Rabu, 10 Desember 2008

Melintasi Utara kalimantan timur….

Melintasi Utara kalimantan timur….
Anda belum pernah ke Kalimantan Timur?
Jika Pernah, Namun apakah anda pernah ke Kalimantan Timur bagian Utara?
Jika belum dan belum mengerti jalur yang ada, maka saya beri sedikit gambaran untuk dapat jalan – jalan ke utara kalimantan timur..
1. KeTarakan….
Tarakan merupakan kota tipe sedang yang giat – giatnya berkembang, ada beberapa alternatif untuk dapat mampir dan singgah ke Tarakan. Anda dapat menggunakan jalur Darat, laut maupun udara… Jika ingin lebih menantang perjalanan anda dapat menempuh perjalanan darat melalui Samarinda dengan Bis Jurusan Berau (tanjung Redep) dan tanjung Selor, lalu anda Dapat menggunakan speed boat untuk menyebrang Ke tarakan.. untuk fasilitas Hotel yang standart dan berkocek agak tipis jangan kuatir karena sebagi daerah transit yang cukup kompetitif dalam persaingan perhotelan maka anda diberi banyak pilihan untuk menginap.
Jika anda ingin melintasi Samudra dalam perjalanan. Anda dapat menggunakan alternatif jalur Laut yakni dengan menggunakan kapal PELNI yang ada, baik TIDAR, DOBONSOLO atau yang lainnya (sesuai keadaan) Kapal PELNi ini melintasi Pelabuhan Tarakan tiga kali dalam seminggu (jadwal yang pasti kurang dimengerti, maklum Cuma sekali mencoba lewat jalur ini)
Jalur Udara juga cukup representatif dan cukup nyaman apabila anda ada keperluan yang sifatnya mendesak dan perjalanan yang cepat. Pesawat udara selalu melakukan penerbangan ke Tarakan dengan Transit ke Balikpapan. Baik dari Medan, Pekan baru, Makassar, Jogja, maupun Surabaya atau Kota – kota lainnya di Indonesia

2. Ke Nunukan?
Nunukan, jika kita berbicara nunukan maka kita pasti terbayang dengan Malaysia, ya memang nunukan merupakan Pintu Gerbang Indonesia dengan Malaysia khususnya dengan Negara bagian Sabah. Ada beberapa alternatif untuk dapat ke Nunukan, bagi orang – orang Sulawesi selatan dan tengah biasanya jalur Laut merupakan jalur yang utama, Dengan menggunakan Kapal Pelni yang ada mereka bisa mencapai nunukan. Namun bagi anda yang ingin menggunakan jalur Udara juga tidak terlalu sulit. Yakni dengan menggunakan maskapai penerbangan Ke Tarakan lalu dilanjutkan ke Nunukan, atau setelah anda via Pesawat Udara Ke Tarakan anda bisa menggunakan Speedboat ke Nunukan melalui pelabuhan Tengkayu Tarakan (kira – kira 15 Menit Dari Bandara) yang dapat ditempuh menggunakan Taksi bandara atau ojek maupun angkot.
3. Ke Malinau…
Malinau, Kabupaten Konservasi di kalimantan Timur bagian Utara. Banyak alternatif bisa ditempuh untuk kesanabaik darat, laut maupun Udara. Jika Anda ingin nuansa daratan Kalimantan yang Eksotik (jalan yang kadang Rusak, kiri kanan jalan Ilalang atau berhutan he,,he,,) anda bisa menggunakan Bis Dari Samarinda ke Tenjung Redep/Tanjung Selor lalu dilanjutkan ke Malinau. Jika Anda menggunakan jalur Udara maka anda transit Katarakan dilanjutkan dengan menggunakan pesawat Perintis (Ex. MAF) menuju Malinau. Tau bisa juga dengan melanjutkan melalui jalur Sungai dengan menggunakan speed boat di Pelabuhan Tengkayu Tarakan.
4. Ke Tanjung Selor…
Sebagai Kabupaten Induk dengan Kota – kota di sekitarnya Tanjung Selor dapat di tempuh dengan jalur Darat dengan menggunakan Bis dari Pusat Ibukota Propinsi (Samarinda) atau menggunakan pesawat udara ke Tarakan dilanjutkan menggunakan speedboat di Pelabuhan Tengkayu Tarakan ke Tanjung Selor.
5. Ke Berau???
Berau relatif lebih dekat dengan Kalimantan Timur bagian selatan. Pilihan terbayak adalah menggunakan Bis Jurusan Samarinda Tanjung Redep, atau menggunakan Pesawat Udara ditemindung Samarinda ke Kalimarau Tanjung Redep.. nah di Berau ini ada Pulau Derawan jadi ………. Silahkan klik – klik di google pasti ada yang lebih jelas….

Sumber dari Pengalaman Pribadi……


Selasa, 02 Desember 2008

Jumat, 21 November 2008

Resah...


