Udara Masihlah segar dan mentari belumlah terlalu menyengat ketika aku buka tas ransel yang terasa berat dan membuat pegal semua persendian pundak dan punggungku. Maklum hampir dua jam yang lalu tas yang mungkin saja berbobot hampir 25 kg nyangklong dengan paksa di pundakku dalam perjalanan ku selama hampir dua jam menyusuri pematang bukit menuju air terjun yang diceritakan kawanku galang. “Air terjun yang indah namun belum terlalu dikenal oleh orang banyak” katanya kepadaku waktu lalu, sehingga sabtu pagi ini aku mengajak dia dengan paksa untuk mencoba mencapai air terjun dimaksud.
Pukul 5 pagi setelah azan subuh berkumandang motor kami segera merayap menyusuri jalanan. Selama hampir satu jam setengah perjalanan, Motor itupun tak dapat kami teruskan karena memang tak ada akses jalan menuju kesana. Segera setelah menitipkan pada warga yang ada di pinggiran hutan kami lanjutkan dengan berjalan kaki. Itu pukul lima tadi. Kini setelah dua jam perjalanan kami berlum juga sampai ketempat tujuan.
“ masih jauhkah?” kataku pada galang dan umar,
galang hanya tersenyum simpul. “So… mungkin 3 jam lagilah kita sampai sana, sekitar jam 12 tepat jika kecepatan perjalanan kita stabil seperti sekarang” lanjutnya. “ namun aku kurang yakin dengan kelelahanmu kita bisa masih mengukur kecepatan jalan kita seperti tadi! Dia menambahkan.
“ yaaah paling tidak mungkin dengan istirahat dan makan dalam perjalanan, sekitar jam satu siang kita sampai..!! umar membuat kesimpulan.
Aku hanya tersenyum,” yaaah sebuah pengorbanan untuk mencari keindahan” kataku dengan kelakar kepada mereka berdua.
Benar saja setelah jalanan setapak yang berkelok – kelok dan terkadang harus menerobos semak plus tersangkut – sangkut dengan duri hutan yang hampir selalu senang dengan tas baju dan kulitku yang mulai memerah tersengat mentari yang telah beranjak siang, serta terkadang harus menyusuri aliran sungai yang selutut ditambah beban berat dan sepatu laras tentaraku yang berat akhirnya tepat pukul 13.30 kami sampai juga di air terjun ini.
Nafasku hampir dipastikan tinggal satu – satu ketika suara air tumpah mulai terdengar. Semua lelah dan penatku seakan hilang ketika aku benar – benar membenamkan diri di dinginnya air disekitar tumpahannya.
Setelah puas dengan berenag – renang kecil serta berfoto ria, kami bertiga segera naik kepermukaan. Segara Setelah menjemur pakaian basah dan mengganti pakain kering Tenda dum segera kami pasang. Jarak tenda dengan air terjun sekitar 50 meter, kami memang sepakat untuk bermalam didalam hutan ini. Kebiasaan lama camping yang telah lama aku tinggalkan ternyata cukup menghiburku. Kayu bakar untuk membuat perapian kami kumpulkan dari sekitarnya yang banyak berserakan dilantai hutan. Peralatan memasak khas kami dan kompor gas mie rebus telor rebus dan nasi putih sisa bekal tadi akhirnya terlahap juga disore yang sepi namun indah itu. Setelah semua siap dan peralatan camping diletakkan rapi dimasing – masing tenda, gitar yang dibela – belain dibawa oleh umar segara merajut dengan indah mengiringi sore menjelang malam.
“Sudah engkau taburi garamkah disekitar tenda tadi galang?” aku bertanya sedikit berteriak ketika aku mengambil handphoneku didalam tenda. Aku teringat kejadian ketika kami lupa menaburi garam disekitar tenda ada ular yang hampir saja menggigitku setahun lalu ketika kami sama – sama pergi berkemah.
“ oh yaa… belum, garam ada di dekat supermi kayaknya” galang menjawab, namun jawaban perintah tentu saja. Segera aku menuju tempat dimaksud dan menaburkan hampir dua bungkus garam kesekeliling tenda kami semua.
“Ooooi jangan banyak – banyak” Umar kaget dan berteriak melihatku membawa dua bungkus garam, “ tenang fren aku bawa tiga bungkus kok he,he,,” kataku. aku mengerti maksud fikirannya sehingga aku segera menjawab keluhannya.
Malam terus beranjak, suara gitar sudah digantikan suara MP3 player dari handponeku, lagu – lagu barat yang syahdu mengiringi diam kami setelah bernyanyi ria menghilangkan semua penat dan lelah. Serta menyegarkan fikiran yang sering berkecamuk dalam diri kami masing – masing.
Tiba – tiba setelah lama dalam diam galang membuka pembicaraan, “ emang apa sih yang engkau fikirkan mir?” tanyanya. Kami tau engkau dalam masalah, makanya kami rela tidak ambil lembur untuk menemanimu camping. Katanya melanjutkan.
“ gak ada apa – apa kok” kataku menjawab, toh kita sudah lama gak camping kan!! Kataku mengelak.
“Ya sudah kalau engkau tak mau cerita” katanya lagi. “ tapi kami tau engkau pasti dalam masalah. Namun yang pasti malam ini kita harus bahagia dengan reuni perkempingan kita lagi” kata galang mencoba melucu. Aku lagi – lagi hanya tersenyum dan mendesah “ yuuupz… tull “ kataku.
