Ada beberapa kawan yang sangat penasaran dengan sebuah nama dalam hal ini nama saya, dengan memberi beberapa kali koment namun dengan sengaja tak terpublish. karena sangat penasarannya mengatakan bahwa saya tak berani menampilkan nama saya adalah karena nama saya tidak komersil, ndeso, dan lain – lain....
Pendapat itu semua bisa benar, bisa juga salah.. secara umum saya juga kurang terlalu suka dengan penyebutan nama, bukan karena nama saya yang tak komersil atau ndeso... karena menurut pendapat saya pribadi yang tak pernah terlalu berorientasi masalah ekonomis atau non ekonomis tak ada sangkut pautnya antara nama dan kekomersilan. Bukan juga masalah ke ndesoan sebuah nama, namun dikarenakan watak saya secara personal yang lebih suka diam ketimbang berbicara, lebih suka nongkrong dengan tenang ditempat yang santai ketimbang dugem, atau lebih suka bermain gitar akustik ketimbang harus jingkrak – jingkrak musik rock.
Selayang pandang ke abad delapan belas atau abad tujuh belas selayaknya sebuah peradaban jaman dulu nama Bejo sastronegoro semisal sangat dihormati karena biasanya adalah seorang ningrat dijamannya. Namun jaman sekarang ada pergeseran dari budaya adat kebudaya nasional yang cenderung ke huruf “A” maka nama – nama yang dianggap keren menjadi A, semisal Nana Anastasia, rina aprilia dan lain – lain, dan nama – nama yang masih berbau lokal semisal juminten, tukiyem dianggapndeso.. bahkan yang semula bernama Purwo adikusumo bisa saja menjadi Purwa adikusuma itulah pergeseran pola pandang dan peradaban yang akan selalu berkembang atau bahkan akan mengalami kemunduran, jadi bukan suatu hal yang asing dan bias terjadi. Stigma itu bahkan terlalu kuat mengakar kepada kita sehingga kadang kita menjadi malu untuk menyebutkan siapa nama asli kita dengan jelas dan gamblang. “gak komersil., kampungan dll... sebuah penafikan yang sungguh tidak masuk akal. Nama pemberian itu (Khususnya pemberian orang Tua kita) adalah nama cinta yang akan selalau melekat. Cinta yang tulus dari orang tua yang dengan kerelan hati melahirkan dan merawat kita.
So.....!!! Sekedar klarifikasi tak ada maksud apapun untuk membuat perumpamaan dalam nama saya....
Minggu, 18 Mei 2008
Sabtu, 10 Mei 2008
Anak – anak langit..!!!
Guuubraaaak…..!!!! suara kursi besi tahan banting itu terbanding keatas ubin warna putih asrama caesalpinaceae itu.. Meja dames seolah olah ikut bergetar merasakan benturan antara besi dan ubin, maklum pagi buta seperti ini semua warga kamar caesal masih terlelap.sebagaimana anak –anak asrama yang lain seperi kamar anacardiace, burseraceae maupun dipterocarpaceae. Tak ada satu suara pun terdengar, hanya dengkuran halus dan sesekali dengkuran berat milik nyatoh kompak dan serasi mengimbangi suara ngaji dari loadspeaker mesjid di sebelah asrama. Udara dingin dan hentakan keras tersebut kontan membangunkan kami dengan sigapnya laksana bom atom Hirosima dan Nagasaki jatuh bersamaan didalam kamar asrama itu. Ranjang 2 lantai itu seolah – olah cuman setinggi 5 cm dihadapanku, aku meloncat sigap dengan badan kerempeng dan tak berbaju. Teman – teman yang lain tak ubahnya cecunguk – cecunguk ataupun para tawanan perang akibat kalah perang dilaut baltik antara pasukan inggris dengan prajurit Jerman. Kami diam terpekur menunggu suara yang pasti akan keluar menyusul tragedy dijatuhkannya kursi dari atas meja dames tersebut. Kami benar – benar si pesakitan yang patut dihukum saat itu juga dan kami tak berkutik karena kuasa hukum kami tak punya alibi apapun untuk sekedar membela walau dengan ramuan hukum manapun. Alih – alih mengatakan alibi, untuk mengatakan seucap katapun kami tak mampu. Bisu diam seribu bahasa karena kami sadar kami kesiangan untuk ukuran asrama ini, kami kesiangan karena kami belum siap – siap untuk shalat subuh dan bersiap untuk senam pagi, rutinitas harian kami selama ini selama tinggal dan hidup di asrama…...
Badan sedikit gempal, ada rasa segan yang sangat ketika berbicara kepadanya, rasa kebapakan yang ditampakkan kepada kami membuat kami sangat hormat, tak pernah memandang siapa kami, anak siapa, nakal atau baik semua dianggap sebagai anak… jangan menyangka hari ini engkau dipeluk engkau merupakan anak emasnya, jangan banyak berharap hari ini engkau dimarahi engkau merasa anak didik yang paling dibenci.. semua bak roda berjalan. Lima menit yang lalu engkau dipuji bisa saja menjadi orang yang paling telak mendapat amarah petuahnya. Melambangkan sifat tak pilih kasih dan proporsional dan sangat mengutamakan kedisiplinan para siswa tampak jelas tergambar dari raut wajahnya. Semua itu membuat kami cukup segan bahkan sedikit takut apabila ingin sedikit berbuat ulah dihadapannya. Siapa lagi beliau kalau bukan wakil kepala sekolah sekaligus kepala kesiswaan kami yakni bapak Achmad sirodz… Seperti kejadian waktu pagi ini, kami tak bisa mengelak, karena nyata – nyata akibat begadang semalaman dengan gitar dan ketipung kami tak dapat bangun pagi untuk shalat subuh.
Kami adalah anak – anak langit menurut versi aku sendiri, karena dibawah tempaan langitlah kami mampu berdiri bersama, merasakan suka duka bersama diasrama, dimana canda dan tawa kami produksi ala kami sendiri, dimana rasa jenuh dan kesal kami ratapi bersama. Anak langit yang mencoba menembus langit. Atau setidak – tidaknya anak langit yang ingin mewarnai langit dengan biru bumi, yang akan berusaha memberi warna hijau dunia tandus dan mulai memerah, anak langit yang ingin peduli dengan alam yang dianggap telah diperlakukan sewenang – wenang oleh manusia. Kami cuman segelintir anak langit namun cita – cita kami mulia itu kadang terbersit dalam angan – angan kami semua. Semua cita dan cinta itu kami terima dari orang – orang yang menganggap kami sebagai anak – anaknya, orang – orang seperti bapak achmad sirodz itulah kami ditempa. Kami diajarkan untuk tidak cengeng , kami dibentuk untuk menjadi orang – orang terdepan penyelamat bumi, bukan cuman sesumbar para politikus yang mengharapkan tongkat estafet ditangan kita namun sekedar cuap – cuap kosong tanpa memberikan contoh nyata. Tapi kami benar – benar dididik untuk itu. Bukan didikan kosong, tapi didikan yang benar – benar berasal dari hati, karena selain dari ilmu terapan kami juga diajarkan ilmu hati. Bukan sebagai guru dan murid kami diperlakukan, tapi layaknya anak dan ayah, maupun anak dan ibu. Tak pernah kami mengucapakan pak guru, ataupun bu guru, hal ini terasa janggal dilidah, karena kami juga telah menganggap mereka yang mendidik kami anak – anak langit adalah sebagai orang tua dan sebagai panutan yang benar dan memang bisa dicontoh.
Tak terasa anak – anak langit yang pernah bersama itu kini terpencar dan benar – benar memberi warna pada bumi ini. Tak terasa enam tahun berlalu bersama derasnya waktu, kami anak – anak langit merasakan kerinduan yang sama lagi, kerinduan yang sama saat – saat indah waktu itu, kerinduan yang sama – sama kami impikan untuk dapat terwujud walau hanya sejenak. Kami ingin mengurai cerita lama, menggali kisah usang yang konon akan menjadi kisah klasik untuk masa depan. Satu keinginan sama dari kebulatan tekad walau banyaknya rintangan yang harus dihadapai. Jarak dan waktu memanglah mempengeruhi perjalanan penggalian masa lalu, namun kami punya tekad bahwa anak – anak langit ini pasti akan berkumpul sejenak melapas penatnya hidup, berkumpul sejenak untuk kembali bercanda, berkumpul sejenak untuk bercerita bahwa kita pernah bersama…!!! Dalam satu falsafat Nobis pleseant ante omnea silvae
Badan sedikit gempal, ada rasa segan yang sangat ketika berbicara kepadanya, rasa kebapakan yang ditampakkan kepada kami membuat kami sangat hormat, tak pernah memandang siapa kami, anak siapa, nakal atau baik semua dianggap sebagai anak… jangan menyangka hari ini engkau dipeluk engkau merupakan anak emasnya, jangan banyak berharap hari ini engkau dimarahi engkau merasa anak didik yang paling dibenci.. semua bak roda berjalan. Lima menit yang lalu engkau dipuji bisa saja menjadi orang yang paling telak mendapat amarah petuahnya. Melambangkan sifat tak pilih kasih dan proporsional dan sangat mengutamakan kedisiplinan para siswa tampak jelas tergambar dari raut wajahnya. Semua itu membuat kami cukup segan bahkan sedikit takut apabila ingin sedikit berbuat ulah dihadapannya. Siapa lagi beliau kalau bukan wakil kepala sekolah sekaligus kepala kesiswaan kami yakni bapak Achmad sirodz… Seperti kejadian waktu pagi ini, kami tak bisa mengelak, karena nyata – nyata akibat begadang semalaman dengan gitar dan ketipung kami tak dapat bangun pagi untuk shalat subuh.
