cerita malam itu kami mengundang sebuah LSM lingkungan yang notobenenya ada beberapa orang bulenya… dalam permainan yang hanya menjalin silaturahmi, kami tidak berniat mencari siapa menang dan siapa kalah. Yang kami cari adalah keakraban dan kenal mengenal saja. Jadi masalah hitung menghitung point terkadang asal –asalan seingatnya wasit saja. Tanpa ada protes dari pemain yang lain. Tibalah saatnya permainan si Bule Belanda jangkung anggaplah si” Stephen cow” ikut menjajal permainan dengan kami – kami, tidak ada perbedaan yang mencolok selain kejangkungan dan memang beda rambut dan warna kulit. Pola permainan kami juga beda – beda tipis “sama-sama gak profesional” namun cerita jadi lain ketika si wasit beda hitungan dengan hitungan point dalam hatinya. Si bule jangkung dengan tegas mengatakan bahwa point yang dia dapat lebih tinggi dari hitungan wasit. (kalo ga salah waktu itu wasit menyebutkan 8/10, sedang si bule menyebutkan bahwa pointnya 9/10) Siwasit dengan cengengesan mengatakan benar point memang segitu. Namun si bule jangkung dengan omongan serius dan cenderung ingin marah mengatakan lain. Maka dengan segera semua forum penonton (ya kami2 juga) sepakat mengikuti kehendak bule… (aklamasi yang cepat karena toleransi dengan orang lain yang notobene different culture) Padahal bila saja yang mengotot adalah orang – orang kita sendiri, bisa jadi siwasit tetap ngotot bahwa point dia yang benar dan hitungan pemain salah. Hal itu bahkan bisa adu mulut jika permainan ini dibarengi dengan masalah taruhan yang sedikit ada angka nominalnya.

Lain cerita, “penulis” sebagai seorang bujangan yang gak betah dihari libur berada dirumah, maka dengan teman – teman yang biasa bersama membuat sebuah kesepakatan untuk membuat acara lain dari biasanya… menginap di Dalam hutan dengan segala perlengkapannya selama hari sabtu dan minggu. Namun ketika salah seorang teman yang beda agama mengatakan bahwa bagaimana kalo hari sabtu saja, karena hari minggu dia dan keluarga ada kebaktian dirumah. Maka dengan aklamasi tak menunggu hitungan menit kami semua menyetujuinya. Padahal dilain cerita sewaktu kami ingin pergi memancing dihari libur yang kebetulan merupakan perayaan isra miraj. Ada salah satu teman yang mengatakan ingin tak ikut memancing karena mau mendengarkan ceramah ustad diacara isra miraj. Maka kami ada yang mengerutu, dan tatap ngotot mengajak mancing dengan berbagai alasan seperti ceramah yang bisa didengar kapan saja, yang gak ramelah gak ada dia, orangnya kurang banyaklah dll..dll yang kadang mengelikan dan tak masuk akal…
Cerita yang lain lagi…. Memang sebagai sebuah rimbawan kita patut bersyukur, dengan seringnya berinteraksi dengan orang – orang luar. Seperti hari itu, pihak pemerintah jerman memberikan bantuan tenaga ahli untuk kemajuan pembangunan kehutanan didaerah kami. Maka untuk merencanakan program yang ada, kami harus rumuskan dalam sebuah workshop kecil yang dia pimpin dan dengan bantuanku untuk menuliskan rumusan yang telah dianggap final didepan acara meeting dipapan whiteboard. Ada kelebihan orang barat yang patut ditiru, yakni semangat menghargai apapun pendapat orang yang terkadang sangat menggelikan dan sedikit konyol. Mereka selalu menerima dan menghargai walau dengan bahasa Indonesia yang belepotan. Penulispun jadi tersadar dengan menghargai tersebut akhirnya mereka dihargai. Bagaimana dari hal yang kita anggap tak sesuai dan gak terlalu penting, pemikiran – pemikiran itu tetap mereka tampung dan tuangkan dipapan white board. Akupun dengan kemampuan yang ada mencoba merangkai pendapat – pendapat yang masuk walaupun terlihat nyeleneh dan menggelikan yang bisa saja hal itu gak perlu dituliskan. Sampailah kami pada suatu final rumusan masalah yang ingin dituangkan dalam program yang ingin dicapai ditiga tahun kedepan. Maka dengan rumusan bahasa indonesia, saya telah tuliskan sebisa mungkin dengan bahasa yang dianggap paling benar namun ada yang sangat tak berkenan dengan pemikirannya, bahwa kata “approve” dalam rumusan tersebut kurang mengena. Padahal telah kami jelaskan bahwa tak perlu memasukkan kata tersebut, kalimat yang ada telah mewakili dari kata “approve” tersebut. Namun dia tetap mengatakan bahwa legalitas kata tersebut tidak ada dan harus dimasukkan. Karena dalam kegiatan tersebut harus ada legalitas yang jelas. Alhasil kamipun mencoba merangkai kata- kata yang dirasa paling pas dengan keinginan si bule. Padahal jika dalam diskusi tersebut sesama orang – orang Indonesia, akan terjadi debat kusir yang berkepanjangan dengan mengunggulkan argument masing – masing tanpa ada yang mau mengalah kalo tidak karena habisnya waktu diskusi.
Itulah sekelumit contoh riil bahwa kita selalu bisa bertoleransi kepada orang diluar lingkungan kita, namun kita tidak bisa mengalah untuk sesuatu yangterkadang remeh didalam komunitas sendiri….

