Wong cilik nang pilkada iku ibarate jembatan… nak wes di lewati yo wess… di tinggal no.
( Lek mat, Petani )
Orang kecil itu dalam pilkada ibarat jembatan, kalo sudah di lewati ya sudah… di tingggalkan.
Nak sek ono paket – paketan mending anak ku tak paketne wae.. lha sekolah karo paket podo wae.. mending anakku takkon kerjo trus engko melok paket … koyok kuwi (????/ kuwi sopo???) lha piye aku ngerti dewe sekolahe bareng aku mek esempe saiki ono titelle..
(Anonymous, keluhan di dalam angkot Balikpapan)
Kalo masih ada paket – paketan mending anakku ikut paket aja. Lha sekolah sama paket sama aja. Mending anakku ku suruh kerja terus ntar ikut kejar paket. Seperti dia (????/dia siapa???) lha bagaimana aku tahu sendiri sekolah sama – sama saya cuman smp kok sekarang ada titelnya.
Mangan titik akur…
Mangan akeh kudu leweh akur…
Urip adoh akur
Urip cedak mesti luweh akur
Matur suwun yo wes podo akur…
aku berucap
kenapa tak kau tunggu masa iddah?
lalu kau tersinggung oleh kebenaran yang salah tempat ku ucapkan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Senin, 13 April 2009
Minggu, 18 Mei 2008
No name?
Ada beberapa kawan yang sangat penasaran dengan sebuah nama dalam hal ini nama saya, dengan memberi beberapa kali koment namun dengan sengaja tak terpublish. karena sangat penasarannya mengatakan bahwa saya tak berani menampilkan nama saya adalah karena nama saya tidak komersil, ndeso, dan lain – lain....
Pendapat itu semua bisa benar, bisa juga salah.. secara umum saya juga kurang terlalu suka dengan penyebutan nama, bukan karena nama saya yang tak komersil atau ndeso... karena menurut pendapat saya pribadi yang tak pernah terlalu berorientasi masalah ekonomis atau non ekonomis tak ada sangkut pautnya antara nama dan kekomersilan. Bukan juga masalah ke ndesoan sebuah nama, namun dikarenakan watak saya secara personal yang lebih suka diam ketimbang berbicara, lebih suka nongkrong dengan tenang ditempat yang santai ketimbang dugem, atau lebih suka bermain gitar akustik ketimbang harus jingkrak – jingkrak musik rock.
Selayang pandang ke abad delapan belas atau abad tujuh belas selayaknya sebuah peradaban jaman dulu nama Bejo sastronegoro semisal sangat dihormati karena biasanya adalah seorang ningrat dijamannya. Namun jaman sekarang ada pergeseran dari budaya adat kebudaya nasional yang cenderung ke huruf “A” maka nama – nama yang dianggap keren menjadi A, semisal Nana Anastasia, rina aprilia dan lain – lain, dan nama – nama yang masih berbau lokal semisal juminten, tukiyem dianggapndeso.. bahkan yang semula bernama Purwo adikusumo bisa saja menjadi Purwa adikusuma itulah pergeseran pola pandang dan peradaban yang akan selalu berkembang atau bahkan akan mengalami kemunduran, jadi bukan suatu hal yang asing dan bias terjadi. Stigma itu bahkan terlalu kuat mengakar kepada kita sehingga kadang kita menjadi malu untuk menyebutkan siapa nama asli kita dengan jelas dan gamblang. “gak komersil., kampungan dll... sebuah penafikan yang sungguh tidak masuk akal. Nama pemberian itu (Khususnya pemberian orang Tua kita) adalah nama cinta yang akan selalau melekat. Cinta yang tulus dari orang tua yang dengan kerelan hati melahirkan dan merawat kita.
So.....!!! Sekedar klarifikasi tak ada maksud apapun untuk membuat perumpamaan dalam nama saya....