Kami adalah anak – anak langit menurut versi aku sendiri, karena dibawah tempaan langitlah kami mampu berdiri bersama, merasakan suka duka bersama diasrama, dimana canda dan tawa kami produksi ala kami sendiri, dimana rasa jenuh dan kesal kami ratapi bersama. Anak langit yang mencoba menembus langit. Atau setidak – tidaknya anak langit yang ingin mewarnai langit dengan biru bumi, yang akan berusaha memberi warna hijau dunia tandus dan mulai memerah, anak langit yang ingin peduli dengan alam yang dianggap telah diperlakukan sewenang – wenang oleh manusia. Kami cuman segelintir anak langit namun cita – cita kami mulia itu kadang terbersit dalam angan – angan kami semua. Semua cita dan cinta itu kami terima dari orang – orang yang menganggap kami sebagai anak – anaknya, orang – orang seperti bapak achmad sirodz itulah kami ditempa. Kami diajarkan untuk tidak cengeng , kami dibentuk untuk menjadi orang – orang terdepan penyelamat bumi, bukan cuman sesumbar para politikus yang mengharapkan tongkat estafet ditangan kita namun sekedar cuap – cuap kosong tanpa memberikan contoh nyata. Tapi kami benar – benar dididik untuk itu. Bukan didikan kosong, tapi didikan yang benar – benar berasal dari hati, karena selain dari ilmu terapan kami juga diajarkan ilmu hati. Bukan sebagai guru dan murid kami diperlakukan, tapi layaknya anak dan ayah, maupun anak dan ibu. Tak pernah kami mengucapakan pak guru, ataupun bu guru, hal ini terasa janggal dilidah, karena kami juga telah menganggap mereka yang mendidik kami anak – anak langit adalah sebagai orang tua dan sebagai panutan yang benar dan memang bisa dicontoh.
Tak terasa anak – anak langit yang pernah bersama itu kini terpencar dan benar – benar memberi warna pada bumi ini. Tak terasa enam tahun berlalu bersama derasnya waktu, kami anak – anak langit merasakan kerinduan yang sama lagi, kerinduan yang sama saat – saat indah waktu itu, kerinduan yang sama – sama kami impikan untuk dapat terwujud walau hanya sejenak. Kami ingin mengurai cerita lama, menggali kisah usang yang konon akan menjadi kisah klasik untuk masa depan. Satu keinginan sama dari kebulatan tekad walau banyaknya rintangan yang harus dihadapai. Jarak dan waktu memanglah mempengeruhi perjalanan penggalian masa lalu, namun kami punya tekad bahwa anak – anak langit ini pasti akan berkumpul sejenak melapas penatnya hidup, berkumpul sejenak untuk kembali bercanda, berkumpul sejenak untuk bercerita bahwa kita pernah bersama…!!! Dalam satu falsafat Nobis pleseant ante omnea silvae
Minggu, 27 April 2008
Cintaku//…. Aku rindu kamu……!!!
Aku masih berumur 16 tahun saat kuletakkan baju, Tshirt, celana panjang, celana pendek, kaos kutang bulukan yang kupakai sore, malam atau tidur siang kedalam tas berukuran sedang berwarna hitam. Tak ketinggalan sabun mandi yang masih berbungkus warna merah putih kami biasa bilang merk liboi (lifeboy), Sikat gigi, dan minyak rambut andalan anak esempe jaman dulu “Tancho”. Semua kujejalkan gak beraturan dalam bag hingga susah untuk dikancingkan. Tak ada sedu sedan selayaknya orang yang ingin pergi sebagaimana dalam sinetron – sinetron kita, maklum bapak masih diladang sibuk dengan sawah sempit kami yang mau panen. Adik –adikku lagi sekolah… ini adalah perjalanan pertamaku meninggalkan cintaku untuk waktu yang lama. Aku juga tak berharap banyak untuk kemesraan sebuah perpisahan seperti tangisan atau buraian air mata. Tooh aku cuman pergi sejauh 4 jam perjalanan dengan bus antar kota dalam propinsi yang sampai saat ini masih teringat jelas warna tulisan itu.” ISNASARI JAYA ANTAR KOTA DALAM PROPINSI” dipojok belakang sebelah kiri bus itu.
Ku pakai sepatu kasogi warna hitam itu, sepatu kelas tiga pemberian kakak untuk sekolah yang masih lumayan bagus buat jalan dari pada pake sandal kata kakakku sewaktu mengatakannya’ padahal aku tahu dalam hatinya ia ingin mengatakan “aku belum mampu membelikan sepatu yang baru Wan..,!!.. masih banyak kepentingan lain selain hanya sebuah sepatu,. Aku hanya tersenyum memikirkan itu, buat apa gengsi..!!! bagi keluarga kami rasa gengsi merupakan urutan ke 6666 . lalu apa yang nomor 1? Ibuku memberi pelajaran yang utama adalah kesahajaan dan nrimo dengan pemberian yang ada… “Le.. wonk urip iku kudu nrimo, gak usah kakean polah… tapi yo kudu iktiar,…” kata –kata itu sering mampir ketelinga yang konon kata ibu, aku terlalu mucil dalam keluarga ini. (aaah ibuku yang agung kau kembali keharibaan yang maha agung terlalu cepat) dirumah yang lumayan panjang saat ini pukul 09.00 wita. Aku sendiri, tersenyum getir. Aku akan pergi cintaku.. aku akan pergi, dan hati kecilku mengatakan ini langkah kecilku perdana untuk benar – benar pergi dan entah kapan aku benar – benar kembali..
Cintaku…. Aku berdiri didepanmu namun aku membelakangimu. Dengan kaos warna abu – abu celana jeans tak bermerk, sepatu kasogi warna hitam dan minyak rambut tancho. Tas ransel warna hitam itu belum kuletakkan dipundak rapuhku.
Cintaku… ijinkan aku sejenak memandang indahnya dunia dimana aku dibesarkan, dimana aku bisa mengeja tiap sudut – sudut ruangmu, dimana aku bisa mengejawantahkan kata – kata bijak ibuku yang agung yang telah meninggalkanku dua tahun lalu dengan ketegaran anak kecil, dimana aku dapat membaca kasih sayang yang dalam dari ayahku dalam diamnya. Dimana aku bermain, berlari, bekerja, berteriak, diam, sembunyi dan menangis. Semua itu hartaku yang kau berikan untukku. Semua itu adalah harta yang gak akan terbayarkan dalam kisah hidup dan umurku cinta….!!!
Cintaku,… Biar kusaksikan satu persatu pepohonan yang sedari dulu memberiku keteduhan dan kedamaian. Dikanan kiri itu ada pohon randu yang rindang.. tiap tahun menghasilkan buah kapuk, semakin tua buah hijau itu menghitam dan mengeluarkan sesuatu yang lembut, Cintaku, jika engkau mengerti dan memahami dan ku tentu yakin dan memahami bahwa ketika sesuatu yang lembut berwarna putih yang keluar dari buah randu yang berterbangan itu mengingatkan kita pada salju, namun itu salju di daerah tropis tiga belas derajat lintang selatan.
Pohon mangga didepan itu cinta… berapa nilai yang telah diberikan dalam riak – riak perjalanan waktu ini, disitulah aku mampu sedikit memberi dari ranum kuning dan manis buah mangga, layaknya penderma budiman saat kupeluk dan kupanjat dengan semangat dan dinantikan oleh teman, tetangga, saudara ketika mendongakkan kepala mengharapkan jatuhnya sang ranum ketika ku diatasnya. Walau terkadang semut merah meradang karena terusik dengan kecongkakanku menerobos setiap jengkal kekuasaannya. Walau kadang semut hitam membuat merah dan bengkak kulit sensitifku.
Lihat pula duri – duri salak itu cinta…!!! Duri penghidupanku, duri yangmemberiku semangat dan memberiku bekal selama aku bersekolah. Duri yang tajam namun tak menyakitkan dijiwaku yang selalu lapar akan sesuatu yang baru. Dari celah duri hitam itu cinta… kutambang berjenjang – jenjang piala raja yang kelak akan selalu kurindu, dari piala raja itu kumampu berdiri sejajar sekarang ini, dari celah duri tajam itu cinta.. ini benar, dan ini nyata…!!! Senyata manusia merasakan cinta pertamanya. Kadang aku ingin merasakan kembali tajam duri yang dahulu tak sengaja melukai tangan rapuhku hingga berdarah, aku tak menyesal darah pernah keluar dari duri itu karena aroma piala raja yang keluar dari celah – celah tajam itu mengingatkanku pada aroma kesturi dan harumnya kuntum melati.
Cintaku…. Biarlah kuhayati sejenak aroma persahabatan yang pernah kurasakan selama ini, persahabatan para anak petani kere dengan daki menggunung disekujur leher, ketiak dan pangkal paha. Memberi warna cerah ilalang tua yang terbakar, namun tunas baru itu memberi makanan lezat bagi sapi – sapi kami. Juga memberi berbagai permainan unik dan menarik. Persahabatan dan kejahilan para remaja tanggung mencuri kelapa muda, mencuri jagung, atau kacang tanah di ladang – ladang kami juga. Kecerobohan dan kenakalan kami merupakan warna yang sempat kusimpan dan kurekam dalam harddisk otak kiriku yang cenderung semakin melemah…
Cintaku… biarlah kupandang sejenak lalu – lalang orang lewat dan menegurku dengan teguran persahabatan dan persaudaraan.. karena dijalan ini aku akan meninggalkanmu. Aku benar – benar akan berlalu cintaku, sepuluh menit lagi…. !!!
Kuangkat tas ranselku, kutatap engkau lekat – lekat cintaku, ku berpamitan dalam bathin untuk bapakku yang tentunya disengaja meninggalkankanku pagi ini karena ketidaktegaannya melihatku pergi…. Aku mengerti bapak menyayangiku dengan diam…
Hingga kini……………….!!!