Kami bertiga memang telah lama berteman. Aku galang dan umar. Walaupun sekarang kami jarang bertemu karena kesibukanku dan kesibukan mereka. Paling banter dua minggu sekali kami baru bisa nongkrong bareng di cafĂ©. Tidak seperti setahun lalu ketika mereka masih pada menganggur dan hanya aku yang sudah bekerja. Mereka selalu standby di rumahku ketika menjelang sore aku pulang dari kerja. Namun kami seperti kata hati dalam bathin kami masing – masing walaupun tak ada yang memberitahukannya. Siapa yang lagi sedih, siapa yang lagi gembira ataupun ada apa dan bagaimana teman kami seperti sudah pada mengenal. Terlebih kami punya hobby yang sama. Jalan dihutan serta camping.
Memang aku sedang dalam masalah saat ini.Aku lagi bermasalah dengan kekasihku. Namun masalah itu adalah karena kepengecutanku, dan aku tak mau menceritakan kepengecutanku pada kedua karibku saat ini.
Yaaah sebuah kepengecutan atau pecundang atau apapun itu yang mungkin ada didalam fikiran ratna sibidadari pagiku. Kepengecutan itu muncul karena sebab yang jelas bahwa Ratna mengajak aku penyudahi masa pacaran ini menuju ke jenjang yang lebih serius yakni ke pertunangan. Sebuah kata – kata sakral yang aku coba halangi untuk tak terucap akhirnya terucap juga di bibir Bidadari pagiku itu. Bukannya aku tak mencintainya. Namun Bukankah Pernikahan sesuatu yang sulit dan berat? Kataku kepadanya. Apakah aku telah siap secara bathin dan lahir? Itu alasan – alasanku kepadanya.
“ aku belum siap ratna” jawabku pelan ketika dia terus memaksaku dengan jawaban. Aku belum siap untuk membina sebuah keluarga, aku belum siap menjadi seorang ayah, aku belum siap menjadi seorang kepala rumah tangga, aku belum siap mencoba ini aku belum siap. Yah belum siap dari alasan si pengecut “ lanjutku.
“ Bukankah pernikahan itu tidak hanya didasari cinta semata ratna. ? engkau pun tau itu. Pernikahan itu tidak hanya menyatukan kita, tapi lebih jauh menyatukan dua keluarga besar kita. Menyatukan semua perbedaan kita untuk bisa berjalan beriring. Apakah engkau yakin siap untuk itu? Kataku menanyakannya. Dia hanya mengangguk pasti dan menjadi sesuatu yang tak ingin aku lihat.
Aku sungguh iri dengan teman-temanku yang dengan enteng dan ringan menjalani sebuah komitmen. Tanpa memikirkan masak – masak akibat komitmen itu. Yaah memang tak bisa dipungkiri mereka sebagian besar bisa melewatinya dengan baik, namun tak sedikit pula yang harus mengarungi bahtera ruumah tangganya dengan pertengkaran – pertengkaran karena ketidak dewasaan masing – masing. Yang satu mengungguli ego yang lainnya. Karena memang mereka semua masih muda dan tak dengan letupan – letupan emosi yang tinggi.
“Bukan kah itu tanda kedewaan berfikir mas amir”? katanya menyakinkanku. “ mas sudah bisa membedakan mana yang hanya sekedar ego dan mana yang hati nurati. Mas juga bisa menjalani perbedaan – perbedaan untuk dapat berjalan beriringan. Dan mas juga tau banyaknya persamaan kita yang sering kita lalui akhir – akhir ini.” Cerocoh Ratna kembali mengkuliahiku dengan argument – argument yang pasti.
“Memang itu ratna, tapi itu bukankah juga hanya sebuah teori kata – kataku. Apakah engkau juga tak ingat ketika selama dua minggu aku pernah menghilang dari kehidupanmu? Bahkan nomor hapeku pun tak pernah aku aktifkan. Hanya untuk melampiaskan egoku naik gunung yang sering engkau khawatirkan? Bukankah engkau juga ingat pertengkaran – pertengkaran kita karena hal – hal sepele karena aku tak mau kalah dengan egoku?
“Aku ingat semua itu mas!!” Tapi mas juga tau bahwa sebuah hubungan itu perlu kepastian yang jelas. Sebuah hubungan tanpa kepastian apalah artinya. Bukankah mas lebih bisa menyelami perasaan gadis. Aku tau mas tau itu..!! ungkapnya sambil mulai sesenggukan.
“padahal aku tadi berharap tidak seperti ini, aku membayangkannya ada pancaran kebahagiaan ketika aku meminta ini kepada mas amir” Isaknya. Aku yakin dengan mas amir, Tapi kenapa justru mas amir ragu dengan dirinya sendiri” lanjutnya lagi. “ lalu harus sampai kapan aku menuggu?” sebuah statement keras dalam lirih isaknya kepadaku.
“beri aku waktu untuk berfikir ratna, tapi aku harap engkau jangan berfikir aku tak mencintaimu, aku hanya ragu dengan langkah kedepan kita. Karena setelah itu bukankah semua tanggung jawab jelas ada di pundakku?’” aku memberi alasan untuk menyudahi pembicaraan ini.
Itu sepenggal pembicaraan kami, antara aku dan ratna sepulang dari perjalanan kami dari menghadiri sebuah perkawinan kakaknya di rabu malam.