Kenal? Emang kita gak saling kenal? Aaah ada – ada aja kamu tuh Maz...!!! dari dulu kan kita memang saling kenal!!! Emang mau mengenal yang bagaimana lagi? Dari A sampai Z gitu? Ya gak bisa donk...., kan aku punya privaci sendiri he,,he,,he, Lagian sih jauh di Riyadh sana, coba cari kerja di Indonesia aja ” Si Risma nyerocos menjawab satu pertanyaan anehku lewat sms yang dia kirimkan.Yaaaah memang pertanyaan aneh untuk sebuah ungkapan yang bisa dibilang bingung... bingung untuk mengatakan bagimana dan apa, bingung untuk memulai yang bagaimana dan bilamana, hal ini sungguh pertama dan mungkin yang paling mendebarkan dalam semua sesi hidupku. Bagaimana tidak, toh dia juga sudah lama banget aku kenal, tiga tahun boy, tiga tahun bersama semenjak masih kuliah. Mana lagi dia juga sudah empat tahun berjalannya waktu setelah aku meninggalkan kampus itu, tidak juga pudar dalam istilah pertelekomunikasian belum mis komunication alias masih sering hubungan walau kadang sekedar lewat sms, chating atau nelp ala kadarnya. Lalu apa juga yang membuatku bingung, apa yang membuatku salah tingkah dan apa juga yang membuatku harus mengatakan itu? Sampai saat inipun aku masih terkadang berfikir sendiri, kok bisa gitu ya.... apa ada yang salah dengan diriku? Apakah aku belum pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis? Toh aku telah malang melintang di Dunia, beberapa Negera Eropa Asia Timur sampai Amerika Juga Pernah aku singgahi dalam waktu cukup lama, sehingga Semua jawaban itu juga termentahkan oleh fikiran kacauku sendiri.
Aku rasa juga tidak ada yang salah dengan diriku, diri ini tetaplah diriku yang dulu, tidak mampu mengungkapkan apa yang sebenarnya ada dalam fikiranku namun selama ini akan kucoba melakukannya dengan perbuatan, lalu emang perbuatan apa juga yang telah aku lakukan? Toh aku juga tidak pernah berbuat apa – apa selain sebuah sms yang mengatakan atau boleh dibilang menanyakan apakah aku boleh mengenal? Lalu untuk pertanyaan tentang menjalin hubungan dengan lawan jenis itu juga beberapa kali aku lakukan bahkan dengan wanita yang berbeda budaya dan kewarganegaraan, namun semua perasaan itu berbeda dengan perasaan yang saat ini aku rasakan, aku benar – benar bingung. Mungkin juga karena dia telah lama menjadi temanku, sehingga hal itu menjadi sebab? ”Mungkin juga iya ya” bathinku menjawabnya. Lalu? Apa lagi? Entahlah..... semua jadi runyam dan tak ada ujung bersama angin malam dimalam dingin ini yang meracau terus mengiringi fikiran dangkalku .
Cerita ini dimulai ketika sebulan lalu ketika aku sengaja memudikkan diri ke kampung halaman, yang sebenarnya tak kurencanakan, Targetku lebaran ini sebenarnya adalah ingin sesekali menikmati hari raya di Negeri orang yang selama empat tahun ini aku tempati. Toh baru bulan kemarin diawal puasa ketika sepulang dari menemani Direktur Perusahaanku menghadiri sebuah acara dijakarta untuk jadi notulen plus jadi asisten pribadinya dengan alasan kesamaan budaya (orang Indonesia red), kusempatkan beberapa hari mampir kerumah orang tua di Purwodadi untuk sekedar melepas kangen. Namun rencana untuk berlebaran di Riyadh ini akhirnya kubatalkan, apa sebab? Tentu ada sebabnya yakni untuk sebuah misi yang boleh dibilang mision of Imposible. Ingin kebandung di sela-sela liburanku di Purwodadi...
Ketika dengan sengaja kuhampiri dia dengan dekat semua rencana itu buyar, lidahku terasa kelu, aku terasa seperti sebuah patung yang membisu, tak dapat berbuat apa –apa dan tak mampu mengungkapkan apapun juga. Semua sirna, semua hilang lenyap bersama awan dan awang –awang. Padahal telah aku putuskan semua pernik – pernik kehidupanku yang memberiku warna selama aku di Negeri Gurun ini, semua dengan terang telah aku putuskan dengan jelas bahwa semua kutinggalkan, semua yang aku gantungkan, semua yang aku ambangkan, semua yang aku tak pernah ikat terlalu kencang telah aku urai dengan sejelas – jelasnya untuk menggapai satu asa, menggapai satu harapan yang sungguh dahsyat, yakni ingin mendekati dirinya dengan serius, wanita dari bangsaku sendiri, negeri yang telah sembilan tahun kutinggalkan semenjak kuliahku di Tokyo hingga masa kerjaku di Riyadh saat ini. Aku ingin mendekatinya dengan ikatan yang kencang, sekencang –kencang ikatan yang mudah – mudahan hal itu tak akan pudar. Itulah harapan utamaku. Namun cerita semua jadi lain, semua arah berbelok karena diriku sendiri. Semua menjadi berantakan karena kekeluan lidahku, atau mungkin karena aku terlalu berfikir terlalu jauh dan panjang?
Setelah kegagalan rencana itu aku kembali ke Jakarta untuk beberapa hari, kota dimana tempat aku dilahirkan dan dibesarkan sebelum akhirnya aku harus pindah ke Purwodadi karena tuntutan ekonomi yang tak memungkinkan aku dan semua keluargaku untuk tinggal di kota Jakarta ini. Namun fikiranku tak pernah berpaling darinya, dikala sendiri di atas ranjang hotel yang kutempati, aku ketikkan sebuah sms pertanyaan yang kurakit seperti sebuah puisi. Sms itupun walaupun telah sekian lama terhapus dalam memori hapeku namun masih melekat dalam memori kepalaku yang makin penuh dan bergumpal ini. Demikian aku tulis sebuah sms.........
Aku ingin....
Aku ingin mengenalmu,
Bukan karena engkau dan aku sendiri,
Karena aku ingin mengenalmu dengan hati bukan dengan nafsu,