Sembilan tahun cinta… aku meninggalkanmu, walau sesekali aku pulang menengok kesederhanaanmu, namun itu tak membuatku puas, karena aku ingin abadi bersamamu, setidaknya hatiku menyatu dalam keabadian cintamu….
Sembilan tahun cinta.. engkau tetap tegak mematung membaca fenomena perkembangan keluarga kami, dengan tetap kesahajaan yang kau berikan... cinta yang akan lekang dan retak, seiring semakin rapuhnya engkau dimakan rayap dan digerogotin tikus, di hujani hujan dan dipanaskan mentari…
Rumah cintaku…. Engkau cinta keempat yang dapat kuungkapkan setelah ibu, bapak dan keluargaku…
Cintaku… kadang aku rindu… rindu suara orang yang mengatakan… “ iku arek satus rongpuluh kidul iku tooo…??? Terlalu istimewa orang mengatakan itu buatku…..
Ku pakai sepatu kasogi warna hitam itu, sepatu kelas tiga pemberian kakak untuk sekolah yang masih lumayan bagus buat jalan dari pada pake sandal kata kakakku sewaktu mengatakannya’ padahal aku tahu dalam hatinya ia ingin mengatakan “aku belum mampu membelikan sepatu yang baru Wan..,!!.. masih banyak kepentingan lain selain hanya sebuah sepatu,. Aku hanya tersenyum memikirkan itu, buat apa gengsi..!!! bagi keluarga kami rasa gengsi merupakan urutan ke 6666 . lalu apa yang nomor 1? Ibuku memberi pelajaran yang utama adalah kesahajaan dan nrimo dengan pemberian yang ada… “Le.. wonk urip iku kudu nrimo, gak usah kakean polah… tapi yo kudu iktiar,…” kata –kata itu sering mampir ketelinga yang konon kata ibu, aku terlalu mucil dalam keluarga ini. (aaah ibuku yang agung kau kembali keharibaan yang maha agung terlalu cepat) dirumah yang lumayan panjang saat ini pukul 09.00 wita. Aku sendiri, tersenyum getir. Aku akan pergi cintaku.. aku akan pergi, dan hati kecilku mengatakan ini langkah kecilku perdana untuk benar – benar pergi dan entah kapan aku benar – benar kembali..
Cintaku…. Aku berdiri didepanmu namun aku membelakangimu. Dengan kaos warna abu – abu celana jeans tak bermerk, sepatu kasogi warna hitam dan minyak rambut tancho. Tas ransel warna hitam itu belum kuletakkan dipundak rapuhku.
Cintaku… ijinkan aku sejenak memandang indahnya dunia dimana aku dibesarkan, dimana aku bisa mengeja tiap sudut – sudut ruangmu, dimana aku bisa mengejawantahkan kata – kata bijak ibuku yang agung yang telah meninggalkanku dua tahun lalu dengan ketegaran anak kecil, dimana aku dapat membaca kasih sayang yang dalam dari ayahku dalam diamnya. Dimana aku bermain, berlari, bekerja, berteriak, diam, sembunyi dan menangis. Semua itu hartaku yang kau berikan untukku. Semua itu adalah harta yang gak akan terbayarkan dalam kisah hidup dan umurku cinta….!!!
Cintaku,… Biar kusaksikan satu persatu pepohonan yang sedari dulu memberiku keteduhan dan kedamaian. Dikanan kiri itu ada pohon randu yang rindang.. tiap tahun menghasilkan buah kapuk, semakin tua buah hijau itu menghitam dan mengeluarkan sesuatu yang lembut, Cintaku, jika engkau mengerti dan memahami dan ku tentu yakin dan memahami bahwa ketika sesuatu yang lembut berwarna putih yang keluar dari buah randu yang berterbangan itu mengingatkan kita pada salju, namun itu salju di daerah tropis tiga belas derajat lintang selatan.
Pohon mangga didepan itu cinta… berapa nilai yang telah diberikan dalam riak – riak perjalanan waktu ini, disitulah aku mampu sedikit memberi dari ranum kuning dan manis buah mangga, layaknya penderma budiman saat kupeluk dan kupanjat dengan semangat dan dinantikan oleh teman, tetangga, saudara ketika mendongakkan kepala mengharapkan jatuhnya sang ranum ketika ku diatasnya. Walau terkadang semut merah meradang karena terusik dengan kecongkakanku menerobos setiap jengkal kekuasaannya. Walau kadang semut hitam membuat merah dan bengkak kulit sensitifku.
Lihat pula duri – duri salak itu cinta…!!! Duri penghidupanku, duri yangmemberiku semangat dan memberiku bekal selama aku bersekolah. Duri yang tajam namun tak menyakitkan dijiwaku yang selalu lapar akan sesuatu yang baru. Dari celah duri hitam itu cinta… kutambang berjenjang – jenjang piala raja yang kelak akan selalu kurindu, dari piala raja itu kumampu berdiri sejajar sekarang ini, dari celah duri tajam itu cinta.. ini benar, dan ini nyata…!!! Senyata manusia merasakan cinta pertamanya. Kadang aku ingin merasakan kembali tajam duri yang dahulu tak sengaja melukai tangan rapuhku hingga berdarah, aku tak menyesal darah pernah keluar dari duri itu karena aroma piala raja yang keluar dari celah – celah tajam itu mengingatkanku pada aroma kesturi dan harumnya kuntum melati.
Cintaku…. Biarlah kuhayati sejenak aroma persahabatan yang pernah kurasakan selama ini, persahabatan para anak petani kere dengan daki menggunung disekujur leher, ketiak dan pangkal paha. Memberi warna cerah ilalang tua yang terbakar, namun tunas baru itu memberi makanan lezat bagi sapi – sapi kami. Juga memberi berbagai permainan unik dan menarik. Persahabatan dan kejahilan para remaja tanggung mencuri kelapa muda, mencuri jagung, atau kacang tanah di ladang – ladang kami juga. Kecerobohan dan kenakalan kami merupakan warna yang sempat kusimpan dan kurekam dalam harddisk otak kiriku yang cenderung semakin melemah…
Cintaku… biarlah kupandang sejenak lalu – lalang orang lewat dan menegurku dengan teguran persahabatan dan persaudaraan.. karena dijalan ini aku akan meninggalkanmu. Aku benar – benar akan berlalu cintaku, sepuluh menit lagi…. !!!
Kuangkat tas ranselku, kutatap engkau lekat – lekat cintaku, ku berpamitan dalam bathin untuk bapakku yang tentunya disengaja meninggalkankanku pagi ini karena ketidaktegaannya melihatku pergi…. Aku mengerti bapak menyayangiku dengan diam…
Hingga kini……………….!!!
Sembilan tahun cinta… aku meninggalkanmu, walau sesekali aku pulang menengok kesederhanaanmu, namun itu tak membuatku puas, karena aku ingin abadi bersamamu, setidaknya hatiku menyatu dalam keabadian cintamu….
Sembilan tahun cinta.. engkau tetap tegak mematung membaca fenomena perkembangan keluarga kami, dengan tetap kesahajaan yang kau berikan... cinta yang akan lekang dan retak, seiring semakin rapuhnya engkau dimakan rayap dan digerogotin tikus, di hujani hujan dan dipanaskan mentari…
Rumah cintaku…. Engkau cinta keempat yang dapat kuungkapkan setelah ibu, bapak dan keluargaku…
Cintaku… kadang aku rindu… rindu suara orang yang mengatakan… “ iku arek satus rongpuluh kidul iku tooo…??? Terlalu istimewa orang mengatakan itu buatku…..
Selasa, 22 April 2008
Ingkar....!!!
Panasnya gurun ini boleh saja dibayangkan dalam film – film laga atau dokumentasi – dokumentasi. Namun panasnya gurun pasir ini tak pernah aku alami dengan nyata dalam benak fikiranku yang sempit. Aku tahu cuman tahu bahwa digurun pasir itu teramat kering dan panas. Kehidupan melata yang ada adalah kadal , ular atau entah apapun itu yang kutahu konon cukup tahan dengan ganasnya udara gurun. Tapi siang ini aku terkapar tak berdaya.Tertelungkup menahan dahaga yang tak terperi. Muka kering kerontangku tertelungkup dalam pasir yang sangat panas. Untuk membalikkan badan menghadap kecongkakan mentaripun aku tak mampu. Kulitku yang sebelumnya kuning lansat sawo matang menjadi kering, terkelupas dan menghitam atau mungkin biru lebam. Kenapa aku bisa sampai disini batinku tanpa daya. Padahal malam tadi aku masih bercengkrama dengan botol – botol bir dan alunan music kafe yang menghentak – hentak. Ditemani penyanyi – penyanyi seksi yang memamerkan kemulusan dan keindahan paha, belahan ranum buah dada yang seolah – olah menantangku untuk kujamah dengan rakus dan bernafsu. Masih kuingat pula teman – teman yang setengah teller memangku seorang gadis dan bercengkrama seolah dunia hanya dia dan gadis dalam pangkuannya. Masih jelas pula tegukan – keras itu dengan hangat membasahi kerongkonganku di dalam ruangan yang dingin dan penuh asap rokok. Tak ada nama tuhan ataupun hantu disini. Semua nyata senyata kesenang – senangan kami menghumbar nafsu yang konon kata orang – orang berkotbah adalah nafsu setan. Entah sudah berapa juta uang yang tertarik dari kartu kredit kami secara bergantian seiring pindah – pindahnya kami dari satu kafe ke kafe lain, dari satu diskotek ke diskotek yang lain. Tak ada rasa sayang ataupun eman untuk berteguk – teguk minuman yang membuat fikiran melayang.