Itulah mengapa malam ini aku ada didalam kesunyian hutan dan ditemani dua kawan karibku serta deburan air terjun lima puluh meter dari tempat dudukku. Aku hanya terpekur menyaksikan riak – riak api yang mulai padam dan kedua temanku telah terlelap di dalam tendanya masing – masing. Aku menyesali ketololan dan ketidak dewasaanku akan suatu keputusan yang menurutku akan berakibat sangat penting dalam hidupku hingga akhir hayatku.
Aku mendesah dengan menyebut nama tuhan, agar aku diberi ketetapan hati. Karena aku yakin ketetapan hati juga merupakan sebuah petunjuk ilahi.
(fiksi)
Negeri diatas angin diawal juni dipenghujung senja nan sepi.
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 31 Mei 2009
Kamis, 28 Mei 2009
Jumpa
(Sebuah cerita )
Tidak biasanya nelpon?? Suara di ujung telpon terdengar dengar nada bercanda terdengar renyah dan tanpa ekspresi. Aku hanya tersenyum,lalu dengan diplomatis aku hanya mengatakan menanyakan kabar dirinya yang lama seolah – olah tertelan bumi. Sebenarnya ingin sekali ku mengatakan bahwa besok aku akan ke desa Narayan dalam rangka studi banding perkuliahan yang hampir aku rampungkan, namun informasi itu sengaja aku tahan untuk memberi unsur kejutan yang ada sehingga info itu aku tahan hingga aku benar –benar telah sampai di desa narayan yang lumayan jauh.
“Amir” itulah nama di ujung telpon yang tadi aku telpon dengan hanya seolah – olah say hello. Amir tak lain dan bukan adalah teman kecilku sewaktu aku dan dia masih tinggal satu kota dan dia belum pergi ke kampung baladewa mengikuti jejak sang ayah untuk mencari garis nasib yang memang telah digariskan oleh yang diatas. Desa baladewa merupakan persimpangan jalan menuju desa narayan. Sehingga mau tak mau apabila ingin ke desa narayan harus melewati desa baladewa yang sepi. Semenjak dia dan aku berpisah enam belas tahun yang lalu kami sangat jarang bertemu dan bertegur sapa walaupun hanya lewat telpon. Mungkin kesibukan kami masing – masing. Aku dengan kuliahku dan dia dengan pekerjaannya yang selalu menyita waktu dan aktifitas malamnya dengan teman – teman se gank nya yang terdengar di telingaku hingga di Kota aku tinggal dari dulu hingga sekarang saat kami masih bersama – sama.
Sebenarnya amir bukanlah siapa – siapa dalam hidupku sebelumnya kecuali sebatas teman masa kecil. Namun ketika pandangan dan tatapannya terhadapku terkadang terasa lain sedikit membuat diriku canggung dan sedikit gemetaran. Aku dapat menangkap maksud dari hati amir. Amir yang dulu aku kenal dan tak kan mungkin berubah.
Hari itu akhirnya tiba juga. Setelah perjalannya yang lumayan jauh dan melelahkan sampai juga aku di desa narayan. Desa baladewa dibelakangku hanya menyisakan bayangan kosong karena sengaja aku lalui sejenak. Setelah semua proses pencarian data dan lain – lain, ada waktu semalam aku dapat menginap didesa baladewa tempat dimana amir bekerja sebelum akhirnya aku kembali ke kota asalku.
Setelah semua data – data penelitian dan gambar – gambar yang diperlukan kuanggap selesai untuk laporanku. Aku akhirnya sampai juga di desa baladewa. Ada rasa tak sabar, canggung dan senap perasaan lain yang bingung aku ungkapkan. Sebuah perasaan yang entah datangnya darimana. Namun aku paksakan juga mengirim sebuah sms ringan “ aku sudah dipenginapan rama,jika sudah tak ada kerjaan dan ada waktu luang aku pengen diajak keliling – keliling denganmu” itulah bunyi smsku yang seolah – olah biasa saja dan tanpa ekspresi padahal dalam hatiku ada rasa dagdigdug memikirkan pertemuan kami ini. Pertemuan teman lama namun dikarenakan perasaan dia yang pernah tercurah sedikit membuat canggung dan tak enak hati.
Hal yang tak disangka selang sepuluh menit belum berlalu, belum sempat aku merebahkan penat ini dia telah ada didepanku dengan tampang khasnya nyengir tak simpatik dan badan tambunnya yang tak kunjung berkurang malah seakan bertambah – tambah saja. Aku juga nyegir.. namun nyengir gugup. Tanganku terasa dingin ketika aku bersalaman dengannya.dan tingkah pun agar lain dari biasanya dan diapun dapat kurasakan mengalami hal yang sama seperti diriku.