Pendapat itu semua bisa benar, bisa juga salah.. secara umum saya juga kurang terlalu suka dengan penyebutan nama, bukan karena nama saya yang tak komersil atau ndeso... karena menurut pendapat saya pribadi yang tak pernah terlalu berorientasi masalah ekonomis atau non ekonomis tak ada sangkut pautnya antara nama dan kekomersilan. Bukan juga masalah ke ndesoan sebuah nama, namun dikarenakan watak saya secara personal yang lebih suka diam ketimbang berbicara, lebih suka nongkrong dengan tenang ditempat yang santai ketimbang dugem, atau lebih suka bermain gitar akustik ketimbang harus jingkrak – jingkrak musik rock.
Selayang pandang ke abad delapan belas atau abad tujuh belas selayaknya sebuah peradaban jaman dulu nama Bejo sastronegoro semisal sangat dihormati karena biasanya adalah seorang ningrat dijamannya. Namun jaman sekarang ada pergeseran dari budaya adat kebudaya nasional yang cenderung ke huruf “A” maka nama – nama yang dianggap keren menjadi A, semisal Nana Anastasia, rina aprilia dan lain – lain, dan nama – nama yang masih berbau lokal semisal juminten, tukiyem dianggapndeso.. bahkan yang semula bernama Purwo adikusumo bisa saja menjadi Purwa adikusuma itulah pergeseran pola pandang dan peradaban yang akan selalu berkembang atau bahkan akan mengalami kemunduran, jadi bukan suatu hal yang asing dan bias terjadi. Stigma itu bahkan terlalu kuat mengakar kepada kita sehingga kadang kita menjadi malu untuk menyebutkan siapa nama asli kita dengan jelas dan gamblang. “gak komersil., kampungan dll... sebuah penafikan yang sungguh tidak masuk akal. Nama pemberian itu (Khususnya pemberian orang Tua kita) adalah nama cinta yang akan selalau melekat. Cinta yang tulus dari orang tua yang dengan kerelan hati melahirkan dan merawat kita.
So.....!!! Sekedar klarifikasi tak ada maksud apapun untuk membuat perumpamaan dalam nama saya....
Selasa, 22 April 2008
Ingkar....!!!
Panasnya gurun ini boleh saja dibayangkan dalam film – film laga atau dokumentasi – dokumentasi. Namun panasnya gurun pasir ini tak pernah aku alami dengan nyata dalam benak fikiranku yang sempit. Aku tahu cuman tahu bahwa digurun pasir itu teramat kering dan panas. Kehidupan melata yang ada adalah kadal , ular atau entah apapun itu yang kutahu konon cukup tahan dengan ganasnya udara gurun. Tapi siang ini aku terkapar tak berdaya.Tertelungkup menahan dahaga yang tak terperi. Muka kering kerontangku tertelungkup dalam pasir yang sangat panas. Untuk membalikkan badan menghadap kecongkakan mentaripun aku tak mampu. Kulitku yang sebelumnya kuning lansat sawo matang menjadi kering, terkelupas dan menghitam atau mungkin biru lebam. Kenapa aku bisa sampai disini batinku tanpa daya. Padahal malam tadi aku masih bercengkrama dengan botol – botol bir dan alunan music kafe yang menghentak – hentak. Ditemani penyanyi – penyanyi seksi yang memamerkan kemulusan dan keindahan paha, belahan ranum buah dada yang seolah – olah menantangku untuk kujamah dengan rakus dan bernafsu. Masih kuingat pula teman – teman yang setengah teller memangku seorang gadis dan bercengkrama seolah dunia hanya dia dan gadis dalam pangkuannya. Masih jelas pula tegukan – keras itu dengan hangat membasahi kerongkonganku di dalam ruangan yang dingin dan penuh asap rokok. Tak ada nama tuhan ataupun hantu disini. Semua nyata senyata kesenang – senangan kami menghumbar nafsu yang konon kata orang – orang berkotbah adalah nafsu setan. Entah sudah berapa juta uang yang tertarik dari kartu kredit kami secara bergantian seiring pindah – pindahnya kami dari satu kafe ke kafe lain, dari satu diskotek ke diskotek yang lain. Tak ada rasa sayang ataupun eman untuk berteguk – teguk minuman yang membuat fikiran melayang.