Padahal untuk sekedar melemparkan uang ribuan ke pengemis dipinggir jalanpun tak pernah kami lakukan. Semua bulsyeeet kata kami. Tak ada yang baik dalam hidup ini, kenapa pula kita harus berlaku baik. Tapi itu adalah kisah tadi malamku, siang ini aku tergolek disebuah gurun yang tak kukenal dan aku tak berdaya. Malaikat maut seperti sudah melayang – layang dalam pancaran mentari yang terik dan menyengat. Tak ada fatamorgana yang sering dialami oleh orang – orang yang pernah melihatnya dan yang sangat kuharapkan saat ini untuk mengobati kepayahanku yang terangat sangat. Tak ada kehidupan lain selain seonggok tubuh yang konon adalah “manusia” yaitu aku sendiri, semua yang kulirik adalah pasir, pasir, pasir dan pasir panas. Dan kehidupan yang tersisa itu sendiri juga sudah mulai redup kehilangan keperkasaannya dan kesombongannya. Bertolak belakang dengan kesombongan dan sok keperkasaan semalam diatas ranjang empuk laknat wanita penghibur itu. Kata tuhan yang tak pernah kuucapkan dalam kehidupanku yang kuanggap sempurna ini lamat – lamat keluar dengan sendirinya. Aku malu “tuhan”..!!! pada semua kesombonganku, aku malu mengeluh padamu pada siang yang terik ini, aku malu atas semua yang pernah kuhadapi selama masa hitam kehidupanku sebelum hari yang sangat berat ini. Namun aku tak tahan tuhanku. Aku tak mampu menaggung penderitaanku, janganlah kau bunuh aku siang ini, janganlah kau cabut seonggok daging bernyawa namun tak berdaya ini. Aku juga masih takut akan neraka yang kau ancamkan dan pernah kudengar dimasa kecilku tuhan “kataku merintih pilu sepilu – pilunya. Berilah aku kesempatan kedua untuk mengulangi kehidupanku kejalan yang benar, aku tahu semua yang kulalui salah. Bukankah tuhan yang kukenal adalah tuhan yang maha pengasih dan penyayang? Kasih dan sayang yang tak akan habis buat mahkluknya tuhan…!!! Berilah aku kasih sayang itu, berilah aku semua yang pernah kudengar itu. Kasih sayangmu yang telah lalu memang telah kusia – siakan dengan percuma namun untuk kesempatan kedua ini. Tak sedetikpun akan kulupakan keagungan dan kebenaranmu hingga akhir hayatku. Biarlah kesia – siaanku masa muda yang telah kulewati kukubur dalam – dalam sedalam palung terdalam yang pernah diukur manusia. Aku berjanji tuhan, bahkan aku berani bersumpah atas namamu. Aku memang manusia yang tak tahu malu, namun bukankah engkau lebih tahu sifat mahluk ciptaanmu ini ? ampuni aku tuhan, ampuni aku tuhan, ampuni aku tuhan,… lirihan – lirihan itu semakin pelan dan menghilang, air mata yang sedikit mengalir keluar dari mataku dengan cepat menguap diterpa angin dan teriknya mentari, dunia juga telah mulai gelap dalam penglihatanku, semakin pekat dan aku hilang hingga ….
Aku tersadar, suara guyuran air shower membangunkan tidur lelapku, rasa pening akibat minuman yang kutegak semalam masih terasa, desiran dingin AC hotel itu tak kurasakan, akibat hawa panas minuman keras yang masih bekerja dalam sel – sel tubuh. Ranjang empuk itu menjadi saksi bisu kebinatangan kami sebagai mahluk laknat yang tak berterimakasih akan karunia tuhan. Tanpa berpakaian kumelangkah mengikuti suara air mengalir, mengikuti irama nafsuku yang mulai naik kembali….
tiada janji, tiada rintihan dalam gurun, apalagi kata tuhan dalam kamus hidupku, semua mimpi mengerikan itu menguap bersama uap panas yang dihasilkan dari pancuran shower kamar mandi hotel ini….
Lagi –lagi manusia lupa akan janji terhadap tuhannya..
(renungan dimalam yang sunyi dihari jumat)
Tarakan, april 2008
Padahal untuk sekedar melemparkan uang ribuan ke pengemis dipinggir jalanpun tak pernah kami lakukan. Semua bulsyeeet kata kami. Tak ada yang baik dalam hidup ini, kenapa pula kita harus berlaku baik. Tapi itu adalah kisah tadi malamku, siang ini aku tergolek disebuah gurun yang tak kukenal dan aku tak berdaya. Malaikat maut seperti sudah melayang – layang dalam pancaran mentari yang terik dan menyengat. Tak ada fatamorgana yang sering dialami oleh orang – orang yang pernah melihatnya dan yang sangat kuharapkan saat ini untuk mengobati kepayahanku yang terangat sangat. Tak ada kehidupan lain selain seonggok tubuh yang konon adalah “manusia” yaitu aku sendiri, semua yang kulirik adalah pasir, pasir, pasir dan pasir panas. Dan kehidupan yang tersisa itu sendiri juga sudah mulai redup kehilangan keperkasaannya dan kesombongannya. Bertolak belakang dengan kesombongan dan sok keperkasaan semalam diatas ranjang empuk laknat wanita penghibur itu. Kata tuhan yang tak pernah kuucapkan dalam kehidupanku yang kuanggap sempurna ini lamat – lamat keluar dengan sendirinya. Aku malu “tuhan”..!!! pada semua kesombonganku, aku malu mengeluh padamu pada siang yang terik ini, aku malu atas semua yang pernah kuhadapi selama masa hitam kehidupanku sebelum hari yang sangat berat ini. Namun aku tak tahan tuhanku. Aku tak mampu menaggung penderitaanku, janganlah kau bunuh aku siang ini, janganlah kau cabut seonggok daging bernyawa namun tak berdaya ini. Aku juga masih takut akan neraka yang kau ancamkan dan pernah kudengar dimasa kecilku tuhan “kataku merintih pilu sepilu – pilunya. Berilah aku kesempatan kedua untuk mengulangi kehidupanku kejalan yang benar, aku tahu semua yang kulalui salah. Bukankah tuhan yang kukenal adalah tuhan yang maha pengasih dan penyayang? Kasih dan sayang yang tak akan habis buat mahkluknya tuhan…!!! Berilah aku kasih sayang itu, berilah aku semua yang pernah kudengar itu. Kasih sayangmu yang telah lalu memang telah kusia – siakan dengan percuma namun untuk kesempatan kedua ini. Tak sedetikpun akan kulupakan keagungan dan kebenaranmu hingga akhir hayatku. Biarlah kesia – siaanku masa muda yang telah kulewati kukubur dalam – dalam sedalam palung terdalam yang pernah diukur manusia. Aku berjanji tuhan, bahkan aku berani bersumpah atas namamu. Aku memang manusia yang tak tahu malu, namun bukankah engkau lebih tahu sifat mahluk ciptaanmu ini ? ampuni aku tuhan, ampuni aku tuhan, ampuni aku tuhan,… lirihan – lirihan itu semakin pelan dan menghilang, air mata yang sedikit mengalir keluar dari mataku dengan cepat menguap diterpa angin dan teriknya mentari, dunia juga telah mulai gelap dalam penglihatanku, semakin pekat dan aku hilang hingga ….
Aku tersadar, suara guyuran air shower membangunkan tidur lelapku, rasa pening akibat minuman yang kutegak semalam masih terasa, desiran dingin AC hotel itu tak kurasakan, akibat hawa panas minuman keras yang masih bekerja dalam sel – sel tubuh. Ranjang empuk itu menjadi saksi bisu kebinatangan kami sebagai mahluk laknat yang tak berterimakasih akan karunia tuhan. Tanpa berpakaian kumelangkah mengikuti suara air mengalir, mengikuti irama nafsuku yang mulai naik kembali….
tiada janji, tiada rintihan dalam gurun, apalagi kata tuhan dalam kamus hidupku, semua mimpi mengerikan itu menguap bersama uap panas yang dihasilkan dari pancuran shower kamar mandi hotel ini….
Lagi –lagi manusia lupa akan janji terhadap tuhannya..
(renungan dimalam yang sunyi dihari jumat)
Tarakan, april 2008
Selasa, 15 April 2008
Ku Ingin...........!!!
Aku Ingin..
Lebih Mengenalmu,
Bukan hanya dari sudut gelap Pohon mangga
Aku ingin
Lebih Mengenalmu,
Bukan hanya dari sudut angan dunia maya....!!!
Karena kuingin mengenalmu dengan Hati,
bukan dengan Nafsu
Kuingin
Engkau mengenalku,....
Bukan karena engkau dan aku sendiri,
Ku Ingin,
engkau mengenalku...,
Ku ingin
Aku lebih mengenalmu...
Sungguh,............!!!
Selasa, 08 April 2008
Yang indah disini ternyata senyummu......!!!
Jalanan itu belum kukenal ketika aku mengikuti saudaraku menuju arah kost – kostan sempit di daerah yang menurutku separuh kumuh, kepadatan jakarta memang tak bisa dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia terlebih di kalimantan yang relative masih sepi. Lorong sempit yang kulalui mengingatkanku pada kehidupan Jakarta yang selama ini hanya kulihat dan kudengar dari siaran televisi dimana sering terjadi banjir maupun seringnya antri minyak tanah. Tembok – tembok tinggi dan dipenuhi bekas poster calon kepala daerah yang lalu masih menyisakan slogan kampanyenya, lumut – lumut juga tak mau ketinggalan ikut meramaikan kehidupan tembok dan gang sempit yang kulewati. Grafiti – graffiti para kawula muda yang mungkin saja sedang mabuk ketika menorehkannya juga tak mau ketinggalan menjejali mataku akan perjalanan panjang di gang sempit ini. Pemuda bertampang preman, anak –anak dengan keluguan Jakarta dan gadis – gadis ikut meramaikan suasana. Ada anak muda yang sedang duduk, gadis yang mencuci baju anak kecil setengah telanjang merengek – rengek minta dibelikan es krim. Jangan Tanya drainase disini, air parit bercampur kertas dan kain bekas berwarna hitam tak karuan.di sudut – sudut gang. Ada juga penjual makanan semisal bakso, pempek dan lain – lain makanan Jakarta yang gak familiar di mataku.