‘’-‘’
Handphoneku bergetar, memang akhir – akhir ini sering aku silent.. untuk menghindari pandangan – pandangan orang – orang di sekelilingku, karena hari – hari terakhir ini aku disibukkan dengan meeting pemutakhiran pembentukan pemekaran desa dilingkup kelurahan baladewa. Ketika sebuah nama muncul dilayar handphoneku aku tersenyum, dalam hatiku membathin “ tak biasanya risma menelponku!” dengan izin keluar sebentar dari forum aku telpon risma dengan kata – kata yang spontan namun salah
“tidak biasanya nelpon kataku dengan renyah dan tanpa ekspresi. Dia hanya tersenyum dan mengatakan ” nah loo, ditelpon salah gak ditelpon salahkan!!!” suara disana menyambut pertanyaan bodohku dengan renyah pula, “ gak kok hanya pengen nanya kabar saja, bagaimana kabarmu disana? Masih seperti dululah? Katanya melanjutkan. Yaaah beginilah masih seperti dulu dan tak berubah kataku menjawab pertanyaannya. Tak terasa lima menit berselang akhirnya aku sudahi pembicaraan lewat telpon karena telah lima menit aku meninggalkan forum rapat yang aku pimpin. Hingga 2 jam kemudian berakhir rapat juga yang melelahkan itu. Pukul 5 sore ini aku meninggalkan kantor yang hari – hari banyak kuhabiskan dengan segala urusan yang melelahkan. Akhirnya sampai juga aku di rumah kontrakan yang beberapa tahun ini aku tempati, setelah seringnya berpindah dari rumah satu kerumah yang lain, rumah terakhir ini terasa nyaman karena tak terlalu bising dan tidak juga terlalu jauh dengan pusat desa disamping berdekatan dengan kantor tempatku bekerja. Sambil berebahan di kasur aku teringat dengan pembicaraan klise antara aku dan risma dua jam yang lalu. Akhirnya aku mengambil beberapa kesimpulan dengan telponnya yang tak biasanya. Kesimpulan pertama adalah bahwa dia benar – benar kangen dengan diriku, kedua ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan namun dia segan untuk mengatakannya sehingga aku hanya mampu menebak – nebak saja apa kira – kira yang akan risma ungkapkan pada diriku. Lalu dengan lunglai aku raih hanphone di pojok ranjang sambil mengetikkan sebuah pesan pendek “ kasih kabar undangan meritkah?” titik dan tak ada koma. Namun tak pernah berbalas hingga esok hari.
Sumpah aku kaget ketika lagi – lagi sms masuk bukan dari teman – teman biasanya, namun kali ini dari risma yang semenjak kemarin tak jua membalas pesan pendekku. Isinya juga lumayan mengejutkanku “aku sudah dipenginapan rama,jika sudah tak ada kerjaan dan ada waktu luang aku pengen diajak keliling – keliling denganmu? Itu isi smsnya yang masih aku ingat. Tanpa pikir panjang segera aku jawab tunggu beberapa menit aku segera kesana.
Aku sambar handuk, aku sambar sabun dan lekas aku bersihkan badanku yang lelah dan lunglai setelah seharian didepan komputer . rasa segar segera setelah aku memakai baju dan sipa menuju penginapannya namun ada perasaan berdebar dihatiku. Ada rasa yang sulit untuk kuungkapkan tentang dia. Namun akupaksakan untuk terus maju dengan pacuan motor seiring pacuan jantungku. Belum genap 15 menit semenjak sms itu aku telah benar – benar ada didepannya. Didepan risma yang kelihatannya juga seperti diriku kurang mampu menguasai keadaan, sesuatu yang sangat ganjil bagi kami sebagai sebuah kawan lama. Sikapnya yang kikuk membuat aku sedikit lega ternyata perasan itu bukan hanya milikku sehingga aku segera mampu menguasai keadaan.
‘’-‘’
Jadi”?? Bagaimana dengan dirimu? Itu pertanyaan awal yang dia ajukan risma kepadaku, aku katakan dengan jujur ada seseorang disampingku semenjak peristiwa itu. Aku tak mau berbohong dan aku juga tak ingin dan diapun akhirnya mengaku ada seseorang disampingnya saat ini. Sesuatu yag terasa pahit namun sesuatu itu dapat aku terima. Toh siapa diriku saat ini, bukan sesuatu yang istimewa dan tak akan pernah menjadi sesuatu yang istimewa buat dia. Sehingga kami dapat melaluinya tanpa pertanyaan – pertanyaan selanjutnya yang justru akan saling tidak mengenakkan (atau justru hanya tidak mengenakkan diriku sendiri saja? entahlah)
Setelah berkeliling dengan suasana desaku yang permai malam akhirnya beranjak juga, risma yang tetap cantik dan anggun dimataku akhirnya kuantar pulang kepenginapannya. Dan aku pamitan pulang dan berjanji mengantarkannya ke stasiun esok harinya.
Dan aku hanya mengirim pesan pendek ketika lambaian tangannya tanda perpisahan ketika kereta apai mulai menjauh
“ engkau tetap akan menjadi sesuatu yang istimewa sampai kapanpun di hatiku walau mungkin tidak dihatimu, hati – hati di jalan ya? Bye2”
Hingga Fajar esok hari ternyata bayangan manis dan anggunnya baru bisa ku hapus dalam kepalaku.Setelah aku berucap dalam hati “mungkin kamu bukanlah cintaku” namun dengan getir untuk menghibur diri.
Baladewa diakhir mei yang sepi ditahun dua ribu sembilan
Tidak biasanya nelpon?? Suara di ujung telpon terdengar dengar nada bercanda terdengar renyah dan tanpa ekspresi. Aku hanya tersenyum,lalu dengan diplomatis aku hanya mengatakan menanyakan kabar dirinya yang lama seolah – olah tertelan bumi. Sebenarnya ingin sekali ku mengatakan bahwa besok aku akan ke desa Narayan dalam rangka studi banding perkuliahan yang hampir aku rampungkan, namun informasi itu sengaja aku tahan untuk memberi unsur kejutan yang ada sehingga info itu aku tahan hingga aku benar –benar telah sampai di desa narayan yang lumayan jauh.