Aku ingin, aku mengenalmu
Dan aku ingin, engkau mengenalku...
Simpel banget bukan? Sesimple karakter yang kucantumkan dalam teks sms yang akhirnya dia jawab dengan sms pula seperti jawabannya diatas. Pada dasarnya aku ingin lebih mengenalnya bukan karena dia dan aku saat ini sendiri, aku tak ingin mengenalnya karena dia jadi pelarianku, dan aku juga tak ingin dia mengenalku sebagai pelariannya. Karena pada dasarnya sebuah perkenalan dengan tipikal yang seperti itu menurutku sangat tidak baik dan tidak cocok, aku ingin berjalan secara proses yang alamiah. Tanpa embel – embel alasan tersebut. Dan pada baris ketiga juga aku tekankan (Karena aku ingin mengenalmu dengan hati bukan dengan nafsu),disini bahwa aku tak ingin menjalin hubungan ini menjadi tercoreng karena adanya alasan nafsu, namun tak lebih karena alasan hati yang bersih dan murni. Sebagai sebuah insan yang ingin mencari jalan dengan keridhaan yang hakiki, dengan alasan tersebut akhirnya aku tekankan bahwa aku ingin sekali lagi mengenalnya dengan lebih baik dan dia dengan baik – baik mengenalku, (Aku ingin, aku mengenalmu Dan aku ingin, engkau mengenalku...) mengenal dalam hal ini semua keburukanku dan semua kebaikanku sebagi manusia biasa dan sangat biasa – biasa saja.
Dia....??? siapa sih dia? Dia namanya Risma!!!
Apa sih dan siapa sih Risma? Apakah dia hebat? Mungkin orang akan bertanya seperti itu ketika orang – orang dapat membaca fikiranku. Risma, dia adalah gadis Bandung anak Duta Besar Indonesia di Jepang kala itu. Karena mengikuti orang tuanya yang diplomat maka risma juga harus melanjutkan masa kuliahnya di Jepang dua semester dibawahku. Lalu apa kehebatan Risma? Menurutku tidak juga, karena dia adalah Risma yang gak sehebat Cat woman, atau super woman, dia juga tak sejago Xena dalam semua serial laganya. Dia Manusia (perempuan) kebanyakan juga pada umumnya. Yang menjalani hidup normal dan bermartabat karena tingkah lakunya walaupun lahir dari rahim dari seorang ibu yang berkecukupan di tengah masyarakat yang masih tergolong ekonomi rendah.
Setinggi apakah Si Risma ini? Mungkin pula pertanyaan ini patut ditanyakan orang yang lagi – lagi dapat membaca fikiran konyolku. Menurutku ketinggian dia juga gak setinggi bintang dilangit, gak setinggi artis holywood ataupun para artis. Ketinggiannya secara fisik bisa jadi iya, karena dalam sebuah kesempatan aku pernah mencoba berdiri sejajar sekedar ingin mengukur keposisian selama berjalan. Dia cukup tinggi secara fisik yang kadang membuat aku minder apakah aku cocok bila berjalan disampingnya. Namun semua itu kutepis, kerana semua itu bukankah ada yang mengatur. Siapa sih yang menyangka kalo dia akhirnya kelak menjadi lebih tinggi atau siapasih yang menyangka kalo seandainya akhirnya dia menjadi cebol, semua itu tentu ada sebab dan akibatnya selain karena faktor genetis.
Lalu apakah dia cantik? Tentu aku dapat mengatakan dengan kesungguhan bahwa dia memang cantik, dengan bodi proporsionalnya dan tinggi semampainya tidak ada yang tidak bilang kalo dia tidak tak cantik, semua pasti mengatakan hal tersebut. Namun kecantikannya menurutku bukan hanya dari segi fisik, (Untuk istilahku sendiri bagi wanita cantik yang seperti ini yakni, Cantik gak hanya fisik) secara fisik jelas Risma tentu cantik namun non fisiknyapun secara kasat mata juga apabila seseorang telah mengenalnya akan mengatakan dia memang cantik (inner beauty). Dengan semangat yang dia bangun, dengan ketahanan yang fisik dan psikis yang pernah dia hadapi, itu yang membuat aku semakin berfikir kecantikan dalamnya justru mengalahkan kecantikan luarnya. Dan semua itu justru yang terkadang mengecilkan hatiku dengan cercaan pertanyaan – pertanyaan aduan bathin.. “apakah aku cocok dengannya”? apakah aku tidak perlu berkaca kembali siapakah aku? Sehingga berani mendekatinya!!!? Secara fisik dan finansialpun aku sungguh payah.. Fisik yang pas–pasan dan finansial yang bermanajemen amburadul semakin melengkapi kebobrokan diriku.
Akhirnya aku hanya mampu menuangkan semua itu dengan bathin, karena memang untuk saat ini, saat dan kesempatan pertama ini entah aku menjadi terlalu bodoh, atau aku menjadi terlalu lemah untuk berbuat yang semestinya aku lakukan. Bukankah penembakan itu sebuah paket? Yakni sebuah paket kalo gak di terima ya di tolak..!!! Lalu mengapa aku harus bingung? Bukankah aku selalu sering mengumbar semangat ”aku bisa, karena itu jikalau tidak bisa!!! Maka itu bukan aku,...!!! lalu? Dimana semangat dan motto hidup yang dari dulu selalu kupegang itu? Hingga aku sekarang mampu keliling dunia? Dimana raibnya aku juga tak tahu ketika harus menghadapinya, haruskah aku kelak akan menyesal jikalau aku tak mencobanya? Bukankah seseorang pernah mengatakan bahwa semua orang pernah mengalami hal seperti ini, namun sangat sedikit orang yang mampu mengutarakannya dengan jelas. Aaah... aku cuman berharap kelak aku mampu dan aku tak menyesal walaupun apapun itu akhirnya menyenangkan ataupun menyakitkan....
Aku hanya bergumam dalam hati dengan rintihan...” Tuhan kenapa aku tak berani bertindak?
Malam semakin larut fikiranku juga semakin tak menentu bersama desiran AC dan selimut tebal hingga azan pagi berkumandang dan aku memulai aktifitas harianku kembali seperti biasa dengan kepala pusing karena kurang tidur.......