Sekitar 10 menit sampai jugalah aku pada kamar kost yang dimaksud saudaraku tersebut. Rumah kost itu lumayan besar apabila bukan di gang sempit Jakarta, namun karena kawasan yang terlalu padat dengan bangunan – bangunan besar, maka bangunan tersebut kelihatan kecil dan biasa – biasa saja. Dengan tiga lantai dan sekitar 30 kamar kost dengan ukuran 3m x 3m yang berarti setiap lantai memiliki 10 kamar kost yang di pisahkan dengan gang sempit ditengahnya. Warna asli bangunan itu sebenarnya adalah warna hijau namun entah sudah berapa puluh tahun tak tersentuh bau cat, maka dindingnya seolah – olah tak pernah tersentuh oleh nyamannya bau cat baru. Kamar saudaraku di lantai bawah dan terletak pada petak nomor tiga sebelah kanan. “Tak ada keindahan disini.. bathinku” bagaimana mereka bisa betah dengan lingkungan yang sempit ini bathinku lagi. Tapi apabila sudah biasa mungkin saja bukan hal yang sulit. Sebagaimana dahulu aku pernah tinggal dikamar kost dengan ukuran yang sama selama satu tahun di tarakan namun bukan dalam gang yang sempit seperti disini. Kuletakkan tas dan laptopku, kurebahkan badanku pada kasur yang ada. Panasnya udara Jakarta sedikit terobati dengan kipas angin yang terus berputar dengan ngos- ngosan kecapean dimakan usia senja, lima menit kemudian aku terlelap hingga sore hari…
Pagi itu kubuka mataku dan kulihat jam tangan yang tergeletak disudut kasur “pukul 6 pagi” aku berguman sendirian, namun jam dinding kamar masih jam 5 pagi.. ahh.. kan beda satu waktu antara Indonesia tengah dan Indonesia barat. Kebisaanku bangun pagi keluar rumah menghirup udara segar dengan sesekali lompat – lompat atau sekedar lari – lari kecil dipinggir jalan raya tak dapat kulakukan.. daerah ini sangat – sangat tidak cocok untuk aktiitas olah raga, jangankan untuk berolahraga untuk bergerak aja susah banget kataku suatu ketika kepada saudaraku dengan gurauan. Panasnya suhu Jakarta di malam hari kurang menyenyakkan tidurku semalam.. kipas angin juga tak henti – hentinya berputar namun tak juga menghilangkan rasa gerahku dengan udara kering dan panas kota ini. Pagi itu aku sendiri di kamar kost ini, gak ada yang kulakukan. ingin sekedar jalan2 namun tak tahu harus jalan kemana, daerah ini terlalu asing buatku, alhasil buku – buku andrea hirata yang semalam kubeli dengan beringas kubaca… buku pertama andrea dengan laskar pelanginya menjadi buku wajib dan favoritku pagi hingga siang hari ini, maklum saudaraku lagi kerja yang gak mungkin ditinggalkan (maklum dijakarta harus disiplin, cari kerja susah.. apalagi jaman sekarang kata dia berargumen...) Buku tersebut cukup mengobati kekesalanku dengan pengap dan panasnya Jakarta. Dengan banyolan –banyolan ala andrea dan kisah –kisah sedih nya membuat aku terlena dan melupakan waktu yang seakan cepat beranjak siang. Kira – kira telah kulewati 200 halaman, hape sony ericson kesayangan berdering mendendangkan irama lagu harmony milik padi yang selalu menemaniku disaat – saat aku lagi sendiri seperti ini. sms di terima, segera kubuka dengan malas – malasan seolah tak ingin kubaca seiring dengan hanyutnya akan bacaan andrea yang menggelitik.. “ rupanya sms dari saudaraku yang meninggalkanku pagi ini dengan rutinitas kerjanya di Jakarta yang tak bisa ditinggalkan (beda banget dengan kerjaanku ya,,..) “Wan…” katanya dalam sms, ntar kita jalan – jalan kemonas yuuk? Atau keancol juga bagus, terserah kamu aja mau kemana… tapi aku bawa cewek temenku ya… gak malu kan? Kata smsnya menambahkan… aku tersenyum..”malu bathinku” emang kenapa harus malu enak lagi ada cewek he,,he,,, (selera sok Playboyku kambuh) bisa digombalin dan hidup terasa lebih indah dengan adanya wanita fikirku lagi. Segera terlupa sejenak buku digenggaman dan segera membalas sms dengan singkat dan gak padat..´( meniru istilah singkat dan padat milik khalayak ramai) asik lagi… kataku, malah enak nafsu playboyku bisa kambuh dan kutambahin simbol senyum dan ketawa lalu kukirim balik kedia.Pukul setengah dua belas kulirik jam didinding kamar, kuletakkan buku yang sedari pagi menemaniku dan kuraih handuk didalam tas, ku ambil pula sabun, shampoo sachetan, odol dan sikat gigi segera ku beranjak kekamar mandi, karena saudaraku tentu saja akan segera pulang dan mengajakku jalan. Selesai mandi selang tak berapa lama dugaanku benar, dia datang dengan membawa nasi padang yang kupesan pagi tadi sebelum dia berangkat kerja. Dengan rendang dan sambal kesukaanku kulahap dengan semangat karena rasa lapar yang sebelumnya tak kurasakan.. “mana cewek yang tadi di sms kataku penasaran” ya belom datang doonk katanya menjawab, “mungkin bentar lagi datang... dia juga bingung gak ada acara, dia bilang mending ikutan jalan katanya menambahkan.. “ emangnya temen kantor? Kataku. Cantikkah? Kataku dengan senyum jail penuh harap, dia hanya tersenyum simpul, “ntar liat aja sendiri..” katanya dengan ogah – ogahan dan segera pergi mandi.
Setengah jam kemudian ia yang kutunggu benar – benar datang, dengan tas khas cewek dipundak, dengan jaket warna kuning dipadu baju kaos warna merah muda yang dan celana panjang jeans warnahitam membuat aku sejenak terpana namun dengan tatapan seolah – olah cuek dan takmemperhatikannya, maklum jaga image, namun sesekali kulirik wajah manisnya dengan tatapan – tatapan sok cuek. Namun tak dapat kupungkiri dia teramat manis, gaya sok borjunya serta cara diaberbicara dengan saudaraku mengingatkan aku pada seseorang yang nun jauh disana yang sampaisaat ini menginspirasi hidupku akan arti persahabatan. Pada pertemuan yang belum terlalu lama aku belum mampu dan berani untuk lebih jauh memulai pembicaraan, cukup dengan sesekalimemandang wajah manisnya terasa sudah cukup untuk saat itu. Hingga perjalanan dengan buswaymemang aku tentukan untuk alat transportasi aku juga belum terlalu memulai pembicaraan. Saudaraku cukup mengerti bagaimana aku pengen naek busway, karena tentu saja di tarakan belumada dan naek taksi tentunya costnya juga lebih tinggi. Tujuan yang dipilih pada hari ini adalah monasdengan pertimbangan waktu yang sempit dan sudah menjelang sore. Tak ada kesan yang terlalumendalam yang kutorehkan kepadanya, hanya kata – kata biasa dan pembicaraan – pembicaraaniseng untuk lebih memper akrab suasana semisal gombalan – gombalan ringan bahwa pejalanan initeramat enak ditemani seorang gadis yang manis walaupun hanya dengan busway. Sepulang dariMonas kami sudah cukup kelelahan dan kembali keperaduan masing – masing dengan cerita dankenangan masing – masing serta perjanjian besok pagi ke Dufan...
Malam ini kuhabiskanwaktuku dengan laskar pelangi yang sempat tertunda......
Minggu pagi ini dia tetap datang dengan senyum manisnya yang sama, senyum yang membuatku terus ingin memandang jika saja tak ada orang yang peduli. Namun norma masyarakat tak memungkinkan aku melakukannya dan bisa saja membuat dia malu atau bahkan marah, karena hingga saat ini aku belum tahu siapa dia. Dia ( si Nona manis itu..) datang namun dengan busana yang berbeda tapi tak menghilangkan kesan manis, cantik dan borjuis. Dengan celana jeans biru, jaket kain warna coklat dan kaos berkerah warna biru muda cenderung keputih dan kerah biru selaras dengan kulit putih dan body proporsionalnya kami berangkat. Sampai kedufan udara panas jakarta menyengat kulitku yang kata orang – orang sih agak – agak hitam gitu he,,he,,, namun hal itu tak terlalu kurasakan.. aku juga sudah mulai akrab dengannya. Kadang kami membuat banyolan – banyolan seakan – akan telah mengenal lama dan cukup dekat. Aku juga mulai berani menggodanya serta dia juga sudah tak terlalu canggung denganku. Kadang karena takut aku nyasar (yang harusnya tak perlu ditakutkan ya... padahal hampir separuh wilayah negeri Indonesia ini pernah kujamah dengan ego avonturirku) dia memegang tanganku dengan sangat perhatiannya. Kadang juga sudah mulai menggelanjuti lenganku pada lengannya apabila dia lelah. Banyak wahana yang kami lewati berdua. Dari mulai wahana ekstrim tornado, arung jeram sampai wahana yang cukup romantis semisal boom – boom car (gimana nulisnya ya... bum2kar gitu ya?) dan istana boneka. Semua memberi kenangan tersendiri dalam benak dan fikiran kami masing –masing. Hari beranjak sore dengan cepat, ada satu wahana baru yang ingin dan akan kami coba namun terlalu banyak antrian, saudaraku dan temen satunya memutuskan untuk tak mengikuti langkah kami, alhasil dalam antrian panjang itulah aku dan dia bercerita panjang lebar dan mulai mengenal satu sama lain dengan lebih dalam. Namun ada satu yang harus diingat dalam hal ini kami tak lebih dan tak bukan hanya sebagai kawan, tanpa harapan dan keinginan apapun, hanya teman jalan disiang hari ini yang bisa membuat hidup lebih cerah dan indah... masih aku ingat gelanjut manjanya dalam lenganku atau pun perhatiannya terhadapku seakan – akan takut aku nyasar atau hilang dari kerumunan jakarta yang kejam. Ucapan Terima kasih sempat pula aku utarakan kepadanya atas kesediaaanya menemaniku dengan pertemanan yang singkat dan hari – hari yang relatif lebih baik ketimbang ngurung seorang diri dengan buku – buku andrea hirata yang terkenal.