“Amir” itulah nama di ujung telpon yang tadi aku telpon dengan hanya seolah – olah say hello. Amir tak lain dan bukan adalah teman kecilku sewaktu aku dan dia masih tinggal satu kota dan dia belum pergi ke kampung baladewa mengikuti jejak sang ayah untuk mencari garis nasib yang memang telah digariskan oleh yang diatas. Desa baladewa merupakan persimpangan jalan menuju desa narayan. Sehingga mau tak mau apabila ingin ke desa narayan harus melewati desa baladewa yang sepi. Semenjak dia dan aku berpisah enam belas tahun yang lalu kami sangat jarang bertemu dan bertegur sapa walaupun hanya lewat telpon. Mungkin kesibukan kami masing – masing. Aku dengan kuliahku dan dia dengan pekerjaannya yang selalu menyita waktu dan aktifitas malamnya dengan teman – teman se gank nya yang terdengar di telingaku hingga di Kota aku tinggal dari dulu hingga sekarang saat kami masih bersama – sama.
Sebenarnya amir bukanlah siapa – siapa dalam hidupku sebelumnya kecuali sebatas teman masa kecil. Namun ketika pandangan dan tatapannya terhadapku terkadang terasa lain sedikit membuat diriku canggung dan sedikit gemetaran. Aku dapat menangkap maksud dari hati amir. Amir yang dulu aku kenal dan tak kan mungkin berubah.
Hari itu akhirnya tiba juga. Setelah perjalannya yang lumayan jauh dan melelahkan sampai juga aku di desa narayan. Desa baladewa dibelakangku hanya menyisakan bayangan kosong karena sengaja aku lalui sejenak. Setelah semua proses pencarian data dan lain – lain, ada waktu semalam aku dapat menginap didesa baladewa tempat dimana amir bekerja sebelum akhirnya aku kembali ke kota asalku.
Setelah semua data – data penelitian dan gambar – gambar yang diperlukan kuanggap selesai untuk laporanku. Aku akhirnya sampai juga di desa baladewa. Ada rasa tak sabar, canggung dan senap perasaan lain yang bingung aku ungkapkan. Sebuah perasaan yang entah datangnya darimana. Namun aku paksakan juga mengirim sebuah sms ringan “ aku sudah dipenginapan rama,jika sudah tak ada kerjaan dan ada waktu luang aku pengen diajak keliling – keliling denganmu” itulah bunyi smsku yang seolah – olah biasa saja dan tanpa ekspresi padahal dalam hatiku ada rasa dagdigdug memikirkan pertemuan kami ini. Pertemuan teman lama namun dikarenakan perasaan dia yang pernah tercurah sedikit membuat canggung dan tak enak hati.
Hal yang tak disangka selang sepuluh menit belum berlalu, belum sempat aku merebahkan penat ini dia telah ada didepanku dengan tampang khasnya nyengir tak simpatik dan badan tambunnya yang tak kunjung berkurang malah seakan bertambah – tambah saja. Aku juga nyegir.. namun nyengir gugup. Tanganku terasa dingin ketika aku bersalaman dengannya.dan tingkah pun agar lain dari biasanya dan diapun dapat kurasakan mengalami hal yang sama seperti diriku.
‘’-‘’
Handphoneku bergetar, memang akhir – akhir ini sering aku silent.. untuk menghindari pandangan – pandangan orang – orang di sekelilingku, karena hari – hari terakhir ini aku disibukkan dengan meeting pemutakhiran pembentukan pemekaran desa dilingkup kelurahan baladewa. Ketika sebuah nama muncul dilayar handphoneku aku tersenyum, dalam hatiku membathin “ tak biasanya risma menelponku!” dengan izin keluar sebentar dari forum aku telpon risma dengan kata – kata yang spontan namun salah
“tidak biasanya nelpon kataku dengan renyah dan tanpa ekspresi. Dia hanya tersenyum dan mengatakan ” nah loo, ditelpon salah gak ditelpon salahkan!!!” suara disana menyambut pertanyaan bodohku dengan renyah pula, “ gak kok hanya pengen nanya kabar saja, bagaimana kabarmu disana? Masih seperti dululah? Katanya melanjutkan. Yaaah beginilah masih seperti dulu dan tak berubah kataku menjawab pertanyaannya. Tak terasa lima menit berselang akhirnya aku sudahi pembicaraan lewat telpon karena telah lima menit aku meninggalkan forum rapat yang aku pimpin. Hingga 2 jam kemudian berakhir rapat juga yang melelahkan itu. Pukul 5 sore ini aku meninggalkan kantor yang hari – hari banyak kuhabiskan dengan segala urusan yang melelahkan. Akhirnya sampai juga aku di rumah kontrakan yang beberapa tahun ini aku tempati, setelah seringnya berpindah dari rumah satu kerumah yang lain, rumah terakhir ini terasa nyaman karena tak terlalu bising dan tidak juga terlalu jauh dengan pusat desa disamping berdekatan dengan kantor tempatku bekerja. Sambil berebahan di kasur aku teringat dengan pembicaraan klise antara aku dan risma dua jam yang lalu. Akhirnya aku mengambil beberapa kesimpulan dengan telponnya yang tak biasanya. Kesimpulan pertama adalah bahwa dia benar – benar kangen dengan diriku, kedua ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan namun dia segan untuk mengatakannya sehingga aku hanya mampu menebak – nebak saja apa kira – kira yang akan risma ungkapkan pada diriku. Lalu dengan lunglai aku raih hanphone di pojok ranjang sambil mengetikkan sebuah pesan pendek “ kasih kabar undangan meritkah?” titik dan tak ada koma. Namun tak pernah berbalas hingga esok hari.