Jakarta, Januari 2nd 2019


Jumat, 24 Oktober 2008

Melihat salju

Cerita ini dikala mudik……..!!!
Suatu senja dikala mati lampu,
Diwaktu sedang baring – baring di depan tipi yang gak hidup-hidup..
Ditemani lilin kecil di atas meja yang redup dan mengkis-mengkis diterpa angin malam karena jendela memang gak aku tutup – tutup….

Berbaring dua anak manusia sesama jenis disebuah ambal dan kasur tipis, dua jenis yang sama (laki-laki) dari rahim yang sama seorang ibu, dan kebetulan sebuah saudara dan lagi – lagi satu orang adalah kakak, dan satu orang lagi adalah adiknya….
Sang kakak yang berbadan bongsor kata lain dari gemuk, sinonim dari kelebihan lemak lawan kata dari kurus, dan sang adik yang kurus kering dengan tampang yang gaul, dipadu dengan tulang – tulang iga yang nampak serta sebuah kaca mata minus yang jarang dilepasnya walaupun sedang berebahan dikasur depan tipi. Pemandangan yang sangat kontras jika dipandang dari tempat ketinggian satu meter dari permukaan kasur ,

Dalam diam,…
Kira – kira lima menit berselang,…
Sang adik memecah kesunyian dengan pertanyaan (boleh dikata sebuah permohonan)
“mas,..!!! biasanya cerita – cerita tentang kisah-kisah atau buku-buku yang dibaca, katanya dengan lugu, “Ceritain aku buku baru yang lagi ngetren pank…. “ Timpalnya lagi.
“Mau cerita apa”? sang kakak dengan sok bijak dan sok pinternya menjawab dengan gak ngawain… (padahal dari sononya gak pinter – pinter amat)
“Cerita tentang Sejarah islam? ,Cerita tentang sejarah dunia? Atau cerita tentang kisah laila majnun?” kata sang Kakak kembali menantang dengan pongahnya…
“terserah aja” lagi – lagi si adik gak ngeh bahwa kakanya cuman bercanda dengan tantangan cerita. namun sang kakak melanjutkan perkataannya dengan senyum tipis, “kalo sejarah islam ada dipelajaran agama, kalo sejarah dunia tanya sama guru sejarah dan kalo laila majnun ya mirip-mirip aja ama romeo dan juliet kok” dia menimpali dengan senyum canda…

“hu… kiraian….


Okelah, udah dengar cerita tentang laskar pelangi? Kata sang kakak kembali bertanya,
“belum” malah bilang ada filmnya ya ? si adik lagi – lagi malah bertanya balik,..
“iya siih, mau diceritain kisah itu”?
“ bolehlah..”

Singkat cerita….!!!
Diceritakanlah kisah buku karangan andrea hirata dengan versi sendiri sang kakak yang ngenjah-ngenjah lompat dari bab satu ke bab terakhir, kadang dari bab tengah ke bab awal lagi dan seterusnya (maklum versi saduran) tentang kisah ikal dan ke sebelas teman – temannya di sekolah Muhamaddiyah di belitung, yang saat ini masuk Kepuluan Riau…
Namun ada yang berbeda dari kisah itu, kisah ikal dan kisah lintang terlalu banyak disodorkan dalam versi sadurannya, itu terlihat sangat jelas bagi seseorang yang pernah membaca buku tersebut…

“Kasiannya ya lintang….”Kata si adik, trus dia bener – bener gak jadi ngelanjutin sekolah? Timpalnya lagi dengan muka sedikit sedih (sedikit sedih atau banyak, gak ada yang tau sebab lampu belum juga menyala).
Iya..!!! emang kenapa? Kamu kasian? Kata sang kakak,
” trus… “ kalo gitu gimana?” si kakak melanjutkan pertanyaan jebakan.
“ya… kasian aja, dia malah gak bisa menjawab, dan jawaban itu merupakan jawaban klasik setiap orang apabila bingung ngasih argument yang tepat…


“Tau maknanya” sang kakak dengan sok bijak menasehati.
“tau, agar kita selalu jangan patah semangatkan..!!! si adik menjawab dengan cepat..
“tull…. Tapi bukan hanya itu. “
“Lalu” apa aja ???

Itu mengatakan bahwa, kita jangan sampai menyia-nyaikan kesempatan, coba lihat lintang??!!! Begitu kerasnya kemauan, begitu cemerlangnya fikiran namun ketika benturan tembok kesempatan menghalang, maka dia tak dapat berbuat apa- apa..!!!

“lalu…!!!
Lihat kamu..!!! anak terakhir, gak ada tanggung jawab seperi lintang… kenapa gak bisa seperi ikal?
Tapi gak mudah, gak hanya santai - santai aja kerjaannya, perlu proses…

“tapi kan aku belajar nge band? Buktinya pemain band sukses..!!! sia adik menyanggah,
“yuupz.. memang banyak jalan bisa menuju roma, gak hanya belajar kimia atau fisika…, tapi semua harus dijalani dengan serius… lagi – lagi sang kakak berkata dengan sok bijak yang dipaksakan (he,,he,, padahal ketahuan dari orangnya gak bijak banget)

..”mas..!!! kita buat deal yuuuk..!!! kata si adik tiba-tiba.
Apaan? Perjanjian apa? Kakaknya gak ngeh dengan kata-kata yang barusan…
“kita buat deal dulu, mau gak..??
Ya deal apaan???
“mau gak//?? Mana kelingkingnya? Dia memaksa dengan dengan kata-kata.

