Minggu, 11 Januari 2009

Bukan Karena.......

Saya Pernah menonton sebuah film tentang perdagangan Berlian Konflik di Sierre Leone, Dimana darah, airmata, wanita dan anak–anak banyak menjadi korban. Dan yang lebih tragis adalah banyaknya tentara pemberontak (RUF) yang masih berusia belia. Alkisah seorang jurnalis muda nan cantik mencoba mengorek data tentang keadaan disana. Selain mencari infomersial (info yang dapat mendapatkan berita dan berita tersebut tentunya dapat dijual sebagai komoditi yang bagus) dengan berapi api dia mengatakan bahwa bukan hanya berita tentang tangan yang terpenggal, kisah bapak kehilangan anaknya atau istri yang kehilangan suami tetapi dia membutuhkan fakta penyebab semua itu. Bagaimana berlian itu begitu berharga sehingga dapat mendanai perang didaerah konflik tersebut. Bagaimana alur perjalanan alur berlian konflik itu sehingga bisa ada di leher – leher dan telingan wanita Eropa atau Amerika. Memang kisah itu tak berakhir secara happy ending secara personal hubungan asmara antara sicantik dengan Leonardo dicaprio. Namun fakta yang didapatkan tercapai. Disini wanita amerika ini (menurut saya) diidentikan sebagai pahlawan yang dapat mengungkap fakta yang tentu saja patut dianugerahi hadiah nobel perdamaian sebagaimana anwar sadat atau rizak rabin ketika menandatangani perjanjian damai di camp David.Banyak film lain yang yang juga menceritakan konflik – konflik berdarah dan bermain perasaan sehingga menimbulkan isak tangis dan trenyuh diantara penontonnya. Orang amerika memang pandai bermain perasaan, mereka mampu mengungkap dan memancing perasaan emosional seseorang dengan banyak ungkapan yang seolah–olah benar (dan atau mungkin saja ada benarnya) tentang sesuatu kejadian. Bagaimana kisah orang – orang yang ditinggalkan akibat serangan WTC maupun kejadian – kejadian lain yang intinya menjadi infomersial yang menarik. Bahkan mereka (si Amerika) seolah menjadi orang teladan dan bersikap rasional atas sesuatu hal yang terjadi. Sehingga (lagi-lagi) seolah–olah bahwa semua konflik dan kekerasan akhirnya dapat terselesaikan dengan kebijaksanaan dari tentara amerika dan pemerintahannya yang sangat baik dan adil.
Dua alinea diatas sebenarnya sebagai sebuah start / permulaan dari uneg uneg yang ingin saya tumpahkan dari konflik palestina dan Israel. Kadang saya berfikir apa benang merah yang mendasari kenapa konflik tersebut terulur–ulur dan tak terselesaikan. Apakah mungkin kerasionalan dan kebijaksanaan amerika sudah hilang? Apakah perasaan negeri adidaya tersebut telah mati dengan korban luka, anak balita yang menjerit – jerit kesakitan? Ataukah mereka tuli, bisu atau buta dengan semua ini? Lantas bagaimana dengan mesir, Jordan suria maupun arab? Apakah tindakan nyata mereka terhadap negeri ditetangganya
Apakah Kebijaksanaan dan kerasionalan amerika telah hilang? Sebuah pertanyaan awal itu yang terfikirkan oleh saya ketika saya mulai browsing – browsing diwikipedia maupun membaca – baca dari google tentang konflik Palestine dan Israel ini. Dari penjelalajahan saya menemukan fakta bahwa setelah terbentuknya Negara Israel atas prakarsa ingris dan amerika, dan terjadinya perang enam hari antara mesir, suria melawan Israel terjadi pembelian senjata besar–besaran diantara kedua belah pihak kepada amerika maupun Negara–Negara barat lainnya. Sebuah rasionalitas dan kebijaksanaan dari kecanggihan ekonomi Negara–Negara kapitalis mengeruk kekayaan dari darah dan airmata. Sebuah kebijaksanaan yang ampuh bukan? Disatu sisi yang lain dan bukan merupakan sebuah rahasia bagaimana diamerika sendiri begitu banyak jutawan yahudi yang dapat menyetir kekuasaan dan pemerintahan di amerika sendiri.
Apakah perasaan negeri adidaya tersebut telah mati dengan korban luka, anak balita yang menjerit – jerit kesakitan? Ataukah mereka tuli, bisu atau buta dengan semua ini? Pertanyaan itu kembali mengiang dilubuk hati ini. Bagaimana dengan permainan perasaan itu, Yang begitu sempurna dilakonkan oleh para artis Hollywood? Tentu saja mereka mendengar, melihat tapi hati mereka mungkin saja telah mati. Apakah perasaan sicantik menlu Israel jikalau pacar/suami anaknya meraung–raung kesakitan karena mortir yang menjatuhinya? Bagaimana apabila anak–anak george bush benar–benar yang mengalaminya? Apakah permainan perasaan mereka tidak timbul dan terkesan? Sebuah pertanyaan besar tentang kepandaian rasional dan kebijaksanaan yang didengungkan hanya isapan jempol belaka. Bagaimana mungkin suara mayoritas orang palestina bisa dikatakan sebagai sebuah organisasi teroris? Retorika yang lucu dan terkesan dibuat – buat. Ketika Hamas mampu memenangkan pemilu yang benar – benar demokratis (sebagaimana angan – angan amerika tentang dunia yang demokratis) Justru mereka dikucilkan dan financial mereka benar – benar keok sehingga tak mampu membayar gaji pegawainya sendiri. Dan Bagaimana cantiknya mereka membuat ketengangan antara faksi fatah dan hamas sehingga kedua belah pihak bertikai. Cara yang cantik untuk sebuah usaha yang cantik dari para kapitalis.
Lantas bagaimana dengan Mesir, suriah, Jordan ataupun arab? Mesir begitu gencar perang dengan Israel namun ketika Sinai telah ada ditangannya mereka diam dan seolah persoalan telah terselesaikan. Lalu suriah ?? apakah Dataran tinggi Golan telah jatuh ketangannya? Lalu mengapa suriah harus mengusir pejuang – pejuang Palestine disana? Mengapa pula Jordan harus mengusir pejuang – pejuang PLO? Sebuah pertanyaan klasik bagaimana ternyata sesama saudara pun kita ternyata tidak akur bila telah mencapai urusan uang dan kekuasaan. Saya jadi ingat bagaimana negeri serumpun melayu Seperti Indonesia dan Malaysia juga pernah akan bergolak ketika menyangkut ladang – ladang minyak di Ambalat.
Secara akal sehatpun jelas bagaimana terbentuknya negeri Israel tersebut mencaplok wilayah Palestine dan mengusir orang – orang yang ada didalamnya. Dalam sebuah bukunya Holy war Karen amstrong dengan jelas menceritakan bagaimana rapat – rapat agar terbentuknya negeri yahudi ditanah yang konon milik mereka sendiri yakni erest Israel. Mengapa ketika diberi alternative tanah kosong di afrika mereka menolak? Karena mereka ingin negeri yang dijanjikan. Negeri angan – angan mereka dimasa sulaiman. Pengagungan sejarah yang lucu. Apakah mungkin orang Mongol harus meminta China yang luas karena kekuasaan Mongol dijaman keemasannya hingga hampir separuh dunia. Ataukah Malaysia, Kamboja harus masuk wilayah Indonesia hanya karena pernah menjadi bagian dari kerajaan Majapahit? Lalu Bagaimana dengan imperium romawi? atau orang – orang Arab yang kekuasaannya pernah hingga ke Spanyol. Sebuah impian Lucu bangsa Israel yang konon kini sedang terserak didiaspora dunia.
Mereka tidak pernah berfikir tentang perasaan orang–orang yang pernah mereka sakiti? Apakah mustahil sebuah kejadian se barbar WTC tidak ada penyebabnya? Apakah mungkin sweeping bagi orang–orang amerika dan Israel yang ada asal muasal cerita? Ada api tentu ada asap yang memulainya. Apakah bukan mereka sendiri yang membuat asap dan meniupkannya dengan angin media mereka–mereka juga. Semua tentu ada sebab dan musababnya dan perlu ditarik benang merah apakah yang telah mereka lakukan. Perasaan apa yang melukai mereka sehingga tindakan barbar seperti itu dapat terjadi?
Aku berfikir seperti itu apakah karena aku orang Islam? Dengan penjernihan yang coba aku buat dan tentu menjadi sesuatu yang subjektif dapat kukatakan bahwa perasaan hati ini bukan karena aku sebagai orang Islam, aku ingin berfikir dengan jalan tengah yang tentu saja dengan kedangkalan berfikir dan logika pendapat dan kebenarannya mungkin saja menjadi abrsurd, Aaaah aku semakin pusing dengan kata hatiku sendiri. namun aku hanya dapat merasa simpati dengan mereka yang terluka.Dengan darah dan airmata, dengan potongan kaki dan tangan yang mungkin saja terkubur mendahului badan, dan hanya bergumam apakah roket hamas ataukah jet tempur Israel yang kelak diterima tuhan di surga kelak.
Namun ternyata Blood Made in America, Blood Made In England, Blood Made in Israel sungguh benar adanya di bumi Palestine.
Tarakan, Januari 10th 2009