Sabtu, 01 Maret 2008

Airmata yang terserak telah kembali

Terima kasih Tuhan, engkau memang maha pengasih dan penyayang. Aku tahu engkau maha adil, penyayang dan semua asmaul husnamu yang agung, walau kadang aku merasa telah menelantarkanmu dalam kesendirianku. Telah lama kunantikan waktu saat ini, engkau telah mengembalikan airmata ibuku yang dulu sempat terserak dimasa kecilku. Airmata tulus seorang ibu. Pada hari ini air mata kami sempat tertumpah namun sebagai ungkapan bahagia atas kembalinya air mata ibuku dahulu. Tuhan aku benar - benar menangis, sungguh aku tidak dusta apakah mungkin juga engkau bisa kudustai?? tidaklah mungkin bukan..!!! Ternyata hatiku masih basah tuhan, tidaklah kering seperti yang aku bayangkan... semenjak kematian ibuku aku menjadi jiwa yang kering, keras bagaikan batu dan mungkin saja lebih keras dari batu. Kadang aku berfikir siapakah aku sehingga menjadi seperti ini. Namun engkau memberiku kebahagian yang tak terkira disaat engkau telah mengembalikan air mata ibuku yang terserak. Apakah ada yang salah dengan kembalinya airmata itu? Sekarang bukan saatnya untuk saling menyalahkan bukan tuhan?? Kini saatnya bangkit kembali dan sadar bahwa tidak ada kesia - siaan dari keterserakan bagian dari kehidupan itu sendiri. Engkau telah kembali air mata ibuku yang terserak Engkau benar - benar telah kembali. Biarlah tumpah semua airmata kebahagiaan itu menjadi satu untuk menandingi air mata ibuku dahulu. Tumpahlah lebih banyak untuk menantang air mata kesedihan yang dulu pernah terserak dari air mata ibu yang agung, dia telah kalah oleh waktu dan kini digantikan dengan air mata kebahagiaan yang lebih besar. Biarkan tumpah dan teruslah tumpah sehingga kita semua bisa berenang dan mengucapkan tantangan itu. Karena hanya itulah kita bisa membalas kesedihan yang telah terjadi. Hanya itulah yang mampu kita balaskan kepada semua ini. Hanya itulah dendam ini seolah - olah sirna. Airmata ibuku yang terserak.....!!! engkau telah kembali.

Senin, 17 Desember 2007

Word.....!!!

Kemaren kebetulan temen aku ngajakin di Bakso Bakar Arema,
Ternyata di dinding2 warung bakso yang mencoba menjadi kelas elite ini di tempel
(tepatnya digantungi kali ya..!!!)
beberapa kata mutiara yang sempat aku catat...

Nilai Hidup....
Nilai Hidup ini tidak dinilai dari mana anda berada saat ini, tapi dari mana anda berangkat

Marah....
Marah itu mudah....
Semua orang bisa marah, tapi..!!!
Marah pada saat yang pas, pada orang yang tepat dengan kadar yang sesuai?
tidak semua orang bisa.

Masalah...
Bila Masalah itu besar, maka kecilkanlah
Bila masalah itu kecil anggap tidak ada masalah...
Jika tidak ada masalah jangan cari - cari masalah...
Namun jangan pernah lari dari masalah.
Hadapilah

dan masih ada beberapa lagi namun gak sempat kecatat

Senin, 19 November 2007

dulu bau kencur skr bau anggur

Dulu sewaktu masih balita... dia cuman bisa merengek... "ma.. maem" ma.. kencing, beranjak sekolah esde paling - paling ma.. uang jajan pang... ma,,, masa bajuku belum dicucikan siih... semenjak esempe... ma.. uang jajan ditambah doonk... ma yang laen pake motor masa aku pake sepeda.. kan sekolahku jauh.. capek lagi... mana yang pake sepeda cuman itungan jari lagi..!!! sampai sekolah keringetan.. kan bau... gak enak ama temen2 (gak enak ama temenkah ama si itu tu.. paling - paling mama bilang gitu...) sewaktu smu.. pak.. kirimanku mana? kok telat sih? kan perlu beli buku ini, ada tugas itu, fotocopi ini, praktek itu... (lagi2 paling bapak cuman senyum lewat telp... cewek ini itunya gak kesebutkah?....) itulah kita dulu masa keciil.. asli masih bau kencur (omong2 istilah itu siapa yang buat ya? padahal baunnya kencur weeenakkk.. apalagi kalo dibuat trancam..org jawa bilang sih.. aku juga gak tau bahasa indonesianya) taunya ma.. pak.. minta ini .. minta itu, ngambek sana, ngambek situ.de el el..de el..el lah... gak pernak ngabayangkan orang tua ternyata gak gampang ngebesarin kita ( gampang kok...!!! buktinya aku sekarang udah besar..he,,he,, ndasmu petaaak)
sekarang....!!!
Rupanya nyadar juga kalo ternyata hidup itu gak segampang dan gak seindah masa kecil dulu...
makanya istilah yang aku pake ya itu... dulu bau kencur sekarang bau anggur...!!! (gak nyambung ya? ya.. sambungin sendiri aja,,...)