Padahal untuk sekedar melemparkan uang ribuan ke pengemis dipinggir jalanpun tak pernah kami lakukan. Semua bulsyeeet kata kami. Tak ada yang baik dalam hidup ini, kenapa pula kita harus berlaku baik. Tapi itu adalah kisah tadi malamku, siang ini aku tergolek disebuah gurun yang tak kukenal dan aku tak berdaya. Malaikat maut seperti sudah melayang – layang dalam pancaran mentari yang terik dan menyengat. Tak ada fatamorgana yang sering dialami oleh orang – orang yang pernah melihatnya dan yang sangat kuharapkan saat ini untuk mengobati kepayahanku yang terangat sangat. Tak ada kehidupan lain selain seonggok tubuh yang konon adalah “manusia” yaitu aku sendiri, semua yang kulirik adalah pasir, pasir, pasir dan pasir panas. Dan kehidupan yang tersisa itu sendiri juga sudah mulai redup kehilangan keperkasaannya dan kesombongannya. Bertolak belakang dengan kesombongan dan sok keperkasaan semalam diatas ranjang empuk laknat wanita penghibur itu. Kata tuhan yang tak pernah kuucapkan dalam kehidupanku yang kuanggap sempurna ini lamat – lamat keluar dengan sendirinya. Aku malu “tuhan”..!!! pada semua kesombonganku, aku malu mengeluh padamu pada siang yang terik ini, aku malu atas semua yang pernah kuhadapi selama masa hitam kehidupanku sebelum hari yang sangat berat ini. Namun aku tak tahan tuhanku. Aku tak mampu menaggung penderitaanku, janganlah kau bunuh aku siang ini, janganlah kau cabut seonggok daging bernyawa namun tak berdaya ini. Aku juga masih takut akan neraka yang kau ancamkan dan pernah kudengar dimasa kecilku tuhan “kataku merintih pilu sepilu – pilunya. Berilah aku kesempatan kedua untuk mengulangi kehidupanku kejalan yang benar, aku tahu semua yang kulalui salah. Bukankah tuhan yang kukenal adalah tuhan yang maha pengasih dan penyayang? Kasih dan sayang yang tak akan habis buat mahkluknya tuhan…!!! Berilah aku kasih sayang itu, berilah aku semua yang pernah kudengar itu. Kasih sayangmu yang telah lalu memang telah kusia – siakan dengan percuma namun untuk kesempatan kedua ini. Tak sedetikpun akan kulupakan keagungan dan kebenaranmu hingga akhir hayatku. Biarlah kesia – siaanku masa muda yang telah kulewati kukubur dalam – dalam sedalam palung terdalam yang pernah diukur manusia. Aku berjanji tuhan, bahkan aku berani bersumpah atas namamu. Aku memang manusia yang tak tahu malu, namun bukankah engkau lebih tahu sifat mahluk ciptaanmu ini ? ampuni aku tuhan, ampuni aku tuhan, ampuni aku tuhan,… lirihan – lirihan itu semakin pelan dan menghilang, air mata yang sedikit mengalir keluar dari mataku dengan cepat menguap diterpa angin dan teriknya mentari, dunia juga telah mulai gelap dalam penglihatanku, semakin pekat dan aku hilang hingga ….
Aku tersadar, suara guyuran air shower membangunkan tidur lelapku, rasa pening akibat minuman yang kutegak semalam masih terasa, desiran dingin AC hotel itu tak kurasakan, akibat hawa panas minuman keras yang masih bekerja dalam sel – sel tubuh. Ranjang empuk itu menjadi saksi bisu kebinatangan kami sebagai mahluk laknat yang tak berterimakasih akan karunia tuhan. Tanpa berpakaian kumelangkah mengikuti suara air mengalir, mengikuti irama nafsuku yang mulai naik kembali….
tiada janji, tiada rintihan dalam gurun, apalagi kata tuhan dalam kamus hidupku, semua mimpi mengerikan itu menguap bersama uap panas yang dihasilkan dari pancuran shower kamar mandi hotel ini….
Lagi –lagi manusia lupa akan janji terhadap tuhannya..