Rabu, 17 Desember 2008

Keringat


Barisan tiang – tiang kayu ulin itu berdiri tegak menghijau di kelilingi rambatan lada, ada yg terlihat rimbun bergerombol dan ada yang agak kurus dan kekuning – kuningan dimakan usia dari rambatan pohon lada itu sendiri. Mutiara merah manikam menghiasi setiap tonggak kayu ulin yang dijalari rambatan lada – lada, warna merah menyala tersebut tak lain merupakan buah lada yang siap dipetik. Sebuah keindahan alam desa yang tak memberikan ketengangan urat leher kita yang harus seharian berkutat didepan komputer, atau kekusutan rambut yang sering teracak – acak memikirkan beda angka – angka yang kadang terselip di barisan jalur – jalur microsoft excell. Sinar mentari pagi menyinari setiap helai daun yang menghijau. Seperti harus menaiki anak tangga secara perlahan sang mentari yang semula lembut di pagi itu kini mulai mencengkram lewat sengatannya yang hangat dan panas seiring dengan undakan anak tangga hayalan yang di lewati mentari menjelang siang.Seorang lelaki paruh baya tengah sibuk dengan ayunan cangkul berukuran sedang, dengan posisi sedikit jongkok dia terlihat menikmati pekerjaan itu, walau punggung tanpa baju tersebut legam mengkilat disengat mentari siang. Keringat tak henti – hentinya mengucur mencoba melawan sengatan mentari. Setiap ayunan cangkul tersebut memberikan irama yang serasi ketika harus beradu dengan tanah yang berumput tersebut. Tak terasa pengamatanku selama ini telah habiskan 3 batang rokok malboro, waktu berjalan lima belas menit ketika aku melamun menikmati keindahan yang kini jarang sekali aku lihat dengan nyata, sebuah fenomena kehidupan alam desa yang entah mungkin sepuluh tahun lalu aku tinggalkan. Ayunan cangkul lelaki paruh baya tersebut belum juga berhenti diantara rimbunan dan tonggak – tonggak lada, walau panas mentari semakin menyengat dan terik.
Fikiranku tertuju pada sosok orang yang kini ada di hadapanku ini, sosok yang sedari tadi kuamati dengan lamunan dan fikiran yang sedikit kagum dan salut, walaupun usiaku dan dia terpaut cukup jauh, namun cangkul yang sempat kupegang selama dua puluh limaan menit telah kulempar melayang sejauh lima meter ke belakang dengan teriakan dan ketawa kelelahan disambut ketawa pula oleh lelaki paruh baya tersebut. Telapak Tanganku juga telah mulai berair dan terasa perih.
Itulah sekelumit kisah kecilku waktu itu di bulan oktober, ketika dengan sok semangatnya aku ikut membersihkan kebun milik orang tuaku. Semangat pertama ketika masih pagi berangkat kekebun lada itu sangatlah tinggi (koyok iyo-iyone kalo org jawa bilang) namun ketika tangan udah mulai perih dan matahari sangat terik, semangat menjadi melempem dan lenyap menguap bersama keringat yang baru menetes beberapa kali. Apakah sosok separuh baya itu tidak merasa capek seperti aku? Tentu saja dia juga capek seperti halnya diriku, namun sebagai lelaki upahan tentu rasa capek tersebut seolah – olah menguap bersama panasnya mentari siang, atau berbayang dengan canda ketiga anak gadisnya yang masih remaja dirumah, atau mungkin rasa capek itu lenyap bersama banyang – bayang sang istri sedang menunggu uang lima puluh ribu yang dapat dia terima dari hasil jerih payahnya hari ini dibawah terik sinar mentari membersihkan rumput dibawah pohon lada milik kebun bapakku.
Masih terngingat jelas pembicaraan aku dengan bapak dua hari lalu, ketika kami sedang beristirahat di gubuk lima ratus meter dari tempatku bekerja hari ini, ketika sedang menikmati buah pepaya yang dipetik langsung dari pohonnya dan menikmati rokok serta tangan membolak – balik bara api yang sedang membakar jagung. Permbicaraan kumulai ketika kutanyakan apakah lek “fulan” itu gak capekkah pak? Tanyaku kepada bapak karena lek “Fulan”beberapa kali kuteriaki untuk beristirahat menikmati buah pepaya ranum yang baru kupetik dan ngisis (istilah merokok dikebun) namun hanya melemparkan senyum lalu melirik melihat ke arah mentari yang belum terlalu tinggi. Rupanya dia melihat posisi matahari untuk menetukan apakah telah waktunya istirahat atau belum. Sebuah aturan tak tertulis bagi mereka orang – orang upahan dikampung kami yang baru aku mengerti saat itu. Bahwa instirahat pertama adalah sekitar setengah sepuluh dan kemudian menjelang dzuhur baru beranjak istirahat kedua untuk makan siang. Sebuah aturan tak tertulis yang dipatuhi dan menjadi patokan hampir semua orang yang ada di dusun ini.
“Itulah namanya kerja .. wan” kata bapakku menimpali, keringat merakalah yang dibayar, kalo mereka gak berkeringat otomatis mereka juga dapat bayaran, kata bapakku menimpali lagi. Seandainya keringat mereka jadi tolak ukur kamu dalam bekerja maka kamu akan selalu jujur”, kata – kata bapakku meluncur begitu saja kearahku. Coba bayangin, seandainya engkau punya kesempatan untuk menilepkan uang kantor semisal seratus ribu, maka engkau telah meminum keringat seperti lek “fulan” tersebut selama 2 hari dia bekerja. Bayangin kalo engkau mengambil sejuta, dua juta, atau sepuluh juta. Maka berapa hari engkau ambil keringat dia??? Kata bapakku lagi. Sebuah perumpamaan yang diberikan bapakku sungguh sungguh menyentuhku kala itu, sebuah perumpamaan yang keluar dari seorang yang cuman mengeyam pendidikan rendah dan tak pernah mengerti administrasi perkantoran. Karena sepanjang hidupnya tak pernah memegang komputer ataupun mungkin mesin tik. Yang dia tahu hanyalah berita – berita korupsi ratusan bahkan milyaran rupiah yang menggeramkan hatinya. Sebuah perumpaan yang indah.
Alaaah bapak ini macem – macem aja” kataku, emang aku siapa? Emang mau nilep uang siapa? He,,he,, aku menimpali dengan canda,lha kerja sebagai tukang ketik kok mau nilep uang sih.. “Bukan begitu” kata bapak melanjutkan, seandainya engkau kelak mempunyai kesempatan maka selalu kau ingat tolak ukur yang ada di depanmu saat ini, tolak ukur yang jelas dan nyata. Naaaaah itu dia yang salah dengan bapak” kataku dengan canda.. makanya bapak gak pernah kaya…. He,,he,,he,, (dengan ketawa terbahak – bahak) namun mengamini dengan serius, walau kadang membathin bahwa aku manusia biasa…



Rabu, 10 Desember 2008

Melintasi Utara kalimantan timur….

Melintasi Utara kalimantan timur….
Anda belum pernah ke Kalimantan Timur?
Jika Pernah, Namun apakah anda pernah ke Kalimantan Timur bagian Utara?
Jika belum dan belum mengerti jalur yang ada, maka saya beri sedikit gambaran untuk dapat jalan – jalan ke utara kalimantan timur..
1. KeTarakan….
Tarakan merupakan kota tipe sedang yang giat – giatnya berkembang, ada beberapa alternatif untuk dapat mampir dan singgah ke Tarakan. Anda dapat menggunakan jalur Darat, laut maupun udara… Jika ingin lebih menantang perjalanan anda dapat menempuh perjalanan darat melalui Samarinda dengan Bis Jurusan Berau (tanjung Redep) dan tanjung Selor, lalu anda Dapat menggunakan speed boat untuk menyebrang Ke tarakan.. untuk fasilitas Hotel yang standart dan berkocek agak tipis jangan kuatir karena sebagi daerah transit yang cukup kompetitif dalam persaingan perhotelan maka anda diberi banyak pilihan untuk menginap.
Jika anda ingin melintasi Samudra dalam perjalanan. Anda dapat menggunakan alternatif jalur Laut yakni dengan menggunakan kapal PELNI yang ada, baik TIDAR, DOBONSOLO atau yang lainnya (sesuai keadaan) Kapal PELNi ini melintasi Pelabuhan Tarakan tiga kali dalam seminggu (jadwal yang pasti kurang dimengerti, maklum Cuma sekali mencoba lewat jalur ini)
Jalur Udara juga cukup representatif dan cukup nyaman apabila anda ada keperluan yang sifatnya mendesak dan perjalanan yang cepat. Pesawat udara selalu melakukan penerbangan ke Tarakan dengan Transit ke Balikpapan. Baik dari Medan, Pekan baru, Makassar, Jogja, maupun Surabaya atau Kota – kota lainnya di Indonesia