Sumpah aku kaget ketika lagi – lagi sms masuk bukan dari teman – teman biasanya, namun kali ini dari risma yang semenjak kemarin tak jua membalas pesan pendekku. Isinya juga lumayan mengejutkanku “aku sudah dipenginapan rama,jika sudah tak ada kerjaan dan ada waktu luang aku pengen diajak keliling – keliling denganmu? Itu isi smsnya yang masih aku ingat. Tanpa pikir panjang segera aku jawab tunggu beberapa menit aku segera kesana.
Aku sambar handuk, aku sambar sabun dan lekas aku bersihkan badanku yang lelah dan lunglai setelah seharian didepan komputer . rasa segar segera setelah aku memakai baju dan sipa menuju penginapannya namun ada perasaan berdebar dihatiku. Ada rasa yang sulit untuk kuungkapkan tentang dia. Namun akupaksakan untuk terus maju dengan pacuan motor seiring pacuan jantungku. Belum genap 15 menit semenjak sms itu aku telah benar – benar ada didepannya. Didepan risma yang kelihatannya juga seperti diriku kurang mampu menguasai keadaan, sesuatu yang sangat ganjil bagi kami sebagai sebuah kawan lama. Sikapnya yang kikuk membuat aku sedikit lega ternyata perasan itu bukan hanya milikku sehingga aku segera mampu menguasai keadaan.
‘’-‘’
Jadi”?? Bagaimana dengan dirimu? Itu pertanyaan awal yang dia ajukan risma kepadaku, aku katakan dengan jujur ada seseorang disampingku semenjak peristiwa itu. Aku tak mau berbohong dan aku juga tak ingin dan diapun akhirnya mengaku ada seseorang disampingnya saat ini. Sesuatu yag terasa pahit namun sesuatu itu dapat aku terima. Toh siapa diriku saat ini, bukan sesuatu yang istimewa dan tak akan pernah menjadi sesuatu yang istimewa buat dia. Sehingga kami dapat melaluinya tanpa pertanyaan – pertanyaan selanjutnya yang justru akan saling tidak mengenakkan (atau justru hanya tidak mengenakkan diriku sendiri saja? entahlah)
Setelah berkeliling dengan suasana desaku yang permai malam akhirnya beranjak juga, risma yang tetap cantik dan anggun dimataku akhirnya kuantar pulang kepenginapannya. Dan aku pamitan pulang dan berjanji mengantarkannya ke stasiun esok harinya.
Dan aku hanya mengirim pesan pendek ketika lambaian tangannya tanda perpisahan ketika kereta apai mulai menjauh
“ engkau tetap akan menjadi sesuatu yang istimewa sampai kapanpun di hatiku walau mungkin tidak dihatimu, hati – hati di jalan ya? Bye2”
Hingga Fajar esok hari ternyata bayangan manis dan anggunnya baru bisa ku hapus dalam kepalaku.Setelah aku berucap dalam hati “mungkin kamu bukanlah cintaku” namun dengan getir untuk menghibur diri.
Baladewa diakhir mei yang sepi ditahun dua ribu sembilan
Jumat, 21 November 2008
Resah...

Kenal? Emang kita gak saling kenal? Aaah ada – ada aja kamu tuh Maz...!!! dari dulu kan kita memang saling kenal!!! Emang mau mengenal yang bagaimana lagi? Dari A sampai Z gitu? Ya gak bisa donk...., kan aku punya privaci sendiri he,,he,,he, Lagian sih jauh di Riyadh sana, coba cari kerja di Indonesia aja ” Si Risma nyerocos menjawab satu pertanyaan anehku lewat sms yang dia kirimkan.Yaaaah memang pertanyaan aneh untuk sebuah ungkapan yang bisa dibilang bingung... bingung untuk mengatakan bagimana dan apa, bingung untuk memulai yang bagaimana dan bilamana, hal ini sungguh pertama dan mungkin yang paling mendebarkan dalam semua sesi hidupku. Bagaimana tidak, toh dia juga sudah lama banget aku kenal, tiga tahun boy, tiga tahun bersama semenjak masih kuliah. Mana lagi dia juga sudah empat tahun berjalannya waktu setelah aku meninggalkan kampus itu, tidak juga pudar dalam istilah pertelekomunikasian belum mis komunication alias masih sering hubungan walau kadang sekedar lewat sms, chating atau nelp ala kadarnya. Lalu apa juga yang membuatku bingung, apa yang membuatku salah tingkah dan apa juga yang membuatku harus mengatakan itu? Sampai saat inipun aku masih terkadang berfikir sendiri, kok bisa gitu ya.... apa ada yang salah dengan diriku? Apakah aku belum pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis? Toh aku telah malang melintang di Dunia, beberapa Negera Eropa Asia Timur sampai Amerika Juga Pernah aku singgahi dalam waktu cukup lama, sehingga Semua jawaban itu juga termentahkan oleh fikiran kacauku sendiri.