Selang beberapa detik kelingking sang kakak bergandengan dengan kelingking sang adik, (kayak di tipi – tipi aja ya,,,..)

“Kita buat perjanjian, perjanjiannya yakni dulu – duluan liat salju..!!! kata si adik dengan lugu dan terbakar semangat…
Kok liat salju? Si kakak tambah bingung, Lha si ikal kan ke sorbone? Dia melanjutkan…

“Kalo kesorbone terlalu sempit cakupannya mas” kalo liat salju kan lebih besar dan luas he,,he,,
Bayangin…. Salju ada di Amerika,rusia, jepang dll..
Lha sorbone? Cuman di paris…
\
“Bayangin lagi…” kata sang adik lagi



“Ntar tak bayangin bentar” sang kakak memotong dengan bercanda..
“udah kubayangin nie..” kata sang kakak..

“Gini mas… kalo liat saljukan gak hanya belajar,,,” dia menambahkan
“kita juga bisa berlibur, atau kita cuman jalan-jalan atau kita ada tugas kantor dll…” katanya lagi

“atau juga bisa kalo kita jadi TKI” katanya dengan senyum, lumayan yang penting bisa liat salju dulu – duluan he,,he,,he,,,,

^&*((&^&%& toweeeng*&^%&*
)((*(
*&^^%%%^^&****

“Gak papalah….. Ngikut” kata sang kakak..

Sipersingkat lagi cerita….

Dua hari berselang…
Dipanas matahari yang terik,
Es di Kulkas udah pada mencair karena krisis listrik mengimbas ke dusun kecil ini…

“mei..” cari es yuuk..!!! sang kakak mengajak sang adik jalan..
Yuuk…!!! Disana mas ..< es campurnya enak” kata sang adik..

Yuuoooi..
Let’s go….

Di tempat maman es campur….

“lek… es campur dua ya” kata sang kakak memesan es ke lelek es campur…
Jangan lupa serutkan esnya aja, taruh si mangkok satu ya..” dia menambahkan perintah pesanan ke lelek es.

“buat apa mas?? Tanya si adik, dengan bingung, “gak enakkan kalo es serut aja..”
“ada deeeh” ntar aku kasih tau..”

Setelah es yang dipesan datang..

“mey.. sepertinya duluan aku ngeliat salju!!! Nie..!!! kata sang kakak,
“sori ini adalah saljuku..
“Aku harap engkau lanjutkan mimpimu”
“Dan aku harap saljumu bukan seperi saljuku yang hanya sebongkah es yang diserut dan diletakkan di sebuah mangkok” katanya menambahkah…

“ye….!!!%^&**^%$$

“masa Gitu doank nyerah” kata si adik..
&&^%$%$#$##@#$$$$%$
Toweeeeweweeweeeweeeng…..@##$$%

Kamis, 23 Oktober 2008

???

kok ngilang....?

woooi kemana?


ke kampung, dodol... Mudik.

?????


waaaah ketahuan nie, orang kampung ya?


ya iya lah...

masa ya iya donk...




Sabtu, 27 September 2008

Komentar sebuah "koment"

Inisial Anda terlalu besar untuk dipadankan dengan upaya untuk hidup ini. Anda sudah selayaknya memaksimalkan karya Anda untuk menjadi seorang pejuang sejati. Sebuah acara kumpul tanpa memberi value pada perubahan yang lebih besar tidak pantas dilakonin seorang yang menyandang inisial sang pejuang. Jangan cemari nama pejuang bila Anda belum mampu menjadi pejuang. Pola hidup seorang pejuang senantiasa penuh keseriusan dan maksimalisasi umur optimal bukan sebaliknya...

Ini adalah salah satu komentar yang paling menarik yang kudapat dari seorang teman yang kebetulan mampir ke blog ini, setelah beliau (yang terhormat) membaca postingan yang berjudul Toleransi Eksteren yang kutulis, beliau membubuhkan sedikit tandamata sebagai apresiasi dari tulisan cakar ayam dan menurutnya gak berbobot itu..
“aah sang pejuang marah tuh di kritik,..!!! kata seorang temen yang kebetulan ikut meng aprove komentar yang ada)…
Nasehat yang menarik dan membuat aku berfikir lebih positif. Mungkin saja ini adalah kritikan pedas bagiku. Namun apakah aku harus marah? Tunggu dulu..!!! mungkin saja seorang teman yang bijaksana tadi tak bermaksud begitu, dia pasti ingin aku lebih dewasa dalam menyikapi hidup yang menurutnya mungkin saja inisial ini terlalu berat bagi diriku yang tentu saja belum dia kenal
“kalo dikenal mungkin dia lebih sadis lagi membubuhkan tanda matanya tuuh..”, celetuk teman satu ruanganku lagi dengan tertawa terbahak – bahak
Namun aku mencoba menyikapai tulisan itu dari secara bijak, mari kita kaji lebih dalam per kalimat :
(kurang kerjaan buat apa sih…. Ya sekedar klarifikasilah)

(Inisial Anda terlalu besar untuk dipadankan dengan upaya untuk hidup ini. Anda sudah selayaknya memaksimalkan karya Anda untuk menjadi seorang pejuang sejati.)