2. Ke Nunukan?
Nunukan, jika kita berbicara nunukan maka kita pasti terbayang dengan Malaysia, ya memang nunukan merupakan Pintu Gerbang Indonesia dengan Malaysia khususnya dengan Negara bagian Sabah. Ada beberapa alternatif untuk dapat ke Nunukan, bagi orang – orang Sulawesi selatan dan tengah biasanya jalur Laut merupakan jalur yang utama, Dengan menggunakan Kapal Pelni yang ada mereka bisa mencapai nunukan. Namun bagi anda yang ingin menggunakan jalur Udara juga tidak terlalu sulit. Yakni dengan menggunakan maskapai penerbangan Ke Tarakan lalu dilanjutkan ke Nunukan, atau setelah anda via Pesawat Udara Ke Tarakan anda bisa menggunakan Speedboat ke Nunukan melalui pelabuhan Tengkayu Tarakan (kira – kira 15 Menit Dari Bandara) yang dapat ditempuh menggunakan Taksi bandara atau ojek maupun angkot.
3. Ke Malinau…
Malinau, Kabupaten Konservasi di kalimantan Timur bagian Utara. Banyak alternatif bisa ditempuh untuk kesanabaik darat, laut maupun Udara. Jika Anda ingin nuansa daratan Kalimantan yang Eksotik (jalan yang kadang Rusak, kiri kanan jalan Ilalang atau berhutan he,,he,,) anda bisa menggunakan Bis Dari Samarinda ke Tenjung Redep/Tanjung Selor lalu dilanjutkan ke Malinau. Jika Anda menggunakan jalur Udara maka anda transit Katarakan dilanjutkan dengan menggunakan pesawat Perintis (Ex. MAF) menuju Malinau. Tau bisa juga dengan melanjutkan melalui jalur Sungai dengan menggunakan speed boat di Pelabuhan Tengkayu Tarakan.
4. Ke Tanjung Selor…
Sebagai Kabupaten Induk dengan Kota – kota di sekitarnya Tanjung Selor dapat di tempuh dengan jalur Darat dengan menggunakan Bis dari Pusat Ibukota Propinsi (Samarinda) atau menggunakan pesawat udara ke Tarakan dilanjutkan menggunakan speedboat di Pelabuhan Tengkayu Tarakan ke Tanjung Selor.
5. Ke Berau???
Berau relatif lebih dekat dengan Kalimantan Timur bagian selatan. Pilihan terbayak adalah menggunakan Bis Jurusan Samarinda Tanjung Redep, atau menggunakan Pesawat Udara ditemindung Samarinda ke Kalimarau Tanjung Redep.. nah di Berau ini ada Pulau Derawan jadi ………. Silahkan klik – klik di google pasti ada yang lebih jelas….

Sumber dari Pengalaman Pribadi……


Selasa, 02 Desember 2008

Jumat, 21 November 2008

Resah...