Aku rasa juga tidak ada yang salah dengan diriku, diri ini tetaplah diriku yang dulu, tidak mampu mengungkapkan apa yang sebenarnya ada dalam fikiranku namun selama ini akan kucoba melakukannya dengan perbuatan, lalu emang perbuatan apa juga yang telah aku lakukan? Toh aku juga tidak pernah berbuat apa – apa selain sebuah sms yang mengatakan atau boleh dibilang menanyakan apakah aku boleh mengenal? Lalu untuk pertanyaan tentang menjalin hubungan dengan lawan jenis itu juga beberapa kali aku lakukan bahkan dengan wanita yang berbeda budaya dan kewarganegaraan, namun semua perasaan itu berbeda dengan perasaan yang saat ini aku rasakan, aku benar – benar bingung. Mungkin juga karena dia telah lama menjadi temanku, sehingga hal itu menjadi sebab? ”Mungkin juga iya ya” bathinku menjawabnya. Lalu? Apa lagi? Entahlah..... semua jadi runyam dan tak ada ujung bersama angin malam dimalam dingin ini yang meracau terus mengiringi fikiran dangkalku .
Cerita ini dimulai ketika sebulan lalu ketika aku sengaja memudikkan diri ke kampung halaman, yang sebenarnya tak kurencanakan, Targetku lebaran ini sebenarnya adalah ingin sesekali menikmati hari raya di Negeri orang yang selama empat tahun ini aku tempati. Toh baru bulan kemarin diawal puasa ketika sepulang dari menemani Direktur Perusahaanku menghadiri sebuah acara dijakarta untuk jadi notulen plus jadi asisten pribadinya dengan alasan kesamaan budaya (orang Indonesia red), kusempatkan beberapa hari mampir kerumah orang tua di Purwodadi untuk sekedar melepas kangen. Namun rencana untuk berlebaran di Riyadh ini akhirnya kubatalkan, apa sebab? Tentu ada sebabnya yakni untuk sebuah misi yang boleh dibilang mision of Imposible. Ingin kebandung di sela-sela liburanku di Purwodadi...
Ketika dengan sengaja kuhampiri dia dengan dekat semua rencana itu buyar, lidahku terasa kelu, aku terasa seperti sebuah patung yang membisu, tak dapat berbuat apa –apa dan tak mampu mengungkapkan apapun juga. Semua sirna, semua hilang lenyap bersama awan dan awang –awang. Padahal telah aku putuskan semua pernik – pernik kehidupanku yang memberiku warna selama aku di Negeri Gurun ini, semua dengan terang telah aku putuskan dengan jelas bahwa semua kutinggalkan, semua yang aku gantungkan, semua yang aku ambangkan, semua yang aku tak pernah ikat terlalu kencang telah aku urai dengan sejelas – jelasnya untuk menggapai satu asa, menggapai satu harapan yang sungguh dahsyat, yakni ingin mendekati dirinya dengan serius, wanita dari bangsaku sendiri, negeri yang telah sembilan tahun kutinggalkan semenjak kuliahku di Tokyo hingga masa kerjaku di Riyadh saat ini. Aku ingin mendekatinya dengan ikatan yang kencang, sekencang –kencang ikatan yang mudah – mudahan hal itu tak akan pudar. Itulah harapan utamaku. Namun cerita semua jadi lain, semua arah berbelok karena diriku sendiri. Semua menjadi berantakan karena kekeluan lidahku, atau mungkin karena aku terlalu berfikir terlalu jauh dan panjang?
Setelah kegagalan rencana itu aku kembali ke Jakarta untuk beberapa hari, kota dimana tempat aku dilahirkan dan dibesarkan sebelum akhirnya aku harus pindah ke Purwodadi karena tuntutan ekonomi yang tak memungkinkan aku dan semua keluargaku untuk tinggal di kota Jakarta ini. Namun fikiranku tak pernah berpaling darinya, dikala sendiri di atas ranjang hotel yang kutempati, aku ketikkan sebuah sms pertanyaan yang kurakit seperti sebuah puisi. Sms itupun walaupun telah sekian lama terhapus dalam memori hapeku namun masih melekat dalam memori kepalaku yang makin penuh dan bergumpal ini. Demikian aku tulis sebuah sms.........
Aku ingin....
Aku ingin mengenalmu,
Bukan karena engkau dan aku sendiri,
Karena aku ingin mengenalmu dengan hati bukan dengan nafsu,
Aku ingin, aku mengenalmu
Dan aku ingin, engkau mengenalku...
Simpel banget bukan? Sesimple karakter yang kucantumkan dalam teks sms yang akhirnya dia jawab dengan sms pula seperti jawabannya diatas. Pada dasarnya aku ingin lebih mengenalnya bukan karena dia dan aku saat ini sendiri, aku tak ingin mengenalnya karena dia jadi pelarianku, dan aku juga tak ingin dia mengenalku sebagai pelariannya. Karena pada dasarnya sebuah perkenalan dengan tipikal yang seperti itu menurutku sangat tidak baik dan tidak cocok, aku ingin berjalan secara proses yang alamiah. Tanpa embel – embel alasan tersebut. Dan pada baris ketiga juga aku tekankan (Karena aku ingin mengenalmu dengan hati bukan dengan nafsu),disini bahwa aku tak ingin menjalin hubungan ini menjadi tercoreng karena adanya alasan nafsu, namun tak lebih karena alasan hati yang bersih dan murni. Sebagai sebuah insan yang ingin mencari jalan dengan keridhaan yang hakiki, dengan alasan tersebut akhirnya aku tekankan bahwa aku ingin sekali lagi mengenalnya dengan lebih baik dan dia dengan baik – baik mengenalku, (Aku ingin, aku mengenalmu Dan aku ingin, engkau mengenalku...) mengenal dalam hal ini semua keburukanku dan semua kebaikanku sebagi manusia biasa dan sangat biasa – biasa saja.