Ketika membaca kalimat pertama ini yang timbul amarah sebenarnya bukan saya, justru teman saya, dia dengan semangat berapi–api (kayak api obor Pertamina Balikpapan, seperti itulah he,,he,,) mengatakan
“wuuui sadis banget dia tulis itu bro”, “emang dia siapa”?
“Apa dia perfect banget gitu bisa nulis gitu” katanya.
“Lhaa kok tanya aku “ kataku malah tanya balik kepadanya,
“kenapa mesti kau yang marah sih” kataku dengan cemberut,
“ntar dulu kita lihat sisi positifnya donk, “kalimat itu sungguh rasional kok” kataku sok bijak banget (padahal geram juga nie he,,he,,)
“trus argumentmu gimana donk? Katanya,….
“memang bagi anda (saudaraku yang membubuhkan tanda mata itu) inisial itu terlalu besar dan gak sepadan. Namun apakah salah dengan sebuah nama atau inisial? Nama atau inisial terkadang adalah doa dan atau adalah sebuah keinginan. Seperti ketika nama anda adalah “sri Bintang” mungkinkah anda bisa menjadi bintang dalam arti sesungguhnya? Atau apakah anda harus selalu bisa jadi bintang kelas/bintang olahraga/bintang sinetron/bintang film? Tidak bukan? Nama juga merupakan suatu harapan akan keinginan.. semisal anaknya “jannah” apakah anaknya itu merupakan surga? Tidak bukan..!!! disini sang ayah mengharapkan anaknya bisa menjadi hal yang meneduhkan bagi orang-orang di sekitarnya atau mengharapkan kelak anaknya bisa masuk surga.jadi apakah salah jika inisial sang pejuang digunakan dalam iniSIAL namaku? Apakah aku harus izin? Gak lah…
“Lalu…, “untuk koment yang hidup harus maksimal itu pank”? Kata temenku selanjutnya.
Aku kemudian beragument bahwa “Apakah kemaksimalan karya itu sendiri? Tidak ada batasan yang jelas suatu karya itu dapat dikatakan maksimal, suatu ketika teori mengatakan bahwa bumi adalah pusat tata surya, hal ini merupakan karya besar yang pada jaman dulu yang tak dapat diganggu gugat, namun apa daya ilmu pengetahuan mengatakan hal yang lain , lalu apakah teori itu bukan suatu karya yang hebat walaupun sekarang dianggap ketinggalan jaman..!!! demikian pula secarik kertas yang hanya bertuliskan kata “ I love you” pun akan sangat bermakna bagi seorang gadis apabila hal ini ditulis oleh seorang pemuda yang sangat diidam-idamkan oleh seorang gadis…. Kata kata “mama” juga bisa menjadi kebahagian yang besar bagi seorang ibu untuk sesuatu yang istimewa dikarenakan anak nya seorang yang gagu. Jadi kita sangat salah jika langsung menjustifikasi seseorang dengan karya- karyanya. Bisa jadi bagi kita karya itu tak berarti namun bisa jadi karya itu sangat berarti untuk orang lain. Bagaimana karya anda bisa dihargai oleh orang lain apabila anda tak mampu menghargai karya orang lain.
Saya mencoba sedikit berkomentar kepada saudaraku yang kebetulan membubuhkan sedikit tanda matanya di blog ini dengan kata- kata diatas alhasil dia tak mengaprove tulisan saya. Mungkin argument saya membuat dia marah. Itu menandakan kekerdilan seorang yang konon ingin dibilang seorang yang berjiwa besar. Kita mau mengkritik namun jangan lupa kita juga mau di kritik…
“ee..eee kok jadi marah sih”? Kata temenku.. “berarti kau juga gak terima dikritik nie…” dia melanjutkan..
“gak begitu bro..,” terbawa perasaan aja he,,he,,”…!!! aku tertawa ngakak.

(Sebuah acara kumpul tanpa memberi value pada perubahan yang lebih besar tidak pantas dilakonin seorang yang menyandang inisial sang pejuang.)

Mari kita simak kata-kata diatas, sangat tegas dan mantap tanpa tedeng aling – aling memberikan aku pengajaran yang penting. Namun aku sekali lagi ingin mengajukan argument tentang apa yang dia katakan..
“Alaaaaah…!! Sudahlah bro, ngapain gitu aja di tanggepin, bikin kerjaan aja” kata temenku “mau lebaran nie, kerjaanmu masih numpuk tuh he,,he,,” dia kembali tertawa menertawakan kekeranjinganku akan nasehat diatas.
Kita (Sebagian besar kita kalo bisa dibilang) sering melihat sesuatu dengan cara yang global, semisal kita sering mendengungkan bahwa
“islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari islam”
ketika kita diminta tolong untuk berbuat baik kita lupa bahwa itulah yang dimaksud dengan ketinggian islam, dengan ajarannya untuk berbuat baik bagi individu- individu pemeluk Islam, bukan hanya milik para ulama dan kyai. Islam adalah sesuatu yang global, dan value yang besar dapat diraih apabila dari hal – hal kecil itu dilakukan.
Kita tak akan bisa membelah gunung dengan langsung menendangnya. Kita perlu cangkul, kita perlu eksavator atau kita perlu buruh yang rela berpabas-panas demi membelah gunung yang besar itu.
Perubahan besar justru dilakukan dari hal – hal yang kecil bukan..?? sebuah kota tak akan bisa bersih apabila masyarakatnya masih membuang sampah sembarangan. Namun dari orang- orang yang membuang sampah tepat waktu dan pada tempatnyalah biasanya sebuah kota akan bersih.

“ Jangan cemari nama pejuang bila Anda belum mampu menjadi pejuang. Pola hidup seorang pejuang senantiasa penuh keseriusan dan maksimalisasi umur optimal bukan sebaliknya...”