Kenal? Emang kita gak saling kenal? Aaah ada – ada aja kamu tuh Maz...!!! dari dulu kan kita memang saling kenal!!! Emang mau mengenal yang bagaimana lagi? Dari A sampai Z gitu? Ya gak bisa donk...., kan aku punya privaci sendiri he,,he,,he, Lagian sih jauh di Riyadh sana, coba cari kerja di Indonesia aja ” Si Risma nyerocos menjawab satu pertanyaan anehku lewat sms yang dia kirimkan.Yaaaah memang pertanyaan aneh untuk sebuah ungkapan yang bisa dibilang bingung... bingung untuk mengatakan bagimana dan apa, bingung untuk memulai yang bagaimana dan bilamana, hal ini sungguh pertama dan mungkin yang paling mendebarkan dalam semua sesi hidupku. Bagaimana tidak, toh dia juga sudah lama banget aku kenal, tiga tahun boy, tiga tahun bersama semenjak masih kuliah. Mana lagi dia juga sudah empat tahun berjalannya waktu setelah aku meninggalkan kampus itu, tidak juga pudar dalam istilah pertelekomunikasian belum mis komunication alias masih sering hubungan walau kadang sekedar lewat sms, chating atau nelp ala kadarnya. Lalu apa juga yang membuatku bingung, apa yang membuatku salah tingkah dan apa juga yang membuatku harus mengatakan itu? Sampai saat inipun aku masih terkadang berfikir sendiri, kok bisa gitu ya.... apa ada yang salah dengan diriku? Apakah aku belum pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis? Toh aku telah malang melintang di Dunia, beberapa Negera Eropa Asia Timur sampai Amerika Juga Pernah aku singgahi dalam waktu cukup lama, sehingga Semua jawaban itu juga termentahkan oleh fikiran kacauku sendiri.
Aku rasa juga tidak ada yang salah dengan diriku, diri ini tetaplah diriku yang dulu, tidak mampu mengungkapkan apa yang sebenarnya ada dalam fikiranku namun selama ini akan kucoba melakukannya dengan perbuatan, lalu emang perbuatan apa juga yang telah aku lakukan? Toh aku juga tidak pernah berbuat apa – apa selain sebuah sms yang mengatakan atau boleh dibilang menanyakan apakah aku boleh mengenal? Lalu untuk pertanyaan tentang menjalin hubungan dengan lawan jenis itu juga beberapa kali aku lakukan bahkan dengan wanita yang berbeda budaya dan kewarganegaraan, namun semua perasaan itu berbeda dengan perasaan yang saat ini aku rasakan, aku benar – benar bingung. Mungkin juga karena dia telah lama menjadi temanku, sehingga hal itu menjadi sebab? ”Mungkin juga iya ya” bathinku menjawabnya. Lalu? Apa lagi? Entahlah..... semua jadi runyam dan tak ada ujung bersama angin malam dimalam dingin ini yang meracau terus mengiringi fikiran dangkalku .
Cerita ini dimulai ketika sebulan lalu ketika aku sengaja memudikkan diri ke kampung halaman, yang sebenarnya tak kurencanakan, Targetku lebaran ini sebenarnya adalah ingin sesekali menikmati hari raya di Negeri orang yang selama empat tahun ini aku tempati. Toh baru bulan kemarin diawal puasa ketika sepulang dari menemani Direktur Perusahaanku menghadiri sebuah acara dijakarta untuk jadi notulen plus jadi asisten pribadinya dengan alasan kesamaan budaya (orang Indonesia red), kusempatkan beberapa hari mampir kerumah orang tua di Purwodadi untuk sekedar melepas kangen. Namun rencana untuk berlebaran di Riyadh ini akhirnya kubatalkan, apa sebab? Tentu ada sebabnya yakni untuk sebuah misi yang boleh dibilang mision of Imposible. Ingin kebandung di sela-sela liburanku di Purwodadi...
Ketika dengan sengaja kuhampiri dia dengan dekat semua rencana itu buyar, lidahku terasa kelu, aku terasa seperti sebuah patung yang membisu, tak dapat berbuat apa –apa dan tak mampu mengungkapkan apapun juga. Semua sirna, semua hilang lenyap bersama awan dan awang –awang. Padahal telah aku putuskan semua pernik – pernik kehidupanku yang memberiku warna selama aku di Negeri Gurun ini, semua dengan terang telah aku putuskan dengan jelas bahwa semua kutinggalkan, semua yang aku gantungkan, semua yang aku ambangkan, semua yang aku tak pernah ikat terlalu kencang telah aku urai dengan sejelas – jelasnya untuk menggapai satu asa, menggapai satu harapan yang sungguh dahsyat, yakni ingin mendekati dirinya dengan serius, wanita dari bangsaku sendiri, negeri yang telah sembilan tahun kutinggalkan semenjak kuliahku di Tokyo hingga masa kerjaku di Riyadh saat ini. Aku ingin mendekatinya dengan ikatan yang kencang, sekencang –kencang ikatan yang mudah – mudahan hal itu tak akan pudar. Itulah harapan utamaku. Namun cerita semua jadi lain, semua arah berbelok karena diriku sendiri. Semua menjadi berantakan karena kekeluan lidahku, atau mungkin karena aku terlalu berfikir terlalu jauh dan panjang?
Setelah kegagalan rencana itu aku kembali ke Jakarta untuk beberapa hari, kota dimana tempat aku dilahirkan dan dibesarkan sebelum akhirnya aku harus pindah ke Purwodadi karena tuntutan ekonomi yang tak memungkinkan aku dan semua keluargaku untuk tinggal di kota Jakarta ini. Namun fikiranku tak pernah berpaling darinya, dikala sendiri di atas ranjang hotel yang kutempati, aku ketikkan sebuah sms pertanyaan yang kurakit seperti sebuah puisi. Sms itupun walaupun telah sekian lama terhapus dalam memori hapeku namun masih melekat dalam memori kepalaku yang makin penuh dan bergumpal ini. Demikian aku tulis sebuah sms.........
Aku ingin....
Aku ingin mengenalmu,
Bukan karena engkau dan aku sendiri,
Karena aku ingin mengenalmu dengan hati bukan dengan nafsu,