Di pluit yang sempit dan tak ada keindahan itu ternyata senyummu adalah sesuatu yang terindah yang sempat kudapatkan walau hanya sejenak...
Besoknya aku memulai perjalanan dinas kantorku ke Blok M hingga seminggu di sebuah hotel dengan kenangan itu....
(Terima kasih temen manisku.....)
Jakarta 08 april 2008,
Sekitar 10 menit sampai jugalah aku pada kamar kost yang dimaksud saudaraku tersebut. Rumah kost itu lumayan besar apabila bukan di gang sempit Jakarta, namun karena kawasan yang terlalu padat dengan bangunan – bangunan besar, maka bangunan tersebut kelihatan kecil dan biasa – biasa saja. Dengan tiga lantai dan sekitar 30 kamar kost dengan ukuran 3m x 3m yang berarti setiap lantai memiliki 10 kamar kost yang di pisahkan dengan gang sempit ditengahnya. Warna asli bangunan itu sebenarnya adalah warna hijau namun entah sudah berapa puluh tahun tak tersentuh bau cat, maka dindingnya seolah – olah tak pernah tersentuh oleh nyamannya bau cat baru. Kamar saudaraku di lantai bawah dan terletak pada petak nomor tiga sebelah kanan. “Tak ada keindahan disini.. bathinku” bagaimana mereka bisa betah dengan lingkungan yang sempit ini bathinku lagi. Tapi apabila sudah biasa mungkin saja bukan hal yang sulit. Sebagaimana dahulu aku pernah tinggal dikamar kost dengan ukuran yang sama selama satu tahun di tarakan namun bukan dalam gang yang sempit seperti disini. Kuletakkan tas dan laptopku, kurebahkan badanku pada kasur yang ada. Panasnya udara Jakarta sedikit terobati dengan kipas angin yang terus berputar dengan ngos- ngosan kecapean dimakan usia senja, lima menit kemudian aku terlelap hingga sore hari…
Pagi itu kubuka mataku dan kulihat jam tangan yang tergeletak disudut kasur “pukul 6 pagi” aku berguman sendirian, namun jam dinding kamar masih jam 5 pagi.. ahh.. kan beda satu waktu antara Indonesia tengah dan Indonesia barat. Kebisaanku bangun pagi keluar rumah menghirup udara segar dengan sesekali lompat – lompat atau sekedar lari – lari kecil dipinggir jalan raya tak dapat kulakukan.. daerah ini sangat – sangat tidak cocok untuk aktiitas olah raga, jangankan untuk berolahraga untuk bergerak aja susah banget kataku suatu ketika kepada saudaraku dengan gurauan. Panasnya suhu Jakarta di malam hari kurang menyenyakkan tidurku semalam.. kipas angin juga tak henti – hentinya berputar namun tak juga menghilangkan rasa gerahku dengan udara kering dan panas kota ini. Pagi itu aku sendiri di kamar kost ini, gak ada yang kulakukan. ingin sekedar jalan2 namun tak tahu harus jalan kemana, daerah ini terlalu asing buatku, alhasil buku – buku andrea hirata yang semalam kubeli dengan beringas kubaca… buku pertama andrea dengan laskar pelanginya menjadi buku wajib dan favoritku pagi hingga siang hari ini, maklum saudaraku lagi kerja yang gak mungkin ditinggalkan (maklum dijakarta harus disiplin, cari kerja susah.. apalagi jaman sekarang kata dia berargumen...) Buku tersebut cukup mengobati kekesalanku dengan pengap dan panasnya Jakarta. Dengan banyolan –banyolan ala andrea dan kisah –kisah sedih nya membuat aku terlena dan melupakan waktu yang seakan cepat beranjak siang. Kira – kira telah kulewati 200 halaman, hape sony ericson kesayangan berdering mendendangkan irama lagu harmony milik padi yang selalu menemaniku disaat – saat aku lagi sendiri seperti ini. sms di terima, segera kubuka dengan malas – malasan seolah tak ingin kubaca seiring dengan hanyutnya akan bacaan andrea yang menggelitik.. “ rupanya sms dari saudaraku yang meninggalkanku pagi ini dengan rutinitas kerjanya di Jakarta yang tak bisa ditinggalkan (beda banget dengan kerjaanku ya,,..) “Wan…” katanya dalam sms, ntar kita jalan – jalan kemonas yuuk? Atau keancol juga bagus, terserah kamu aja mau kemana… tapi aku bawa cewek temenku ya… gak malu kan? Kata smsnya menambahkan… aku tersenyum..”malu bathinku” emang kenapa harus malu enak lagi ada cewek he,,he,,, (selera sok Playboyku kambuh) bisa digombalin dan hidup terasa lebih indah dengan adanya wanita fikirku lagi. Segera terlupa sejenak buku digenggaman dan segera membalas sms dengan singkat dan gak padat..´( meniru istilah singkat dan padat milik khalayak ramai) asik lagi… kataku, malah enak nafsu playboyku bisa kambuh dan kutambahin simbol senyum dan ketawa lalu kukirim balik kedia.Pukul setengah dua belas kulirik jam didinding kamar, kuletakkan buku yang sedari pagi menemaniku dan kuraih handuk didalam tas, ku ambil pula sabun, shampoo sachetan, odol dan sikat gigi segera ku beranjak kekamar mandi, karena saudaraku tentu saja akan segera pulang dan mengajakku jalan. Selesai mandi selang tak berapa lama dugaanku benar, dia datang dengan membawa nasi padang yang kupesan pagi tadi sebelum dia berangkat kerja. Dengan rendang dan sambal kesukaanku kulahap dengan semangat karena rasa lapar yang sebelumnya tak kurasakan.. “mana cewek yang tadi di sms kataku penasaran” ya belom datang doonk katanya menjawab, “mungkin bentar lagi datang... dia juga bingung gak ada acara, dia bilang mending ikutan jalan katanya menambahkan.. “ emangnya temen kantor? Kataku. Cantikkah? Kataku dengan senyum jail penuh harap, dia hanya tersenyum simpul, “ntar liat aja sendiri..” katanya dengan ogah – ogahan dan segera pergi mandi.
Setengah jam kemudian ia yang kutunggu benar – benar datang, dengan tas khas cewek dipundak, dengan jaket warna kuning dipadu baju kaos warna merah muda yang dan celana panjang jeans warnahitam membuat aku sejenak terpana namun dengan tatapan seolah – olah cuek dan takmemperhatikannya, maklum jaga image, namun sesekali kulirik wajah manisnya dengan tatapan – tatapan sok cuek. Namun tak dapat kupungkiri dia teramat manis, gaya sok borjunya serta cara diaberbicara dengan saudaraku mengingatkan aku pada seseorang yang nun jauh disana yang sampaisaat ini menginspirasi hidupku akan arti persahabatan. Pada pertemuan yang belum terlalu lama aku belum mampu dan berani untuk lebih jauh memulai pembicaraan, cukup dengan sesekalimemandang wajah manisnya terasa sudah cukup untuk saat itu. Hingga perjalanan dengan buswaymemang aku tentukan untuk alat transportasi aku juga belum terlalu memulai pembicaraan. Saudaraku cukup mengerti bagaimana aku pengen naek busway, karena tentu saja di tarakan belumada dan naek taksi tentunya costnya juga lebih tinggi. Tujuan yang dipilih pada hari ini adalah monasdengan pertimbangan waktu yang sempit dan sudah menjelang sore. Tak ada kesan yang terlalumendalam yang kutorehkan kepadanya, hanya kata – kata biasa dan pembicaraan – pembicaraaniseng untuk lebih memper akrab suasana semisal gombalan – gombalan ringan bahwa pejalanan initeramat enak ditemani seorang gadis yang manis walaupun hanya dengan busway. Sepulang dariMonas kami sudah cukup kelelahan dan kembali keperaduan masing – masing dengan cerita dankenangan masing – masing serta perjanjian besok pagi ke Dufan...
Malam ini kuhabiskanwaktuku dengan laskar pelangi yang sempat tertunda......