(renungan dimalam yang sunyi dihari jumat)
Tarakan, april 2008
Padahal untuk sekedar melemparkan uang ribuan ke pengemis dipinggir jalanpun tak pernah kami lakukan. Semua bulsyeeet kata kami. Tak ada yang baik dalam hidup ini, kenapa pula kita harus berlaku baik. Tapi itu adalah kisah tadi malamku, siang ini aku tergolek disebuah gurun yang tak kukenal dan aku tak berdaya. Malaikat maut seperti sudah melayang – layang dalam pancaran mentari yang terik dan menyengat. Tak ada fatamorgana yang sering dialami oleh orang – orang yang pernah melihatnya dan yang sangat kuharapkan saat ini untuk mengobati kepayahanku yang terangat sangat. Tak ada kehidupan lain selain seonggok tubuh yang konon adalah “manusia” yaitu aku sendiri, semua yang kulirik adalah pasir, pasir, pasir dan pasir panas. Dan kehidupan yang tersisa itu sendiri juga sudah mulai redup kehilangan keperkasaannya dan kesombongannya. Bertolak belakang dengan kesombongan dan sok keperkasaan semalam diatas ranjang empuk laknat wanita penghibur itu. Kata tuhan yang tak pernah kuucapkan dalam kehidupanku yang kuanggap sempurna ini lamat – lamat keluar dengan sendirinya. Aku malu “tuhan”..!!! pada semua kesombonganku, aku malu mengeluh padamu pada siang yang terik ini, aku malu atas semua yang pernah kuhadapi selama masa hitam kehidupanku sebelum hari yang sangat berat ini. Namun aku tak tahan tuhanku. Aku tak mampu menaggung penderitaanku, janganlah kau bunuh aku siang ini, janganlah kau cabut seonggok daging bernyawa namun tak berdaya ini. Aku juga masih takut akan neraka yang kau ancamkan dan pernah kudengar dimasa kecilku tuhan “kataku merintih pilu sepilu – pilunya. Berilah aku kesempatan kedua untuk mengulangi kehidupanku kejalan yang benar, aku tahu semua yang kulalui salah. Bukankah tuhan yang kukenal adalah tuhan yang maha pengasih dan penyayang? Kasih dan sayang yang tak akan habis buat mahkluknya tuhan…!!! Berilah aku kasih sayang itu, berilah aku semua yang pernah kudengar itu. Kasih sayangmu yang telah lalu memang telah kusia – siakan dengan percuma namun untuk kesempatan kedua ini. Tak sedetikpun akan kulupakan keagungan dan kebenaranmu hingga akhir hayatku. Biarlah kesia – siaanku masa muda yang telah kulewati kukubur dalam – dalam sedalam palung terdalam yang pernah diukur manusia. Aku berjanji tuhan, bahkan aku berani bersumpah atas namamu. Aku memang manusia yang tak tahu malu, namun bukankah engkau lebih tahu sifat mahluk ciptaanmu ini ? ampuni aku tuhan, ampuni aku tuhan, ampuni aku tuhan,… lirihan – lirihan itu semakin pelan dan menghilang, air mata yang sedikit mengalir keluar dari mataku dengan cepat menguap diterpa angin dan teriknya mentari, dunia juga telah mulai gelap dalam penglihatanku, semakin pekat dan aku hilang hingga ….
Aku tersadar, suara guyuran air shower membangunkan tidur lelapku, rasa pening akibat minuman yang kutegak semalam masih terasa, desiran dingin AC hotel itu tak kurasakan, akibat hawa panas minuman keras yang masih bekerja dalam sel – sel tubuh. Ranjang empuk itu menjadi saksi bisu kebinatangan kami sebagai mahluk laknat yang tak berterimakasih akan karunia tuhan. Tanpa berpakaian kumelangkah mengikuti suara air mengalir, mengikuti irama nafsuku yang mulai naik kembali….
tiada janji, tiada rintihan dalam gurun, apalagi kata tuhan dalam kamus hidupku, semua mimpi mengerikan itu menguap bersama uap panas yang dihasilkan dari pancuran shower kamar mandi hotel ini….
Lagi –lagi manusia lupa akan janji terhadap tuhannya..
(renungan dimalam yang sunyi dihari jumat)
Tarakan, april 2008
Langganan:
Postingan (Atom)