Aku ingin, aku mengenalmu
Dan aku ingin, engkau mengenalku...
Simpel banget bukan? Sesimple karakter yang kucantumkan dalam teks sms yang akhirnya dia jawab dengan sms pula seperti jawabannya diatas. Pada dasarnya aku ingin lebih mengenalnya bukan karena dia dan aku saat ini sendiri, aku tak ingin mengenalnya karena dia jadi pelarianku, dan aku juga tak ingin dia mengenalku sebagai pelariannya. Karena pada dasarnya sebuah perkenalan dengan tipikal yang seperti itu menurutku sangat tidak baik dan tidak cocok, aku ingin berjalan secara proses yang alamiah. Tanpa embel – embel alasan tersebut. Dan pada baris ketiga juga aku tekankan (Karena aku ingin mengenalmu dengan hati bukan dengan nafsu),disini bahwa aku tak ingin menjalin hubungan ini menjadi tercoreng karena adanya alasan nafsu, namun tak lebih karena alasan hati yang bersih dan murni. Sebagai sebuah insan yang ingin mencari jalan dengan keridhaan yang hakiki, dengan alasan tersebut akhirnya aku tekankan bahwa aku ingin sekali lagi mengenalnya dengan lebih baik dan dia dengan baik – baik mengenalku, (Aku ingin, aku mengenalmu Dan aku ingin, engkau mengenalku...) mengenal dalam hal ini semua keburukanku dan semua kebaikanku sebagi manusia biasa dan sangat biasa – biasa saja.
Dia....??? siapa sih dia? Dia namanya Risma!!!
Apa sih dan siapa sih Risma? Apakah dia hebat? Mungkin orang akan bertanya seperti itu ketika orang – orang dapat membaca fikiranku. Risma, dia adalah gadis Bandung anak Duta Besar Indonesia di Jepang kala itu. Karena mengikuti orang tuanya yang diplomat maka risma juga harus melanjutkan masa kuliahnya di Jepang dua semester dibawahku. Lalu apa kehebatan Risma? Menurutku tidak juga, karena dia adalah Risma yang gak sehebat Cat woman, atau super woman, dia juga tak sejago Xena dalam semua serial laganya. Dia Manusia (perempuan) kebanyakan juga pada umumnya. Yang menjalani hidup normal dan bermartabat karena tingkah lakunya walaupun lahir dari rahim dari seorang ibu yang berkecukupan di tengah masyarakat yang masih tergolong ekonomi rendah.
Setinggi apakah Si Risma ini? Mungkin pula pertanyaan ini patut ditanyakan orang yang lagi – lagi dapat membaca fikiran konyolku. Menurutku ketinggian dia juga gak setinggi bintang dilangit, gak setinggi artis holywood ataupun para artis. Ketinggiannya secara fisik bisa jadi iya, karena dalam sebuah kesempatan aku pernah mencoba berdiri sejajar sekedar ingin mengukur keposisian selama berjalan. Dia cukup tinggi secara fisik yang kadang membuat aku minder apakah aku cocok bila berjalan disampingnya. Namun semua itu kutepis, kerana semua itu bukankah ada yang mengatur. Siapa sih yang menyangka kalo dia akhirnya kelak menjadi lebih tinggi atau siapasih yang menyangka kalo seandainya akhirnya dia menjadi cebol, semua itu tentu ada sebab dan akibatnya selain karena faktor genetis.
Lalu apakah dia cantik? Tentu aku dapat mengatakan dengan kesungguhan bahwa dia memang cantik, dengan bodi proporsionalnya dan tinggi semampainya tidak ada yang tidak bilang kalo dia tidak tak cantik, semua pasti mengatakan hal tersebut. Namun kecantikannya menurutku bukan hanya dari segi fisik, (Untuk istilahku sendiri bagi wanita cantik yang seperti ini yakni, Cantik gak hanya fisik) secara fisik jelas Risma tentu cantik namun non fisiknyapun secara kasat mata juga apabila seseorang telah mengenalnya akan mengatakan dia memang cantik (inner beauty). Dengan semangat yang dia bangun, dengan ketahanan yang fisik dan psikis yang pernah dia hadapi, itu yang membuat aku semakin berfikir kecantikan dalamnya justru mengalahkan kecantikan luarnya. Dan semua itu justru yang terkadang mengecilkan hatiku dengan cercaan pertanyaan – pertanyaan aduan bathin.. “apakah aku cocok dengannya”? apakah aku tidak perlu berkaca kembali siapakah aku? Sehingga berani mendekatinya!!!? Secara fisik dan finansialpun aku sungguh payah.. Fisik yang pas–pasan dan finansial yang bermanajemen amburadul semakin melengkapi kebobrokan diriku.
Akhirnya aku hanya mampu menuangkan semua itu dengan bathin, karena memang untuk saat ini, saat dan kesempatan pertama ini entah aku menjadi terlalu bodoh, atau aku menjadi terlalu lemah untuk berbuat yang semestinya aku lakukan. Bukankah penembakan itu sebuah paket? Yakni sebuah paket kalo gak di terima ya di tolak..!!! Lalu mengapa aku harus bingung? Bukankah aku selalu sering mengumbar semangat ”aku bisa, karena itu jikalau tidak bisa!!! Maka itu bukan aku,...!!! lalu? Dimana semangat dan motto hidup yang dari dulu selalu kupegang itu? Hingga aku sekarang mampu keliling dunia? Dimana raibnya aku juga tak tahu ketika harus menghadapinya, haruskah aku kelak akan menyesal jikalau aku tak mencobanya? Bukankah seseorang pernah mengatakan bahwa semua orang pernah mengalami hal seperti ini, namun sangat sedikit orang yang mampu mengutarakannya dengan jelas. Aaah... aku cuman berharap kelak aku mampu dan aku tak menyesal walaupun apapun itu akhirnya menyenangkan ataupun menyakitkan....
Aku hanya bergumam dalam hati dengan rintihan...” Tuhan kenapa aku tak berani bertindak?
Malam semakin larut fikiranku juga semakin tak menentu bersama desiran AC dan selimut tebal hingga azan pagi berkumandang dan aku memulai aktifitas harianku kembali seperti biasa dengan kepala pusing karena kurang tidur.......