Minggu pagi ini dia tetap datang dengan senyum manisnya yang sama, senyum yang membuatku terus ingin memandang jika saja tak ada orang yang peduli. Namun norma masyarakat tak memungkinkan aku melakukannya dan bisa saja membuat dia malu atau bahkan marah, karena hingga saat ini aku belum tahu siapa dia. Dia ( si Nona manis itu..) datang namun dengan busana yang berbeda tapi tak menghilangkan kesan manis, cantik dan borjuis. Dengan celana jeans biru, jaket kain warna coklat dan kaos berkerah warna biru muda cenderung keputih dan kerah biru selaras dengan kulit putih dan body proporsionalnya kami berangkat. Sampai kedufan udara panas jakarta menyengat kulitku yang kata orang – orang sih agak – agak hitam gitu he,,he,,, namun hal itu tak terlalu kurasakan.. aku juga sudah mulai akrab dengannya. Kadang kami membuat banyolan – banyolan seakan – akan telah mengenal lama dan cukup dekat. Aku juga mulai berani menggodanya serta dia juga sudah tak terlalu canggung denganku. Kadang karena takut aku nyasar (yang harusnya tak perlu ditakutkan ya... padahal hampir separuh wilayah negeri Indonesia ini pernah kujamah dengan ego avonturirku) dia memegang tanganku dengan sangat perhatiannya. Kadang juga sudah mulai menggelanjuti lenganku pada lengannya apabila dia lelah. Banyak wahana yang kami lewati berdua. Dari mulai wahana ekstrim tornado, arung jeram sampai wahana yang cukup romantis semisal boom – boom car (gimana nulisnya ya... bum2kar gitu ya?) dan istana boneka. Semua memberi kenangan tersendiri dalam benak dan fikiran kami masing –masing. Hari beranjak sore dengan cepat, ada satu wahana baru yang ingin dan akan kami coba namun terlalu banyak antrian, saudaraku dan temen satunya memutuskan untuk tak mengikuti langkah kami, alhasil dalam antrian panjang itulah aku dan dia bercerita panjang lebar dan mulai mengenal satu sama lain dengan lebih dalam. Namun ada satu yang harus diingat dalam hal ini kami tak lebih dan tak bukan hanya sebagai kawan, tanpa harapan dan keinginan apapun, hanya teman jalan disiang hari ini yang bisa membuat hidup lebih cerah dan indah... masih aku ingat gelanjut manjanya dalam lenganku atau pun perhatiannya terhadapku seakan – akan takut aku nyasar atau hilang dari kerumunan jakarta yang kejam. Ucapan Terima kasih sempat pula aku utarakan kepadanya atas kesediaaanya menemaniku dengan pertemanan yang singkat dan hari – hari yang relatif lebih baik ketimbang ngurung seorang diri dengan buku – buku andrea hirata yang terkenal.
Di pluit yang sempit dan tak ada keindahan itu ternyata senyummu adalah sesuatu yang terindah yang sempat kudapatkan walau hanya sejenak...
Besoknya aku memulai perjalanan dinas kantorku ke Blok M hingga seminggu di sebuah hotel dengan kenangan itu....
(Terima kasih temen manisku.....)
Jakarta 08 april 2008,
Sabtu, 29 Maret 2008
Perang Batin ( II )
untuk kawanku yang tak mampu mengutarakan isi hatinya...
Siang ini fikiranku menerawang gak karuan, semua angan - angan seolah berlomba - lomba untuk menjadi yang pertama dalam fikaranku yang semakin jutek dan sumpek, namun tak dapat dipungkiri semua bayangmu selalu menjadi prioritas, kedipan matamu yang jail, ceplosan - ceplosan spontan yang menjadi jough - jough ringan semakin membuat aku terkesima, aku juga bukan seorang pecinta, dalam hal ini bukan seorang yang pandai mengutarakan isi hatiku dihadapan wanita, semua kutahan karena aku tak mampu mengutarakannya. Lidah terasa kelu terlebih dihadapan seorang gadis yang mempesona sepertimu, semua seolah pudar menjadi satu ketika kulihat wajah tirus nan imut itu. ah... terlalu cepat memang untuk mengatakan itu cinta. Baru tiga kali kita bertemu itu juga bukan dalam waktu yang lama, bagaimana aku bisa membaca semua fikiranmu tentang aku, bagaimana aku bisa tahu perasaan itu jika waktu terasa singkat dan terasa tak berarti... lalu aku harus bagaimana? aku juga semakin bingung... Apakah ini hanya sekedar kagum, ataukah ini perasaan lain? apa sih sebenarnya kagum itu? dan apa dan bagaimana perasaan lain itu? semua tak jelas dan tak pasti. lalu apa pula yang pasti dalam hidup ini? semua pertanyaan itu menjadi satu dan ingin meminta jawabannya namun tak satupun dapatku penuhi jawaban - jawaban konyol itu...
Kawan khayalku pernah memberiku sebuah solusi bahwa jalani saja dulu jangan terburu oleh perasan yang mungkin menyesatkan, namun kawan khayalku yang lain memberi pernyataan lain yang mengatakan.. "ungkapkan saja kawan.." Apakah engkau seorang pecundang? sehingga tak mampu mengutarakan hatimu yang sesungguhnya? anggap saja sebagi perjalanan waktu, biar singkat kalo berkesan tancap aja gas itu!! jangan takut dengan hasil, semua usaha ada dua paket berbeda dan bertolak belakang, yakni sukses atau gagal, dia menambahkan. namun kawan khayal yang seorang lagi dengan bijak justru memberi keraguan yang semakin besar, ia mengatakan bahwa perjalanan singkat bukanlah perjuangan tanpa pengorbanan kawan, lakukan dan fikirkan secara matang sebelum engkau bertindak "katanya pula". aku yakin engkau bukan tipikal orang yang menerima keadaan terlebih keadaan yang menyakitkan seperti kegagalan dalam hidup... iaberusaha dengan sungguh - sungguh meyakinkan diriku, semua butuh proses panjang untuk sebuah perjalanan, terlebih perjalanan cinta. Semua ada turun dan naiknya sebagaimana proses perjalanan waktu ataupun istilah roda yang selalu berputar kadang ada naik dan kadang turun... semua itu benar - benar perlu proses panjang kawan timpalnya lagi.... Semua fikiran dari teman - teman khayal semakin membuat aku bingung dan berkecamuk, dari sekian pendapat berbeda siapa yang terbaik dan siapa yang dapat dipertimbangkan nasehatnya? aaah... janganlah membuat aku semakin bingung kawan.. kataku dalam desahan panjang. kalo memanglah aku seorang pecundang katakanlah dengan jujur!!! "untuk dirinya yang menghinggapi setiap fikiranku, aku terima kalau diriku memanglah pecundang," aku mendesah kepada mereka, namun melanjutkan perkataanku yang sempat terputus oleh desahan.. "tapi untuk hal lain aku tak terima, karena aku bukanlah seorang pecundang..!!! dalam banyak segi aku lebih unggul dibandingkan manusia rata - rata. Dalam hal percintaan juga bukan hal yang luar biasa... entah berapa banyak sang ratu hinggap kesanubariku namun semua bukan pilihanku, semua menjadi kenanganku akan perlunya kedewasaan bukan hanya dari satu segi, perlu banyak pertimbangan khusus untuk memilih atau dipilih kataku dengan intonasi yang agak keras dan pasti... lalu mengapa tak kau utarakan secara langsung saja? kata temen khayalku yang pertama, bukankah kau telah lalui banyak ratu yang hinggap kesanubari konyolmu itu, bukankah itu melambangkan kedewasaanmu dalam bercinta, atau itu hanya alasan konyol untuk menutupi bahwa kau memang masih hijau dalam hal ini? jujur sajalah kawan tak perlu kau tutup - tutupi, semua orang bisa membaca kata hatimu yang sesungguhnya katanya kemudian... "bukan begitu sobat" sanggahku, untuk hal ini berbeda, dia memang berbeda dalam hal lain... dia mencirikan keinginan hati kecilku.. kataku menambahkan, setidaknya untuk saat ini, dari cara bicara, dari bahan - ahan bacaan yang dia sukai, dari hal - hal kehidupan yang dia sukai dan lain - lain sungguh mencirikan tipikal gadis keinginanku dari dahulu yang belum pernah kutemui, semua yang kutemui bukan yang seperti ini kawan, kataku lagi... Lalu bagaimana engkau dapat menilai bahwa dia gadis pilihanmu? kata teman khayalku yang lain.. padahal baru tiga kali pula kau bertemu, itu juga dalam waktu yang kau bilang terlalu singkat dan padat!! apakah engkau dapat menilai seseorang dengan tiga kali pertemuan? bukankah engkau telah diberi ilmu? bahwa ada tiga test untuk menilai seseorang? apakah engkau lupa itu kawan.. kata temenku melanjutkan.., Bukan aku lupa kawan...!!! kataku mengelak dengan elakan cepat, namun apakah engkau dapat membaca perasaan gundah - gulanaku akhir - akhir ini, bagaimana aku memikirkan dia selalu? bagaimana tersiksanya diriku apabila harus menanggung sesuatu yang menyakitkan? ini adalah soal perasaaan kawan, perasaan itu berbeda dengan logika.... kataku selanjutnya, menghindari opini kawan yang selalu menjerumuskan dan berubah - ubah, terkadang perasaan kadang tidak dapat diukur dari lama atau pendeknya pertemuan, gak bisa juga diukur dari proses pengenalan karakter yang panjang, semua itu buulsyeeeet kawan, perasaan bukan itu sanggahku. biarpun dalam pandangan pertama terkadang kata hati yang tak mampu membahongi diri sendiri kalo itu sungguh dan perlu untuk diutarakan... kataku dengan berapi - api melanjutkan. Semua opinimu semua memang dapat diterima, Namun izinkan aku dengan opiniku sendiri kali ini...suaraku semakin mengeras dan meyakinkan, aku ingin mengungkapkan kepada dia dengan sesungguhnya... Siapa aku, dan siapa dia dalam fikiranku saat ini, soal perasaan bukan waktu yang singkat yang aku fikirkan dan aku butuhkan, bukan pula pengenalan karakter yang aku perlukan, bukan pula opinimu yang selalu menghantui semua gundah gulanaku, biarlah aku seorang pecundang yang hanya mampu mengutarakan ini lewat kata hatiku, namun aku benar - benar ingin mengutarakannya...bahwa aku ingin menjadi sesutu yang istimewa dihatinya, bahwa aku tak peduli biar sesingkat apapun perkenalan kami, aku tak peduli. Aku ingin dia mengerti bahwa mungkin saja dengan semakin jauh kami saling mengenal kami akan saling memahami, dan dikala kami telah saling memahami ternyata perasaan itu ternyata berubah atau berbeda boleh saja dia meninggalkanku atau aku yang meninggalkannya, karena itu adalah haknya setelah dia mengenalku, ataupun hakku setelah mengenalnya. Namun yang pasti aku ingin sekali mengenalnya dengan lebih baik sehingga aku mampu mengejawantahkan fikiranku, apakah ini sekedar kagum atas kecantikannya ataukah ini cinta... aku juga ingin dia mengerti aku, dan aku ingin mengatakan inilah aku tiada yang lain dan tak ada yang kututup - tutupi... semuanya kupersembahkan buatnya... memang dalam dunia nyata aku tak mampu mengutarakannya, lidahku seakan kelu dan detakan dadaku menyentak - nyentak, semoga saja dengan impian ini dia mengerti dan tahu akan maksud dan arah tujuanku.....