Untuk hal ini secara berbesar hati aku hanya mampu mengucapkan mohon maaf yang sebesar- besarnya apabila inisial ini mencemari sesuatu yang menurut anda sakral (sesakral pancasila dijaman soeharto kali) namun saya harap di akhir kalimat anda perkataan itu sungguh menyedihkan hati saya dengan justifikasi yang begitu tajam dan tanpa perasaan. Kenapa anda yang bijak dapat menjustifikasi saya dengan hidup yang penuh ketidak seriusan?
“Sersan… serius santai…. Aja lah….” Temenku menambahkan”!!!
“Murid hanya bisa belajar pada mahaguru”… kata temenku sambil menundukkan badan seorah memberi hormat layaknya film – film kungfu china ikut mengomentari pendapatku dan ngeloyor pergi keluar kantor…

Selasa, 23 September 2008

aku mendukung RUU APP...!!!

Ketika seorang teman menanyakan kepadaku mengenai komentar tentang RUU APP maka dengan tegas kukatakan aku mendukung dengan RUU tersebut. Dia balik bertanya “apakah aku suka dengan penampilan cewek – cewek seksi yang berkeliaran dijalan- jalan kota ini? Maka dengan tegas tanpa tedeng aling –aling kukakatan bahwa aku juga menikmatinya. Dia boleh saja mendikteku dengan kata- kata muna dll.. namun dalam debat itu tetap saja aku dapat memberikan argument yang mengalahkan dia bahwa dukunganku itu proporsional dan cukup beralasan..
Ketika ditanya kepada diriku adanya dua kelompok penentang dan pendukung RUU APP tersebut maka aku dalam kelompok mana? (lagi - lagi menurut pendapat dia tentang klasifiksasi tersebut yang menentang dan mendukung.. kelompok penentang biasanya adalah kelompok yang mencerminkan dirinya kelompok penjaga budaya dan kelompok agama (dalam hal ini orang – orang islam putihan)) mendukung sepenuhnya adanya RUU APP tersebut. Maka dengan tegas kukatakan tidak ada kelompok– kelompok seperti yang dia katakan, terlalu sempit kukatakan kalau aku terkotak – kotak dengan pemikiran sempit orang – orang yang konon berpandangan luas seperti dia. Bagaimana tidak..!!! siapa yang berfikiran tentang pengkotakan tersebut? Adakah penelitian secara ilmiah bahwa yang mendukung adalah kelompok agama ekstrim dan penentang adalah kelompok budaya? Aku jawab dengan tegas bahwa aku bukan kelompok keduanya dan dua kelompok tersebut tidak ada dalam pandanganku dalam masalah iniArgumentku adalah bahwa aku berfikiran pragmatis dan praktis namun bukan berarti aku menghalalkan segala cara untuk hidupku.
Boleh jadi aku suka melihat cewek – cewek dengan tubuh seksi, namun apakah aku muna bila kukatakan aku mendukung RUU APP tersebut? Jika kita secara manusia kebanyakan dari golongan yang sepertiku yang berfikiran (sok) pragmatis dan (sok) proporsional maka akan sangat wajar.. Jika ada, kenapa gak dilihat? Lha wong keliaran dijalan–jalan kok,. Trus kalo ada aturan yang membuat suatu sistem lebih baik kenapa tidak!!! Bukankah kita hidup punya tugas dan tujuan. Tugas kita adalah menciptakan dunia ini lebih nyaman dan tujuan kita adalah kenyaman itu sendiri. Trus kenapa kalo gitu ndukung RUU APP tersebut?? Kilahnya lagi dengan senyum sinis dan sedikit senyum kemenangan. Apa jawabku? Balik kutanya ke padanya…” kita buat pengandaian.. kataku . “ seandainya adikmu atau ibumu berkelakuan gak nggenah apakah engkau gak malu? Atau istrimu atau anakmu berpenampilan seronok apakah engkau akan membiarkannya atau akan menegurnya? Kataku lebih lanjut… dia hanya mesam – mesem gak mau mengakui kebenaran yang kukatakan. Orang barat yang konon menggagungkan kebebasanpun akan marah jika anaknya berbuat demikian.
Sebagai orang beradab entah itu orang timur atau orang barat (menurutku gak ada bedanya) kita punya norma kesopanan, apakah ada yang tau artinya kesopanan disini? Bukannya sok pinter atau keminter menurut penafsiran yang dangkal seperti pemikiranku ini, norma kesopanan adalah norma dimana kita bisa membedakan kepatutan, kepatutan disini adalah bisa membedakan waktu dan tempat secara jelas. Kita bisa telanjang namun telanjang itu sepatutnya adalah ketika kita sedang mandi (kontek yang jelas yang lain boleh difikirkan lebih jauh asal patut, sebagimana asas kesopanan ini he,,he,,) namun apabila kita telanjang di jalan umum tentu saja meresahkan bukan?? Dalam Norma kesusilaan pun kita bisa berfikir dengan hati nurani kita, apakah patut kita telanjang didepan umum? Tentu bagi orang yang berhati nurani (kalo tidak gila) akan merasa malu dengan mengumbar aurat kita dikhalayak umum, “tapi kalo orang barat yang berpenampilan seksi itu pank” katanya selanjutnya , bahkan ada yang bertelanjang segala seperti di pantai kuta dll.. apakah dia gak beradap.?? Dia balik menyerangku.. boleh jadi menurut orang barat itu tidak mengganggu orang lain, namun apakah anda tidak terganggu dengan penampilannya? Apakah anda dapat berlaku cuek bebek? Kalo sok cuek iya… lha wonk aku juga beberapa kali singgah ke Bali, mencoba mengamati kelakuan diriku dan orang – orang disekelilingku yang lagi – lagi kukatakan sok cuek bebek dengan tingkah polah mereka. Aku katakan padanya bahwa cobalah kita berfikiran positif, kita semenjak dulu setelah jaman reformasi selalu berfikiran untuk mengkritik, dengan mencari kelemahan – kelamahan orang lain, cobalah kita sejenak berfikir jernih bahwa bagaimana dengan diri kita? Apakah dengan kritikan yang kadang ngawur kita bisa terima? Dan dengan kritik itu seandainya ditujukan kepada orang lain apakah dia juga menerimanya apabila kita sendiri tidak menerima? Itu semua harus kita fikirkan.
Lahirnya RUU APP tersebut tentunya diatar belakangi oleh orang – orang yang berfikiran jernih (bukan orang yang berfikiran ngeres yang kadang sengaja diputar balikkan oleh orang – orang yang berfikiran (sok) seni dan embel – embel lain – lain yang ngawur dan gak mendasar) akan keadaan generasi muda kita yang kian vulgar dengan mengesampingkan nilai – nilai moral agama dan adat yang katanya adat ketimuran. Aturan tersebut tentunya jangan dimakan secara mentah dan bulat – bulat. Dalam ilmu hukum tentu saja tidak seperti itu. Kita tahu dalam ilmu hukum ada istilah penafsiran hukum. Dalam hukum tentu hakim akan berfikir dengan logika yang masuk akal. Tidak akan sama penafsiran hukum antara orang yang berkemben atau berkoteka dengan orang yang sengaja mengumbar auratnya. Apakah sama orang yang memegang pisau di dapur dengan orang yang memegang pisau di stasiun kereta api? Tentu saja kita punya akal dan logika yang jelas. Manusia diberi kelebihan bisa memilah dan memilih, kita tidak diberi pilihan putih dan hitam saja. Kita diberi banyak warna untuk memilih bukan? Kita pernah mendengar bahwa yang di takutkan manusia bukan bagaimana komputer dapat berfikir seperti manusia tapi yang ditakutkan adalah apabila manusia dapat berfikiran seperti komputer, dimana yang ada hanya “yes dan No” lalu dimana arti tafsir? Dimana abu – abu yang kadang merupakan jalan tengah? Disinilah kebanyakan orang beranggapan tentang RUU APP ini, dia tidak memberikan keluwesan dalam arti luas, dia hanya saklek menagtakan bahwa RUU APP mengangkangi budaya..!! lalu yang di kangkakangi budaya yang mana? Apakah budaya di larang disini? Mari kita telaah lagi, apakah budaya kemben disini di larang? Apakah berkoteka di larang disini? Tidak dalam penafsiran hukum tidak seperti itu. Lalu kenapa kita harus mengakui hukum adat disamping hukum positif yang ada? Bukankah hukum adat masih diakui di negeri ini? Apakah adat budaya di kangkangi ketika hukum positif di jalankan? Tentu tidak bukan…!!!
(Apabila kepastian hukum di kaitkan dengan keadilan, maka akan kerap kali tidak sejalan satu sama lain. Adapun hal ini di karenakan di suatu sisi tidak jarang kepastian hukum mengabaikan prinsip- prinsip keadilan dan sebaliknya tidak jarang pula keadilan mengabaikan prinsip-prinsip kepastian hukum.Kemudian apabila dalam prakteknya terjadi pertentangan antara kepastian hukum dan keadilan, maka keadilan lah yang harus diutamakan. Alasannya adalah bahwa keadilan pada umumnya lahir dari hati nurani pemberi keadilan sedangkan kepastian hukum lahir dari sesuatu yang konkrit) Yahya AZ Keadilan Hukum VS Kepastian Hukum
Disini dijelaskan bahwa memang timbulnya peraturan atau undang – undang adalah untuk menciptakan kepastian hukum, namun diatas segalanya hakekat dari sebuah hukum adalah untuk menciptakan keadilan sejati dari semua proses yang ada. Demikian juga dengan RUU APP timbul, untuk memberikan kepastian hukum bahwa ada orang – orang tertentu yang sengaja memanfaatkan pornografi dan pornoaksi untuk tujuan tertentu, disinilah fungsi hukum, untuk keadilan bagi kita semua.