Jakarta, Januari 2nd 2019


Jumat, 24 Oktober 2008

Melihat salju

Cerita ini dikala mudik……..!!!
Suatu senja dikala mati lampu,
Diwaktu sedang baring – baring di depan tipi yang gak hidup-hidup..
Ditemani lilin kecil di atas meja yang redup dan mengkis-mengkis diterpa angin malam karena jendela memang gak aku tutup – tutup….

Berbaring dua anak manusia sesama jenis disebuah ambal dan kasur tipis, dua jenis yang sama (laki-laki) dari rahim yang sama seorang ibu, dan kebetulan sebuah saudara dan lagi – lagi satu orang adalah kakak, dan satu orang lagi adalah adiknya….
Sang kakak yang berbadan bongsor kata lain dari gemuk, sinonim dari kelebihan lemak lawan kata dari kurus, dan sang adik yang kurus kering dengan tampang yang gaul, dipadu dengan tulang – tulang iga yang nampak serta sebuah kaca mata minus yang jarang dilepasnya walaupun sedang berebahan dikasur depan tipi. Pemandangan yang sangat kontras jika dipandang dari tempat ketinggian satu meter dari permukaan kasur ,

Dalam diam,…
Kira – kira lima menit berselang,…
Sang adik memecah kesunyian dengan pertanyaan (boleh dikata sebuah permohonan)
“mas,..!!! biasanya cerita – cerita tentang kisah-kisah atau buku-buku yang dibaca, katanya dengan lugu, “Ceritain aku buku baru yang lagi ngetren pank…. “ Timpalnya lagi.
“Mau cerita apa”? sang kakak dengan sok bijak dan sok pinternya menjawab dengan gak ngawain… (padahal dari sononya gak pinter – pinter amat)
“Cerita tentang Sejarah islam? ,Cerita tentang sejarah dunia? Atau cerita tentang kisah laila majnun?” kata sang Kakak kembali menantang dengan pongahnya…
“terserah aja” lagi – lagi si adik gak ngeh bahwa kakanya cuman bercanda dengan tantangan cerita. namun sang kakak melanjutkan perkataannya dengan senyum tipis, “kalo sejarah islam ada dipelajaran agama, kalo sejarah dunia tanya sama guru sejarah dan kalo laila majnun ya mirip-mirip aja ama romeo dan juliet kok” dia menimpali dengan senyum canda…

“hu… kiraian….


Okelah, udah dengar cerita tentang laskar pelangi? Kata sang kakak kembali bertanya,
“belum” malah bilang ada filmnya ya ? si adik lagi – lagi malah bertanya balik,..
“iya siih, mau diceritain kisah itu”?
“ bolehlah..”

Singkat cerita….!!!
Diceritakanlah kisah buku karangan andrea hirata dengan versi sendiri sang kakak yang ngenjah-ngenjah lompat dari bab satu ke bab terakhir, kadang dari bab tengah ke bab awal lagi dan seterusnya (maklum versi saduran) tentang kisah ikal dan ke sebelas teman – temannya di sekolah Muhamaddiyah di belitung, yang saat ini masuk Kepuluan Riau…
Namun ada yang berbeda dari kisah itu, kisah ikal dan kisah lintang terlalu banyak disodorkan dalam versi sadurannya, itu terlihat sangat jelas bagi seseorang yang pernah membaca buku tersebut…

“Kasiannya ya lintang….”Kata si adik, trus dia bener – bener gak jadi ngelanjutin sekolah? Timpalnya lagi dengan muka sedikit sedih (sedikit sedih atau banyak, gak ada yang tau sebab lampu belum juga menyala).
Iya..!!! emang kenapa? Kamu kasian? Kata sang kakak,
” trus… “ kalo gitu gimana?” si kakak melanjutkan pertanyaan jebakan.
“ya… kasian aja, dia malah gak bisa menjawab, dan jawaban itu merupakan jawaban klasik setiap orang apabila bingung ngasih argument yang tepat…


“Tau maknanya” sang kakak dengan sok bijak menasehati.
“tau, agar kita selalu jangan patah semangatkan..!!! si adik menjawab dengan cepat..
“tull…. Tapi bukan hanya itu. “
“Lalu” apa aja ???

Itu mengatakan bahwa, kita jangan sampai menyia-nyaikan kesempatan, coba lihat lintang??!!! Begitu kerasnya kemauan, begitu cemerlangnya fikiran namun ketika benturan tembok kesempatan menghalang, maka dia tak dapat berbuat apa- apa..!!!