Perang batinku semakin memudar seiring mata yang terkatup karena kantuk....!!!
Tarakan 30 maret 2008 buat sahabatku diperaduannya....
Siang ini fikiranku menerawang gak karuan, semua angan - angan seolah berlomba - lomba untuk menjadi yang pertama dalam fikaranku yang semakin jutek dan sumpek, namun tak dapat dipungkiri semua bayangmu selalu menjadi prioritas, kedipan matamu yang jail, ceplosan - ceplosan spontan yang menjadi jough - jough ringan semakin membuat aku terkesima, aku juga bukan seorang pecinta, dalam hal ini bukan seorang yang pandai mengutarakan isi hatiku dihadapan wanita, semua kutahan karena aku tak mampu mengutarakannya. Lidah terasa kelu terlebih dihadapan seorang gadis yang mempesona sepertimu, semua seolah pudar menjadi satu ketika kulihat wajah tirus nan imut itu. ah... terlalu cepat memang untuk mengatakan itu cinta. Baru tiga kali kita bertemu itu juga bukan dalam waktu yang lama, bagaimana aku bisa membaca semua fikiranmu tentang aku, bagaimana aku bisa tahu perasaan itu jika waktu terasa singkat dan terasa tak berarti... lalu aku harus bagaimana? aku juga semakin bingung... Apakah ini hanya sekedar kagum, ataukah ini perasaan lain? apa sih sebenarnya kagum itu? dan apa dan bagaimana perasaan lain itu? semua tak jelas dan tak pasti. lalu apa pula yang pasti dalam hidup ini? semua pertanyaan itu menjadi satu dan ingin meminta jawabannya namun tak satupun dapatku penuhi jawaban - jawaban konyol itu...
Kawan khayalku pernah memberiku sebuah solusi bahwa jalani saja dulu jangan terburu oleh perasan yang mungkin menyesatkan, namun kawan khayalku yang lain memberi pernyataan lain yang mengatakan.. "ungkapkan saja kawan.." Apakah engkau seorang pecundang? sehingga tak mampu mengutarakan hatimu yang sesungguhnya? anggap saja sebagi perjalanan waktu, biar singkat kalo berkesan tancap aja gas itu!! jangan takut dengan hasil, semua usaha ada dua paket berbeda dan bertolak belakang, yakni sukses atau gagal, dia menambahkan. namun kawan khayal yang seorang lagi dengan bijak justru memberi keraguan yang semakin besar, ia mengatakan bahwa perjalanan singkat bukanlah perjuangan tanpa pengorbanan kawan, lakukan dan fikirkan secara matang sebelum engkau bertindak "katanya pula". aku yakin engkau bukan tipikal orang yang menerima keadaan terlebih keadaan yang menyakitkan seperti kegagalan dalam hidup... iaberusaha dengan sungguh - sungguh meyakinkan diriku, semua butuh proses panjang untuk sebuah perjalanan, terlebih perjalanan cinta. Semua ada turun dan naiknya sebagaimana proses perjalanan waktu ataupun istilah roda yang selalu berputar kadang ada naik dan kadang turun... semua itu benar - benar perlu proses panjang kawan timpalnya lagi.... Semua fikiran dari teman - teman khayal semakin membuat aku bingung dan berkecamuk, dari sekian pendapat berbeda siapa yang terbaik dan siapa yang dapat dipertimbangkan nasehatnya? aaah... janganlah membuat aku semakin bingung kawan.. kataku dalam desahan panjang. kalo memanglah aku seorang pecundang katakanlah dengan jujur!!! "untuk dirinya yang menghinggapi setiap fikiranku, aku terima kalau diriku memanglah pecundang," aku mendesah kepada mereka, namun melanjutkan perkataanku yang sempat terputus oleh desahan.. "tapi untuk hal lain aku tak terima, karena aku bukanlah seorang pecundang..!!! dalam banyak segi aku lebih unggul dibandingkan manusia rata - rata. Dalam hal percintaan juga bukan hal yang luar biasa... entah berapa banyak sang ratu hinggap kesanubariku namun semua bukan pilihanku, semua menjadi kenanganku akan perlunya kedewasaan bukan hanya dari satu segi, perlu banyak pertimbangan khusus untuk memilih atau dipilih kataku dengan intonasi yang agak keras dan pasti... lalu mengapa tak kau utarakan secara langsung saja? kata temen khayalku yang pertama, bukankah kau telah lalui banyak ratu yang hinggap kesanubari konyolmu itu, bukankah itu melambangkan kedewasaanmu dalam bercinta, atau itu hanya alasan konyol untuk menutupi bahwa kau memang masih hijau dalam hal ini? jujur sajalah kawan tak perlu kau tutup - tutupi, semua orang bisa membaca kata hatimu yang sesungguhnya katanya kemudian... "bukan begitu sobat" sanggahku, untuk hal ini berbeda, dia memang berbeda dalam hal lain... dia mencirikan keinginan hati kecilku.. kataku menambahkan, setidaknya untuk saat ini, dari cara bicara, dari bahan - ahan bacaan yang dia sukai, dari hal - hal kehidupan yang dia sukai dan lain - lain sungguh mencirikan tipikal gadis keinginanku dari dahulu yang belum pernah kutemui, semua yang kutemui bukan yang seperti ini kawan, kataku lagi... Lalu bagaimana engkau dapat menilai bahwa dia gadis pilihanmu? kata teman khayalku yang lain.. padahal baru tiga kali pula kau bertemu, itu juga dalam waktu yang kau bilang terlalu singkat dan padat!! apakah engkau dapat menilai seseorang dengan tiga kali pertemuan? bukankah engkau telah diberi ilmu? bahwa ada tiga test untuk menilai seseorang? apakah engkau lupa itu kawan.. kata temenku melanjutkan.., Bukan aku lupa kawan...!!! kataku mengelak dengan elakan cepat, namun apakah engkau dapat membaca perasaan gundah - gulanaku akhir - akhir ini, bagaimana aku memikirkan dia selalu? bagaimana tersiksanya diriku apabila harus menanggung sesuatu yang menyakitkan? ini adalah soal perasaaan kawan, perasaan itu berbeda dengan logika.... kataku selanjutnya, menghindari opini kawan yang selalu menjerumuskan dan berubah - ubah, terkadang perasaan kadang tidak dapat diukur dari lama atau pendeknya pertemuan, gak bisa juga diukur dari proses pengenalan karakter yang panjang, semua itu buulsyeeeet kawan, perasaan bukan itu sanggahku. biarpun dalam pandangan pertama terkadang kata hati yang tak mampu membahongi diri sendiri kalo itu sungguh dan perlu untuk diutarakan... kataku dengan berapi - api melanjutkan. Semua opinimu semua memang dapat diterima, Namun izinkan aku dengan opiniku sendiri kali ini...suaraku semakin mengeras dan meyakinkan, aku ingin mengungkapkan kepada dia dengan sesungguhnya... Siapa aku, dan siapa dia dalam fikiranku saat ini, soal perasaan bukan waktu yang singkat yang aku fikirkan dan aku butuhkan, bukan pula pengenalan karakter yang aku perlukan, bukan pula opinimu yang selalu menghantui semua gundah gulanaku, biarlah aku seorang pecundang yang hanya mampu mengutarakan ini lewat kata hatiku, namun aku benar - benar ingin mengutarakannya...bahwa aku ingin menjadi sesutu yang istimewa dihatinya, bahwa aku tak peduli biar sesingkat apapun perkenalan kami, aku tak peduli. Aku ingin dia mengerti bahwa mungkin saja dengan semakin jauh kami saling mengenal kami akan saling memahami, dan dikala kami telah saling memahami ternyata perasaan itu ternyata berubah atau berbeda boleh saja dia meninggalkanku atau aku yang meninggalkannya, karena itu adalah haknya setelah dia mengenalku, ataupun hakku setelah mengenalnya. Namun yang pasti aku ingin sekali mengenalnya dengan lebih baik sehingga aku mampu mengejawantahkan fikiranku, apakah ini sekedar kagum atas kecantikannya ataukah ini cinta... aku juga ingin dia mengerti aku, dan aku ingin mengatakan inilah aku tiada yang lain dan tak ada yang kututup - tutupi... semuanya kupersembahkan buatnya... memang dalam dunia nyata aku tak mampu mengutarakannya, lidahku seakan kelu dan detakan dadaku menyentak - nyentak, semoga saja dengan impian ini dia mengerti dan tahu akan maksud dan arah tujuanku.....
Perang batinku semakin memudar seiring mata yang terkatup karena kantuk....!!!
Tarakan 30 maret 2008 buat sahabatku diperaduannya....
Kamis, 27 Maret 2008
Langganan:
Postingan (Atom)