Dia....??? siapa sih dia? Dia namanya Risma!!!
Apa sih dan siapa sih Risma? Apakah dia hebat? Mungkin orang akan bertanya seperti itu ketika orang – orang dapat membaca fikiranku. Risma, dia adalah gadis Bandung anak Duta Besar Indonesia di Jepang kala itu. Karena mengikuti orang tuanya yang diplomat maka risma juga harus melanjutkan masa kuliahnya di Jepang dua semester dibawahku. Lalu apa kehebatan Risma? Menurutku tidak juga, karena dia adalah Risma yang gak sehebat Cat woman, atau super woman, dia juga tak sejago Xena dalam semua serial laganya. Dia Manusia (perempuan) kebanyakan juga pada umumnya. Yang menjalani hidup normal dan bermartabat karena tingkah lakunya walaupun lahir dari rahim dari seorang ibu yang berkecukupan di tengah masyarakat yang masih tergolong ekonomi rendah.
Setinggi apakah Si Risma ini? Mungkin pula pertanyaan ini patut ditanyakan orang yang lagi – lagi dapat membaca fikiran konyolku. Menurutku ketinggian dia juga gak setinggi bintang dilangit, gak setinggi artis holywood ataupun para artis. Ketinggiannya secara fisik bisa jadi iya, karena dalam sebuah kesempatan aku pernah mencoba berdiri sejajar sekedar ingin mengukur keposisian selama berjalan. Dia cukup tinggi secara fisik yang kadang membuat aku minder apakah aku cocok bila berjalan disampingnya. Namun semua itu kutepis, kerana semua itu bukankah ada yang mengatur. Siapa sih yang menyangka kalo dia akhirnya kelak menjadi lebih tinggi atau siapasih yang menyangka kalo seandainya akhirnya dia menjadi cebol, semua itu tentu ada sebab dan akibatnya selain karena faktor genetis.
Lalu apakah dia cantik? Tentu aku dapat mengatakan dengan kesungguhan bahwa dia memang cantik, dengan bodi proporsionalnya dan tinggi semampainya tidak ada yang tidak bilang kalo dia tidak tak cantik, semua pasti mengatakan hal tersebut. Namun kecantikannya menurutku bukan hanya dari segi fisik, (Untuk istilahku sendiri bagi wanita cantik yang seperti ini yakni, Cantik gak hanya fisik) secara fisik jelas Risma tentu cantik namun non fisiknyapun secara kasat mata juga apabila seseorang telah mengenalnya akan mengatakan dia memang cantik (inner beauty). Dengan semangat yang dia bangun, dengan ketahanan yang fisik dan psikis yang pernah dia hadapi, itu yang membuat aku semakin berfikir kecantikan dalamnya justru mengalahkan kecantikan luarnya. Dan semua itu justru yang terkadang mengecilkan hatiku dengan cercaan pertanyaan – pertanyaan aduan bathin.. “apakah aku cocok dengannya”? apakah aku tidak perlu berkaca kembali siapakah aku? Sehingga berani mendekatinya!!!? Secara fisik dan finansialpun aku sungguh payah.. Fisik yang pas–pasan dan finansial yang bermanajemen amburadul semakin melengkapi kebobrokan diriku.
Akhirnya aku hanya mampu menuangkan semua itu dengan bathin, karena memang untuk saat ini, saat dan kesempatan pertama ini entah aku menjadi terlalu bodoh, atau aku menjadi terlalu lemah untuk berbuat yang semestinya aku lakukan. Bukankah penembakan itu sebuah paket? Yakni sebuah paket kalo gak di terima ya di tolak..!!! Lalu mengapa aku harus bingung? Bukankah aku selalu sering mengumbar semangat ”aku bisa, karena itu jikalau tidak bisa!!! Maka itu bukan aku,...!!! lalu? Dimana semangat dan motto hidup yang dari dulu selalu kupegang itu? Hingga aku sekarang mampu keliling dunia? Dimana raibnya aku juga tak tahu ketika harus menghadapinya, haruskah aku kelak akan menyesal jikalau aku tak mencobanya? Bukankah seseorang pernah mengatakan bahwa semua orang pernah mengalami hal seperti ini, namun sangat sedikit orang yang mampu mengutarakannya dengan jelas. Aaah... aku cuman berharap kelak aku mampu dan aku tak menyesal walaupun apapun itu akhirnya menyenangkan ataupun menyakitkan....
Aku hanya bergumam dalam hati dengan rintihan...” Tuhan kenapa aku tak berani bertindak?
Malam semakin larut fikiranku juga semakin tak menentu bersama desiran AC dan selimut tebal hingga azan pagi berkumandang dan aku memulai aktifitas harianku kembali seperti biasa dengan kepala pusing karena kurang tidur.......
Jakarta, Januari 2nd 2019
Langganan:
Postingan (Atom)