“lalu…!!!
Lihat kamu..!!! anak terakhir, gak ada tanggung jawab seperi lintang… kenapa gak bisa seperi ikal?
Tapi gak mudah, gak hanya santai - santai aja kerjaannya, perlu proses…

“tapi kan aku belajar nge band? Buktinya pemain band sukses..!!! sia adik menyanggah,
“yuupz.. memang banyak jalan bisa menuju roma, gak hanya belajar kimia atau fisika…, tapi semua harus dijalani dengan serius… lagi – lagi sang kakak berkata dengan sok bijak yang dipaksakan (he,,he,, padahal ketahuan dari orangnya gak bijak banget)

..”mas..!!! kita buat deal yuuuk..!!! kata si adik tiba-tiba.
Apaan? Perjanjian apa? Kakaknya gak ngeh dengan kata-kata yang barusan…
“kita buat deal dulu, mau gak..??
Ya deal apaan???
“mau gak//?? Mana kelingkingnya? Dia memaksa dengan dengan kata-kata.

Selang beberapa detik kelingking sang kakak bergandengan dengan kelingking sang adik, (kayak di tipi – tipi aja ya,,,..)

“Kita buat perjanjian, perjanjiannya yakni dulu – duluan liat salju..!!! kata si adik dengan lugu dan terbakar semangat…
Kok liat salju? Si kakak tambah bingung, Lha si ikal kan ke sorbone? Dia melanjutkan…

“Kalo kesorbone terlalu sempit cakupannya mas” kalo liat salju kan lebih besar dan luas he,,he,,
Bayangin…. Salju ada di Amerika,rusia, jepang dll..
Lha sorbone? Cuman di paris…
\
“Bayangin lagi…” kata sang adik lagi



“Ntar tak bayangin bentar” sang kakak memotong dengan bercanda..
“udah kubayangin nie..” kata sang kakak..

“Gini mas… kalo liat saljukan gak hanya belajar,,,” dia menambahkan
“kita juga bisa berlibur, atau kita cuman jalan-jalan atau kita ada tugas kantor dll…” katanya lagi

“atau juga bisa kalo kita jadi TKI” katanya dengan senyum, lumayan yang penting bisa liat salju dulu – duluan he,,he,,he,,,,

^&*((&^&%& toweeeng*&^%&*
)((*(
*&^^%%%^^&****

“Gak papalah….. Ngikut” kata sang kakak..

Sipersingkat lagi cerita….

Dua hari berselang…
Dipanas matahari yang terik,
Es di Kulkas udah pada mencair karena krisis listrik mengimbas ke dusun kecil ini…

“mei..” cari es yuuk..!!! sang kakak mengajak sang adik jalan..
Yuuk…!!! Disana mas ..< es campurnya enak” kata sang adik..

Yuuoooi..
Let’s go….

Di tempat maman es campur….

“lek… es campur dua ya” kata sang kakak memesan es ke lelek es campur…
Jangan lupa serutkan esnya aja, taruh si mangkok satu ya..” dia menambahkan perintah pesanan ke lelek es.

“buat apa mas?? Tanya si adik, dengan bingung, “gak enakkan kalo es serut aja..”
“ada deeeh” ntar aku kasih tau..”

Setelah es yang dipesan datang..

“mey.. sepertinya duluan aku ngeliat salju!!! Nie..!!! kata sang kakak,
“sori ini adalah saljuku..
“Aku harap engkau lanjutkan mimpimu”
“Dan aku harap saljumu bukan seperi saljuku yang hanya sebongkah es yang diserut dan diletakkan di sebuah mangkok” katanya menambahkah…

“ye….!!!%^&**^%$$

“masa Gitu doank nyerah” kata si adik..
&&^%$%$#$##@#$$$$%$
Toweeeeweweeweeeweeeng…..@##$$%

Kamis, 23 Oktober 2008

???

kok ngilang....?

woooi kemana?


ke kampung, dodol... Mudik.

?????


waaaah ketahuan nie, orang kampung ya?


ya iya lah...

masa ya iya donk...




Sabtu, 27 September 2008

Komentar sebuah "koment"

Inisial Anda terlalu besar untuk dipadankan dengan upaya untuk hidup ini. Anda sudah selayaknya memaksimalkan karya Anda untuk menjadi seorang pejuang sejati. Sebuah acara kumpul tanpa memberi value pada perubahan yang lebih besar tidak pantas dilakonin seorang yang menyandang inisial sang pejuang. Jangan cemari nama pejuang bila Anda belum mampu menjadi pejuang. Pola hidup seorang pejuang senantiasa penuh keseriusan dan maksimalisasi umur optimal bukan sebaliknya...

Ini adalah salah satu komentar yang paling menarik yang kudapat dari seorang teman yang kebetulan mampir ke blog ini, setelah beliau (yang terhormat) membaca postingan yang berjudul Toleransi Eksteren yang kutulis, beliau membubuhkan sedikit tandamata sebagai apresiasi dari tulisan cakar ayam dan menurutnya gak berbobot itu..
“aah sang pejuang marah tuh di kritik,..!!! kata seorang temen yang kebetulan ikut meng aprove komentar yang ada)…
Nasehat yang menarik dan membuat aku berfikir lebih positif. Mungkin saja ini adalah kritikan pedas bagiku. Namun apakah aku harus marah? Tunggu dulu..!!! mungkin saja seorang teman yang bijaksana tadi tak bermaksud begitu, dia pasti ingin aku lebih dewasa dalam menyikapi hidup yang menurutnya mungkin saja inisial ini terlalu berat bagi diriku yang tentu saja belum dia kenal
“kalo dikenal mungkin dia lebih sadis lagi membubuhkan tanda matanya tuuh..”, celetuk teman satu ruanganku lagi dengan tertawa terbahak – bahak
Namun aku mencoba menyikapai tulisan itu dari secara bijak, mari kita kaji lebih dalam per kalimat :
(kurang kerjaan buat apa sih…. Ya sekedar klarifikasilah)

(Inisial Anda terlalu besar untuk dipadankan dengan upaya untuk hidup ini. Anda sudah selayaknya memaksimalkan karya Anda untuk menjadi seorang pejuang sejati.)