Jumat, 19 September 2008

Beda cinta ama suka

di posting dari email....

Dihadapan orang yang kau cintai,
musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah.
Dihadapan orang yang kau sukai,
musim dingin tetap saja musim dingin hanya suasananya lebih
indah sedikit.
Dihadapan orang yang kau cintai,
jantungmu tiba-tiba berdebar lebih cepat.
Dihadapan orang yang kau sukai,
kau hanya merasa senang dan gembira saja.


Apabila engkau melihat
kepada mata orang yang kau cintai, matamu berkaca-kaca.
Apabila engkau melihat
kepada mata orang yang kau sukai, engkau hanya tersenyum saja.

Dihadapan orang yang kau cintai,
kata-kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam.
Dihadapan orang yang kau sukai,
kata-kata hanya keluar dari pikiran saja.

Jika orang yang kau cintai menangis,
engkaupun akan ikut mengangis disisinya.
Jika orang yang kau sukai menangis,
engkau hanya menghibur saja.

Perasaan cinta itu dimulai dari mata,
sedangkan rasa suka dimulai dari telinga.
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang,
cukup dengan menutup telinga.
Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari orang yang kau
cintai, cinta itu berubah menjadi tetesan air mata dan terus
tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.
"Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta...
ada perasaan yang lebih mendalam.
Yaitu rasa sayang....
rasa yang tidak hilang secepat rasa cinta.
Rasa yang tidak mudah berubah.

Perasaan yang dapat membuatmu berkorban
untuk orang yang kamu sayangi.

Mau menderita
demi kebahagiaan orang yang kamu sayangi.

Cinta ingin memiliki.
Tetapi Sayang
hanya ingin melihat orang yang disayanginya bahagia..
walaupun harus kehilangan."