Ketika membaca kalimat pertama ini yang timbul amarah sebenarnya bukan saya, justru teman saya, dia dengan semangat berapi–api (kayak api obor Pertamina Balikpapan, seperti itulah he,,he,,) mengatakan
“wuuui sadis banget dia tulis itu bro”, “emang dia siapa”?
“Apa dia perfect banget gitu bisa nulis gitu” katanya.
“Lhaa kok tanya aku “ kataku malah tanya balik kepadanya,
“kenapa mesti kau yang marah sih” kataku dengan cemberut,
“ntar dulu kita lihat sisi positifnya donk, “kalimat itu sungguh rasional kok” kataku sok bijak banget (padahal geram juga nie he,,he,,)
“trus argumentmu gimana donk? Katanya,….
“memang bagi anda (saudaraku yang membubuhkan tanda mata itu) inisial itu terlalu besar dan gak sepadan. Namun apakah salah dengan sebuah nama atau inisial? Nama atau inisial terkadang adalah doa dan atau adalah sebuah keinginan. Seperti ketika nama anda adalah “sri Bintang” mungkinkah anda bisa menjadi bintang dalam arti sesungguhnya? Atau apakah anda harus selalu bisa jadi bintang kelas/bintang olahraga/bintang sinetron/bintang film? Tidak bukan? Nama juga merupakan suatu harapan akan keinginan.. semisal anaknya “jannah” apakah anaknya itu merupakan surga? Tidak bukan..!!! disini sang ayah mengharapkan anaknya bisa menjadi hal yang meneduhkan bagi orang-orang di sekitarnya atau mengharapkan kelak anaknya bisa masuk surga.jadi apakah salah jika inisial sang pejuang digunakan dalam iniSIAL namaku? Apakah aku harus izin? Gak lah…
“Lalu…, “untuk koment yang hidup harus maksimal itu pank”? Kata temenku selanjutnya.
Aku kemudian beragument bahwa “Apakah kemaksimalan karya itu sendiri? Tidak ada batasan yang jelas suatu karya itu dapat dikatakan maksimal, suatu ketika teori mengatakan bahwa bumi adalah pusat tata surya, hal ini merupakan karya besar yang pada jaman dulu yang tak dapat diganggu gugat, namun apa daya ilmu pengetahuan mengatakan hal yang lain , lalu apakah teori itu bukan suatu karya yang hebat walaupun sekarang dianggap ketinggalan jaman..!!! demikian pula secarik kertas yang hanya bertuliskan kata “ I love you” pun akan sangat bermakna bagi seorang gadis apabila hal ini ditulis oleh seorang pemuda yang sangat diidam-idamkan oleh seorang gadis…. Kata kata “mama” juga bisa menjadi kebahagian yang besar bagi seorang ibu untuk sesuatu yang istimewa dikarenakan anak nya seorang yang gagu. Jadi kita sangat salah jika langsung menjustifikasi seseorang dengan karya- karyanya. Bisa jadi bagi kita karya itu tak berarti namun bisa jadi karya itu sangat berarti untuk orang lain. Bagaimana karya anda bisa dihargai oleh orang lain apabila anda tak mampu menghargai karya orang lain.
Saya mencoba sedikit berkomentar kepada saudaraku yang kebetulan membubuhkan sedikit tanda matanya di blog ini dengan kata- kata diatas alhasil dia tak mengaprove tulisan saya. Mungkin argument saya membuat dia marah. Itu menandakan kekerdilan seorang yang konon ingin dibilang seorang yang berjiwa besar. Kita mau mengkritik namun jangan lupa kita juga mau di kritik…
“ee..eee kok jadi marah sih”? Kata temenku.. “berarti kau juga gak terima dikritik nie…” dia melanjutkan..
“gak begitu bro..,” terbawa perasaan aja he,,he,,”…!!! aku tertawa ngakak.

(Sebuah acara kumpul tanpa memberi value pada perubahan yang lebih besar tidak pantas dilakonin seorang yang menyandang inisial sang pejuang.)

Mari kita simak kata-kata diatas, sangat tegas dan mantap tanpa tedeng aling – aling memberikan aku pengajaran yang penting. Namun aku sekali lagi ingin mengajukan argument tentang apa yang dia katakan..
“Alaaaaah…!! Sudahlah bro, ngapain gitu aja di tanggepin, bikin kerjaan aja” kata temenku “mau lebaran nie, kerjaanmu masih numpuk tuh he,,he,,” dia kembali tertawa menertawakan kekeranjinganku akan nasehat diatas.
Kita (Sebagian besar kita kalo bisa dibilang) sering melihat sesuatu dengan cara yang global, semisal kita sering mendengungkan bahwa
“islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari islam”
ketika kita diminta tolong untuk berbuat baik kita lupa bahwa itulah yang dimaksud dengan ketinggian islam, dengan ajarannya untuk berbuat baik bagi individu- individu pemeluk Islam, bukan hanya milik para ulama dan kyai. Islam adalah sesuatu yang global, dan value yang besar dapat diraih apabila dari hal – hal kecil itu dilakukan.
Kita tak akan bisa membelah gunung dengan langsung menendangnya. Kita perlu cangkul, kita perlu eksavator atau kita perlu buruh yang rela berpabas-panas demi membelah gunung yang besar itu.
Perubahan besar justru dilakukan dari hal – hal yang kecil bukan..?? sebuah kota tak akan bisa bersih apabila masyarakatnya masih membuang sampah sembarangan. Namun dari orang- orang yang membuang sampah tepat waktu dan pada tempatnyalah biasanya sebuah kota akan bersih.

“ Jangan cemari nama pejuang bila Anda belum mampu menjadi pejuang. Pola hidup seorang pejuang senantiasa penuh keseriusan dan maksimalisasi umur optimal bukan sebaliknya...”

Untuk hal ini secara berbesar hati aku hanya mampu mengucapkan mohon maaf yang sebesar- besarnya apabila inisial ini mencemari sesuatu yang menurut anda sakral (sesakral pancasila dijaman soeharto kali) namun saya harap di akhir kalimat anda perkataan itu sungguh menyedihkan hati saya dengan justifikasi yang begitu tajam dan tanpa perasaan. Kenapa anda yang bijak dapat menjustifikasi saya dengan hidup yang penuh ketidak seriusan?
“Sersan… serius santai…. Aja lah….” Temenku menambahkan”!!!
“Murid hanya bisa belajar pada mahaguru”… kata temenku sambil menundukkan badan seorah memberi hormat layaknya film – film kungfu china ikut mengomentari pendapatku dan ngeloyor pergi keluar kantor…